Analisis Dosen Unismuh Makassar: Spanyol Diunggulkan Tipis Hadapi Argentina di Final Piala Dunia

MUHAMMADIYAHSULSEL.OR.ID - MAKASSAR, 19 Juli 2024 - Puncak gelaran Piala Dunia 2026 akan mempertemukan dua raksasa sepak bola, Spanyol dan Argentina, dalam laga final yang diprediksi berlangsung sengit. Pertandingan krusial ini dijadwalkan berlangsung di New York/New Jersey Stadium, East Rutherford, Amerika Serikat, pada Senin, 20 Juli 2026, pukul 03.00 WITA. Spanyol berambisi meraih gelar keduanya setelah sukses pada 2010, sementara Argentina berupaya mempertahankan mahkota juara dan mengukir sejarah sebagai negara pertama yang menjuarai Piala Dunia secara beruntun sejak Brasil pada 1962.
Menjelang duel akbar tersebut, Dosen Pendidikan Kepelatihan Olahraga (PKO) Universitas Muhammadiyah (Unismuh) Makassar, Syamsul Bakri, M.Pd., memberikan analisis mendalam. Menurutnya, final ini bukan sekadar adu kekuatan antara talenta muda Spanyol dan pengalaman ikonik Lionel Messi bersama tim Argentina. Syamsul melihat pertandingan ini sebagai benturan filosofi antara Spanyol yang piawai mengendalikan jalannya laga dan Argentina yang lihai menciptakan momen penentu.
"Spanyol lebih unggul dalam kestabilan sistem permainan, sedangkan Argentina mempunyai daya ledak, pengalaman, dan kemampuan mengubah pertandingan dalam satu momen. Karena itu, Spanyol dapat menjadi favorit, tetapi keunggulannya sangat tipis," ungkap Syamsul. Berdasarkan performa kedua tim sepanjang turnamen, ia memperkirakan Spanyol memiliki peluang 58 persen untuk menjadi juara, berbanding 42 persen untuk Argentina. Namun, Syamsul mengingatkan bahwa angka tersebut hanyalah probabilitas analitis, bukan jaminan hasil akhir. Berbagai faktor tak terduga seperti kartu merah, penalti, kesalahan individual, bola mati, atau aksi brilian seorang pemain dapat mengubah arah pertandingan.
Spanyol Unggul dalam Stabilitas
Syamsul Bakri menguraikan bahwa kekuatan utama Spanyol tidak hanya terletak pada dominasi penguasaan bola. Tim asuhan Luis de la Fuente memiliki kemampuan mengatur area kehilangan bola, menjaga jarak antarpemain, serta segera melancarkan tekanan balik saat bola berpindah ke lawan. Statistik menunjukkan superioritas Spanyol dengan 13 gol dan hanya satu kali kebobolan sepanjang turnamen, termasuk enam pertandingan tanpa kebobolan. Di sisi lain, Argentina tampil lebih produktif dengan 19 gol, namun telah kemasukan tujuh gol.
"Statistik tersebut memperlihatkan dua profil yang berbeda. Spanyol mencapai final dengan mengurangi risiko, sedangkan Argentina melaju dengan meningkatkan produksi serangan," jelas Syamsul. Dalam pertandingan final, stabilitas pertahanan seringkali menjadi kunci karena kedua tim cenderung bermain lebih hati-hati. Satu gol saja dapat mengubah pendekatan taktis, psikologis, dan tempo permainan secara drastis.
Spanyol juga menerapkan pertahanan aktif melalui penguasaan bola. Rodri berperan sebagai poros keseimbangan, didukung oleh Pedri, Fabián Ruiz, dan Dani Olmo yang menjaga kedekatan antarlini. Struktur ini memastikan pemain Spanyol tidak perlu berlari jauh untuk merebut bola kembali, sehingga serangan balik lawan lebih mudah diredam sebelum mencapai area pertahanan. "Pertahanan Spanyol bukan pertahanan pasif. Mereka bertahan dengan menguasai ruang, menutup jalur umpan, dan memastikan pemain berada dalam jarak yang ideal ketika bola hilang," tambah Syamsul.
