EMT Unismuh Periksa 80 Korban Gempa NTT di Dua Titik Pengungsian

MUHAMMADIYAHSULSEL.OR.ID, MANGGARAI TIMUR - Emergency Medical Team (EMT) Universitas Muhammadiyah Makassar memperluas layanan kesehatan bagi warga terdampak gempa di Kabupaten Manggarai Timur, Nusa Tenggara Timur. Pada hari ketiga penugasan, tim dari Sulawesi Selatan itu menjangkau dua titik pengungsian yang sebelumnya belum tersentuh layanan medis dan memeriksa total 80 pasien.
Pelayanan dilakukan pada Sabtu, 22 Agustus 2026, di Kampung Bawe, Kecamatan Elar/Sambi Rampas, serta Haju Wangi, Lamba Leda Utara. Dua lokasi ini menampung sekitar 130 pengungsi. Tim memberi pemeriksaan dokter, pengukuran tekanan darah, dan obat sesuai keluhan yang ditemukan di lapangan.
Di Kampung Bawe, EMT memeriksa 33 pasien dari sekitar 60 pengungsi. Keluhan yang paling banyak muncul meliputi myalgia, infeksi saluran pernapasan akut, hipertensi, diabetes melitus, dan gangguan pencernaan. Tim juga menemukan satu pasien dengan dugaan traumatic brain injury dan suspek fraktur basis cranii, lalu mengarahkan pasien tersebut ke Puskesmas Dampek untuk penanganan lanjutan meski rujukan akhirnya ditolak.
Sesudah itu, tim bergerak ke Haju Wangi dan melayani 47 pasien dari sekitar 70 pengungsi. Pola keluhannya relatif sama, menandakan kebutuhan medis dasar di kawasan pengungsian masih cukup tinggi. Kehadiran EMT penting karena kedua titik ini disebut belum pernah memperoleh fasilitas kesehatan sejak gempa terjadi.
Ketua EMT Unismuh Makassar, Dr. Muhammad Ihsan Kitta, Sp.OT(K), menegaskan alasan tim memperluas jangkauan layanan ke lokasi yang lebih terpencil. "Tempat pengungsian yang kami kunjungi belum pernah mendapatkan fasilitas kesehatan setelah terjadinya gempa. Di lokasi juga tidak ada aliran listrik," katanya.
Ihsan menjelaskan bahwa misi EMT tidak berhenti pada pemeriksaan keluhan ringan, tetapi juga menilai apakah ada pasien yang membutuhkan rujukan lanjutan. "Kami bergerak untuk menjangkau lokasi-lokasi yang memang membutuhkan pelayanan. Tim melakukan pemeriksaan, mengukur tekanan darah, memberikan pengobatan, sekaligus menilai apakah ada pasien yang membutuhkan penanganan atau rujukan lebih lanjut," ujarnya.
Bagi Unismuh Makassar, operasi kemanusiaan ini menunjukkan kontribusi nyata AUM Sulawesi Selatan dalam respons kebencanaan lintas daerah. Bantuan yang dibawa bukan sekadar simbolik, karena langsung diterjemahkan menjadi layanan kesehatan untuk pengungsi yang sebelumnya belum tersentuh layanan medis.
Pelayanan hari ketiga ini juga melanjutkan rangkaian misi EMT sejak keberangkatan dari Makassar pada 20 Agustus 2026. Setelah membantu penataan sistem posko dan pelayanan awal di titik lain, EMT kini mengarahkan tenaga dan obat-obatan ke kantong pengungsian yang aksesnya lebih terbatas, dengan prioritas pada warga yang paling membutuhkan intervensi kesehatan segera.
Sumber: Khittah.co
Artikel ini dipublikasikan di muhammadiyahsulsel.or.id. Bagikan untuk menyebarkan kebaikan.





