Delegasi Belanda Apresiasi Pendekatan Muhammadiyah untuk Perdamaian dan Kebebasan Beragama

MUHAMMADIYAHSULSEL.OR.ID - JAKARTA, 8 Juli 2024 -
Kedutaan Besar Kerajaan Belanda telah menyampaikan penghargaan atas upaya Muhammadiyah dalam mempromosikan perdamaian melalui kegiatan lingkungan yang melibatkan berbagai komunitas agama. Pendekatan yang diusung ini dianggap berhasil menciptakan wadah kolaborasi yang konkret bagi masyarakat dari beragam latar belakang keyakinan untuk bekerja sama, sekaligus memperkokoh prinsip kebebasan beragama atau berkeyakinan (Freedom of Religion or Belief/FoRB). Apresiasi ini disampaikan dalam kunjungan delegasi Belanda ke Pimpinan Pusat (PP) Muhammadiyah di Gedung Dakwah PP Muhammadiyah, Jakarta, pada Rabu (8/7).
Dalam pertemuan tersebut, Eco Bhinneka Muhammadiyah bertindak sebagai fasilitator diskusi bertajuk "Building Peace through Interfaith Collaboration" yang berlangsung di kantor PP Muhammadiyah. Delegasi Belanda dipimpin oleh Duta Besar dan Utusan Khusus untuk Kebebasan Beragama atau Berkeyakinan, HE Paul Bekkers, didampingi oleh Zilla Boyer selaku Sekretaris Kedua Urusan Politik, serta Edwin Arifin sebagai Penasihat Kebijakan Senior. Sementara itu, dari pihak Muhammadiyah hadir Direktur Eco Bhinneka Muhammadiyah Hening Parlan, Ketua Himpunan Difabel Muhammadiyah (HIDIMU) Fajri Hidayatullah, serta sejumlah perwakilan dari komunitas muda lintas iman Eco Bhinneka Muhammadiyah.
Membangun Perdamaian Lewat Aksi Bersama
Hening Parlan, Direktur Eco Bhinneka Muhammadiyah, menjelaskan bahwa program yang dipimpinnya sejak awal menempatkan dialog sebagai fondasi untuk membangun rasa saling percaya. Menurutnya, perdamaian diwujudkan melalui kerja sama dalam mengatasi berbagai isu yang dihadapi masyarakat. Oleh karena itu, persoalan lingkungan dipilih sebagai area pertemuan bersama. Melalui kegiatan seperti pengelolaan sampah, upaya konservasi, pemberdayaan perempuan, hingga transisi energi, individu dari berbagai agama dapat berkolaborasi tanpa terhalang perbedaan identitas.
Selama enam tahun terakhir, pendekatan ini telah diterapkan dan berkembang di berbagai wilayah. Salah satu contohnya adalah pendampingan di SMA Muhammadiyah Conservation di Manokwari, di mana siswa dari beragam keyakinan belajar bersama untuk melestarikan lingkungan. Eco Bhinneka Muhammadiyah juga mengembangkan pendekatan ekofeminisme, mempertemukan tokoh agama dan generasi muda lintas iman, serta menginisiasi Gerakan 1000 Cahaya untuk mendorong efisiensi dan transisi energi di masjid, sekolah, pesantren, serta cabang dan ranting Muhammadiyah.
Indonesia Menjadi Ruang Belajar
Dalam sesi dialog, Paul Bekkers menekankan bahwa kebebasan beragama atau berkeyakinan adalah bagian integral dari hak asasi manusia. Ia menyatakan bahwa setiap individu berhak untuk memeluk, menjalankan, atau berpindah keyakinan tanpa menghadapi diskriminasi. Bekkers berpandangan bahwa pengalaman Eco Bhinneka Muhammadiyah membuktikan bahwa dialog lintas iman akan menjadi lebih bermakna apabila diimplementasikan dalam bentuk aksi bersama yang melibatkan partisipasi masyarakat, khususnya generasi muda.
