Syamsul Hidayat Raih Doktor di Unismuh lewat Riset Transformasi Pesantren Muhammadiyah

MUHAMMADIYAHSULSEL.OR.ID, MAKASSAR - Syamsul Hidayat resmi meraih gelar doktor di Universitas Muhammadiyah Makassar setelah mempertahankan disertasi tentang peningkatan mutu pesantren Muhammadiyah di Sulawesi Selatan. Capaian ini penting bukan hanya sebagai prestasi akademik pribadi, tetapi juga karena risetnya langsung menyoroti pembenahan kelembagaan pesantren Muhammadiyah di wilayah Sulsel.
Syamsul menjalani Sidang Terbuka Promosi Doktor Pendidikan Agama Islam di Unismuh Makassar pada Senin, 31 Agustus 2026. Disertasinya berjudul "Peran Lembaga Pengembangan Pesantren Muhammadiyah (LP2M) dalam Meningkatkan Mutu Pendidikan Pesantren Muhammadiyah di Sulawesi Selatan." Dari sidang itu, ia ditetapkan lulus dengan predikat cumlaude, menjadi doktor ke-50 yang dihasilkan Unismuh Makassar dan doktor ke-38 pada Program Studi Doktor Pendidikan Agama Islam.
Rektor Unismuh Makassar, Dr Ir H Abd Rakhim Nanda, MT, IPU, saat membacakan keputusan sidang menegaskan hasil akademik tersebut. "Syamsul Hidayat dinyatakan lulus dengan predikat cumlaude," katanya. Rektor juga menyebut Syamsul menuntaskan studi doktoralnya dalam 2 tahun 11 bulan 30 hari, dengan IPK 3,98 dan rata-rata nilai disertasi serta jawaban ujian promosi 94,10.
Nilai penting dari promosi doktor ini terletak pada substansi riset yang dihasilkan. Syamsul memotret perubahan tata kelola pesantren Muhammadiyah dari pola yang bertumpu pada figur menuju kelembagaan yang lebih berbasis sistem. Dalam disertasinya, perubahan itu ia rumuskan sebagai konsep "neo-pesantren Muhammadiyah", yaitu model yang menggabungkan tradisi pesantren dengan manajemen modern, penjaminan mutu, dan pengembangan sumber daya manusia yang lebih terukur.
Temuan tersebut relevan bagi Sulawesi Selatan karena penelitian ini berbicara langsung tentang peta dan masa depan pesantren Muhammadiyah di daerah. Syamsul mencatat pembinaan LP2M tidak berhenti pada regulasi, tetapi juga dijalankan melalui kunjungan lapangan, supervisi akademik, lokakarya, coaching, serta evaluasi berkala yang menyentuh kepemimpinan, kurikulum, SDM, keuangan, dan pembinaan karakter santri. Ia juga mengungkap bahwa sekitar 42 persen guru pesantren yang dipetakan belum memiliki sertifikasi kompetensi pedagogik, sehingga ada kebutuhan nyata untuk pelatihan yang lebih terarah.
Promotor Syamsul, Prof Dr H Bahaking Rama, MS, menegaskan arti strategis hasil riset tersebut bagi Persyarikatan. "Pesantren ini adalah masa depan Muhammadiyah," ujarnya. Pesan itu memperjelas bahwa promosi doktor ini tidak berhenti sebagai seremoni akademik, tetapi menyumbang bahan pikir bagi pengembangan lembaga kaderisasi dan pendidikan Muhammadiyah.
Jejak organisasi Syamsul juga membuat capaian ini punya bobot tersendiri bagi Sulawesi Selatan. Ia pernah menjadi Ketua Umum PW IPM Sulsel periode 2016-2018, setelah sebelumnya memimpin PD IPM Gowa. Saat ini ia juga aktif di lingkungan Muhammadiyah Sulsel dan mengabdi sebagai guru di Labschool SMP Unismuh Makassar. Dengan latar itu, promosi doktor ini menunjukkan kesinambungan antara kaderisasi Muhammadiyah, pengembangan keilmuan, dan kontribusi nyata pada penguatan sistem pendidikan Persyarikatan.
Bagi Unismuh Makassar, kelulusan Syamsul menambah bukti bahwa program doktor di kampus ini tidak sekadar menghasilkan gelar, tetapi juga riset yang terhubung dengan kebutuhan kelembagaan Muhammadiyah. Bagi pesantren Muhammadiyah di Sulawesi Selatan, hasil disertasi ini memberi dasar akademik untuk memperkuat mutu pendidikan, tata kelola, dan pengembangan model pesantren yang tetap berakar pada tradisi, tetapi lebih siap menjawab tuntutan zaman.
Sumber: Khittah.co
Artikel ini dipublikasikan di muhammadiyahsulsel.or.id. Bagikan untuk menyebarkan kebaikan.