Argentina Perlu Membuat Pertandingan Lebih Terbuka
Meskipun Spanyol menunjukkan stabilitas yang mengesankan, Syamsul menilai Argentina memiliki strategi jelas untuk meraih kemenangan. Tim besutan Lionel Scaloni harus menghindari skenario pertandingan yang sepenuhnya didikte oleh tempo dan struktur Spanyol. Argentina perlu lebih banyak menciptakan duel, memenangkan bola kedua, melakukan transisi cepat, dan memanfaatkan situasi bola mati. Semakin terbuka dan tidak terstruktur pertandingan, semakin besar peluang Argentina untuk memaksimalkan kreativitas Messi dan agresivitas para penyerangnya.
"Argentina tidak boleh hanya menunggu Messi melewati tiga atau empat pemain. Messi harus ditempatkan sebagai pengatur arah dan tempo serangan. Pergerakan Julián Álvarez atau Lautaro Martínez diperlukan untuk menarik bek Spanyol dan membuka ruang di depan kotak penalti," terang Syamsul. Ia memprediksi Argentina akan menggunakan penyerangnya untuk menekan garis pertahanan Spanyol. Ketika bek tengah Spanyol mundur mengikuti pergerakan penyerang, Messi dapat turun menerima bola di antara lini tengah dan pertahanan. Dari posisi tersebut, Messi berpotensi mengirim umpan vertikal, mengalihkan bola ke sisi lapangan, atau melepaskan tembakan dari luar kotak penalti.
"Pertanyaan utamanya bukan apakah Messi akan mendapatkan bola. Ia pasti akan menyentuh bola. Pertanyaannya adalah di wilayah mana Spanyol membiarkannya menerima bola," kata Syamsul. Apabila Messi dipaksa menerima bola jauh dari gawang dan membelakangi arah serangan, ancamannya dapat diminimalisir. Namun, jika ia menerima bola dengan posisi menghadap gawang di depan lini pertahanan, Argentina berpeluang besar menciptakan situasi berbahaya.
Duel Rodri dan Ruang Gerak Messi
Salah satu pertarungan kunci di lapangan, menurut Syamsul, akan terjadi di sekitar posisi Rodri. Gelandang Spanyol ini memiliki tugas ganda: mengendalikan sirkulasi bola timnya sekaligus membatasi ruang gerak Messi. Rodri tidak harus selalu menjaga Messi secara individual, melainkan fokus menutup jalur umpan dan memastikan Messi tidak mudah berbalik menghadap gawang.
"Kalau Argentina mampu membuat Rodri berlari ke belakang dan terus menghadap ke gawangnya sendiri, keseimbangan Spanyol dapat terganggu. Sebaliknya, kalau Rodri bebas menghadap ke depan, Spanyol akan lebih mudah mengontrol pertandingan," jelasnya. Syamsul menambahkan bahwa penjagaan individual terhadap Messi justru berisiko merusak struktur pertahanan Spanyol, karena dapat membuka ruang bagi pemain Argentina lain seperti Enzo Fernández atau Alexis Mac Allister. Oleh karena itu, Spanyol kemungkinan akan mengandalkan penjagaan zonal, di mana pemain terdekat akan menekan Messi sementara rekan setimnya menutup jalur umpan berikutnya.
Yamal Dapat Mengubah Bentuk Pertahanan Argentina
Di sisi Spanyol, Argentina harus memberikan perhatian ekstra kepada Lamine Yamal. Pemain muda ini tidak hanya berbahaya dengan kemampuan menggiring bola dan melepaskan tembakan, tetapi juga mampu memaksa pertahanan lawan mengubah bentuk. Ketika Yamal bergerak melebar di sisi kanan, bek kiri Argentina akan terpaksa keluar dari posisinya, menciptakan dilema bagi gelandang Argentina: membantu menjaga Yamal atau mempertahankan kepadatan di lini tengah.
Apabila gelandang ikut melebar, Rodri dan Pedri akan mendapatkan ruang lebih besar di tengah. Namun, jika bantuan tidak diberikan, Yamal akan memiliki kesempatan menghadapi bek dalam situasi satu lawan satu. "Nilai taktis Yamal tidak hanya terlihat dari jumlah gol atau assist. Kehadirannya dapat menarik dua pemain sekaligus dan membuka ruang bagi rekan setimnya," kata Syamsul. Kerja sama Yamal dengan bek kanan Spanyol juga dapat menciptakan pola serangan yang beragam, baik saat Yamal tetap melebar atau bergerak ke tengah saat bek kanan melakukan overlap. Argentina perlu menjaga komunikasi antarpemain agar tidak terjadi keterlambatan dalam pergantian penjagaan.