"Indonesia memiliki pengalaman yang sangat berharga. Ketika orang-orang dari berbagai agama bekerja bersama, mereka tidak hanya saling mengenal, tetapi juga membangun kepercayaan. Pengalaman seperti ini penting untuk terus diperkuat," ujar Paul Bekkers.
Pengalaman dan praktik baik yang berkembang melalui Program Joint Initiative for Strategic Religious Action (JISRA) menunjukkan bahwa kolaborasi lintas iman memiliki potensi besar untuk memperkuat kebebasan beragama atau berkeyakinan. Hal ini sekaligus menegaskan komitmen Pemerintah Kerajaan Belanda untuk melanjutkan kerja sama dalam penguatan FoRB di Indonesia. Senada dengan Bekkers, Zilla Boyer menambahkan bahwa Indonesia kaya akan praktik-praktik baik dalam membangun masyarakat yang inklusif. Menurutnya, pengalaman-pengalaman tersebut menjadi pelajaran penting bagi banyak negara lain yang juga menghadapi tantangan dalam memelihara keberagaman.
Dari Keraguan Menjadi Ruang Bertumbuh
Dialog ini juga menampilkan kisah Kristina Damayanti, anggota komunitas anak muda lintas iman Sederek Eco Bhinneka dari Surakarta, yang berasal dari Gereja Kristen Indonesia (GKI). Melalui partisipasinya di Eco Bhinneka Muhammadiyah, ia menemukan kesempatan untuk belajar, menjalin persahabatan, dan berkolaborasi dengan generasi muda dari beragam latar belakang.
"Di Eco Bhinneka saya belajar bahwa merawat lingkungan bisa menjadi cara untuk saling mengenal dan bekerja sama meski berbeda agama," tutur Damay.
Ghifari Misbahudin, perwakilan komunitas anak muda lintas iman, turut menyampaikan pandangannya bahwa kebebasan beragama atau berkeyakinan di Indonesia masih menghadapi berbagai tantangan. Oleh karena itu, ia menilai pentingnya komitmen bersama untuk terus menciptakan ruang-ruang yang aman, inklusif, dan mempertemukan masyarakat dari berbagai latar belakang. Ia mengapresiasi Eco Bhinneka Muhammadiyah yang telah berhasil mewujudkan ruang tersebut melalui kolaborasi lintas iman dalam upaya pelestarian lingkungan.
"Perubahan iklim tidak memilih korbannya. Karena itu, merawat bumi menjadi ruang bersama untuk saling mengenal, bekerja sama, dan membangun kepercayaan," kata Ghifari.
Fajri Hidayatullah, Ketua Himpunan Difabel Muhammadiyah (HIDIMU), menegaskan bahwa semangat persaudaraan dan kebebasan beragama atau berkeyakinan harus menjamin kelompok difabel memiliki kesempatan yang setara untuk berpartisipasi. Bersama Eco Bhinneka Muhammadiyah, HIDIMU terus mengupayakan terwujudnya rumah ibadah yang ramah difabel serta memperluas ruang partisipasi kelompok difabel dalam berbagai aspek kehidupan.
"Penguatan kebebasan beragama atau berkeyakinan tidak hanya tentang rumah ibadah, tetapi juga memastikan kelompok difabel dapat berpartisipasi dalam berbagai aspek kehidupan," ujar Fajri.
Pertemuan ini mengukuhkan komitmen Muhammadiyah dan Kedutaan Besar Kerajaan Belanda untuk terus memperkuat kerja sama dalam membentuk masyarakat yang damai dan inklusif. Melalui kolaborasi lintas iman, kedua belah pihak meyakini bahwa penguatan kebebasan beragama atau berkeyakinan dapat berjalan seiring dengan upaya menjaga bumi sebagai rumah bersama.
Sumber: Muhammadiyah.or.id
Artikel ini dipublikasikan di muhammadiyahsulsel.or.id. Bagikan untuk menyebarkan kebaikan.





