Ketua PP Muhammadiyah Dorong Semangat Keterbukaan di Persyarikatan

MUHAMMADIYAHSULSEL.OR.ID - MAKASSAR, 16 Juli 2020 - Ketua Pimpinan Pusat Muhammadiyah, Muhadjir Effendy, menegaskan bahwa gerakan Muhammadiyah harus senantiasa membuka diri dan tidak menjadi penghalang bagi masyarakat yang ingin bergabung atau merasakan manfaatnya. Penekanan ini disampaikan Muhadjir dalam sebuah kuliah tamu dan silaturahim bersama jajaran Pimpinan Universitas Muhammadiyah (Unismuh) Makassar.
Acara tersebut berlangsung di Ruang Rapat Senat, Lantai 17 Gedung Iqra, Unismuh Makassar. Dalam kesempatan itu, Muhadjir menggarisbawahi pentingnya Muhammadiyah untuk lebih inklusif. Ia mengingatkan agar tidak serta-merta membangun batasan, mengingat banyak individu menjalani proses bermuhammadiyah dalam perjalanan yang tidak singkat.
“Muhammadiyah harus lebih inklusif. Jangan segera membuat barikade karena banyak orang menjalani proses bermuhammadiyah dalam perjalanan yang panjang,” tegas Muhadjir, yang juga menjabat Menteri Koordinator Bidang Pembangunan Manusia dan Kebudayaan Republik Indonesia.
Dalam konteks perguruan tinggi, Muhadjir menjelaskan bahwa lingkungan kampus Perguruan Tinggi Muhammadiyah dan 'Aisyiyah (PTMA) bukan sekadar tempat berkumpulnya mereka yang telah memahami dan mengamalkan tradisi Muhammadiyah sejak awal. Sebaliknya, PTMA harus menjadi ruang terbuka bagi masyarakat dengan beragam latar belakang. Oleh karena itu, melalui pendidikan, interaksi akademik, keteladanan, serta pembinaan mahasiswa dan tenaga pendidik, sektor perguruan tinggi dapat memperkenalkan nilai-nilai Islam dan Muhammadiyah secara bertahap.
Ia mengenang pengalamannya saat memimpin Universitas Muhammadiyah Malang (UMM), di mana kampus tersebut menerima mahasiswa dari berbagai daerah, agama, tradisi, dan kondisi sosial tanpa diskriminasi. Menurutnya, keterbukaan semacam ini tidak menghilangkan identitas Muhammadiyah, melainkan justru memperluas jangkauan dakwah.
“Jadi Perguruan tinggi Muhammadiyah adalah sarana dakwah. Jangan sampai kita terlalu keras menetapkan standar sehingga orang lain tidak bisa masuk ke dalamnya,” pesan Muhadjir.
Semangat ini, lanjut Muhadjir, sejalan dengan cita-cita luhur Muhammadiyah yang tidak hanya melayani kelompok internal, tetapi juga menghadirkan nilai-nilai Islam sebagai rahmat bagi seluruh alam. Ia mencontohkan praktik inklusivitas yang telah diterapkan di rumah sakit Muhammadiyah, di mana pasien dilayani berdasarkan kebutuhan kemanusiaannya tanpa mempertanyakan kartu anggota organisasi, pilihan mazhab, atau latar belakang keagamaan.
Semangat serupa, menurut Muhadjir, perlu terus dipelihara dalam lembaga pendidikan. Kampus-kampus diharapkan memberikan pelayanan pendidikan terbaik kepada siapa pun, seraya memperkenalkan nilai-nilai Islam melalui praktik yang santun dan mencerahkan.
“Muhammadiyah jangan dibawa melewati jalan yang sempit. Banyak jalan untuk meraih dan mengajak masyarakat,” ujarnya. Ia menambahkan, “Semua berproses. Jangan segera menetapkan ukuran-ukuran ideal sebagai syarat awal bagi setiap orang,” imbuh mantan Rektor Universitas Muhammadiyah Malang itu.
Sebagai penutup, Muhadjir menyimpulkan bahwa kekuatan Muhammadiyah yang telah bertahan lebih dari satu abad tidak semata-mata dibangun melalui dakwah lisan atau ceramah, melainkan juga melalui pelayanan nyata yang dirasakan langsung oleh masyarakat. Amal usaha di bidang pendidikan, kesehatan, pelayanan sosial, hingga pemberdayaan masyarakat menjadi wajah dakwah Muhammadiyah yang paling dekat dengan kehidupan umat. Untuk itu, ia berharap seluruh PTMA terus memperkuat perannya sebagai pusat pendidikan yang inklusif sekaligus instrumen dakwah berkemajuan.
Sumber: Muhammadiyah.or.id
Artikel ini dipublikasikan di muhammadiyahsulsel.or.id. Bagikan untuk menyebarkan kebaikan.