Pengalaman Argentina Menjadi Faktor Penting
Meski Spanyol lebih stabil, Syamsul menilai Argentina memiliki keunggulan psikologis yang signifikan. Sejumlah pemain Argentina telah berpengalaman menghadapi tekanan final Piala Dunia dan pertandingan eliminasi berintensitas tinggi. Argentina juga telah menunjukkan kemampuan untuk bangkit dari situasi sulit, seperti saat mereka tertinggal di semifinal melawan Inggris sebelum akhirnya memenangkan pertandingan.
"Argentina mempunyai kemampuan untuk tetap hidup meskipun pertandingan tidak berjalan sesuai rencana. Pengalaman tersebut sangat berharga dalam final," ujarnya. Sebaliknya, Spanyol belum banyak menghadapi kondisi tertinggal sepanjang turnamen, yang menunjukkan dominasi mereka, namun juga menyisakan pertanyaan mengenai respons tim jika Argentina mencetak gol lebih dulu.
Menurut Syamsul, Argentina akan menjadi semakin berbahaya jika skor tetap imbang setelah menit ke-70. Pada fase ini, pertandingan dapat berubah menjadi perebutan bola kedua, umpan silang, duel fisik, serta tekanan di sekitar kotak penalti. Masuknya pemain seperti Lautaro Martínez juga memungkinkan Argentina meningkatkan jumlah pemain di area penyelesaian. "Semakin lama skor imbang bertahan, kepercayaan diri Argentina dapat meningkat. Mereka terbiasa memainkan pertandingan yang ditentukan pada menit akhir atau melalui situasi tekanan tinggi," katanya.
Spanyol Diuntungkan Kondisi Fisik
Syamsul menambahkan, Spanyol memiliki sedikit keuntungan dari aspek pemulihan fisik. Spanyol memainkan semifinal satu hari lebih awal dibandingkan Argentina, dan Argentina juga sempat menjalani pertandingan hingga perpanjangan waktu pada fase sebelumnya. Perbedaan ini mungkin tidak terlalu terlihat di awal pertandingan, namun dapat memengaruhi intensitas pressing dan kecepatan menutup ruang setelah menit ke-60.
"Dalam pertandingan elite, kelelahan tidak selalu terlihat dari pemain yang berhenti berlari. Kelelahan dapat terlihat dari keterlambatan sepersekian detik saat menekan, jarak antarlini yang melebar, atau keputusan melakukan pelanggaran karena terlambat mencapai bola," jelas Syamsul. Spanyol dapat memanfaatkan kondisi ini dengan terus memindahkan bola dari satu sisi ke sisi lain, tidak hanya untuk mencari ruang serangan, tetapi juga untuk memaksa pemain Argentina melakukan pergeseran berulang yang menguras fisik.
Prediksi Pertandingan Berlangsung Ketat
Syamsul memperkirakan Spanyol akan lebih banyak menguasai bola, sementara Argentina kemungkinan memilih blok pertahanan menengah dan menunggu kesempatan melancarkan serangan balik. Spanyol diprediksi tidak akan terburu-buru memaksakan umpan ke kotak penalti, melainkan akan berusaha menggerakkan pertahanan Argentina sebelum mengirimkan bola kepada Yamal, Olmo, Pedri, atau pemain yang bergerak dari lini kedua. Sementara itu, Argentina akan mencari peluang melalui transisi, bola mati, dan kombinasi cepat di sekitar Messi.
"Skor kemungkinan tetap ketat. Prediksi yang paling masuk akal adalah Spanyol menang 1-0 atau pertandingan berakhir 1-1 dalam waktu normal," ungkapnya. Apabila pertandingan berlanjut ke adu penalti, Syamsul menilai peluang kedua tim menjadi semakin seimbang. Argentina memiliki pengalaman lebih besar dalam menghadapi tekanan pertandingan eliminasi, termasuk keberadaan kiper Emiliano Martínez.
Namun, secara keseluruhan, Syamsul tetap menempatkan Spanyol sebagai favorit tipis. "Spanyol mempunyai proses permainan yang lebih stabil, pertahanan yang lebih konsisten, dan kontrol ruang yang lebih baik. Argentina mempunyai pengalaman serta pemain yang dapat menentukan pertandingan dalam satu sentuhan. Pilihan saya tetap Spanyol, tetapi final ini bisa berubah hanya karena satu momen," pungkasnya.
Sumber: Khittah.co
Artikel ini dipublikasikan di muhammadiyahsulsel.or.id. Bagikan untuk menyebarkan kebaikan.





