Silsilah Kiai Dahlan Rais: Terungkap Jejak Keturunan Ulama Gombong

MUHAMMADIYAHSULSEL.OR.ID - KEBUMEN, Sebuah fakta menarik mengenai latar belakang Ketua Pimpinan Pusat (PP) Muhammadiyah, Ahmad Dahlan Rais, terungkap dalam acara Kick Off CRM Award VII. Acara yang berlangsung di Unimugo, Kabupaten Kebumen pada Ahad (19/7) tersebut menyingkap bahwa Dahlan Rais merupakan seorang "Gus", sebuah panggilan kehormatan bagi keturunan ulama.
Kiai Tafsir, Ketua Pimpinan Wilayah Muhammadiyah (PWM) Jawa Tengah, adalah sosok yang pertama kali mengungkapkan informasi ini. Ia menjelaskan bahwa gelar "Gus" disematkan kepada Ahmad Dahlan Rais karena beliau adalah zuriyah atau cucu dari pemuka agama Islam terkemuka asal Gombong, Mbah Kiai Wiriosoedarmo. "Pak Dahlan ini adalah Gus, nama kakek beliau ini kemudian diabadikan menjadi nama pondok pesantren. Pondok Pesantren Wiriosoedarmo Gombong," ujar Kiai Tafsir.
Menanggapi pengungkapan tersebut, Ahmad Dahlan Rais merespons dengan nada humor. Ia berkelakar bahwa selain pernah menjadi "Gus" dalam artian "bagus" di masa mudanya, ia juga memiliki banyak gelar "wali". "Sekitar puluhan tahun lalu saya memang masih Gus, masih bagus, karena itu Bu Dahlan saya lamar mau. Lalu bagaimana dengan wali?, wah saya malah banyak dipangil wali," seloroh Dahlan Rais. Ia kemudian merinci gelar "wali" yang dimaksud, seperti wali murid, wali kelas, wali santri, serta berbagai amanah yang diemban sebagai "wali".
Lebih lanjut, Ahmad Dahlan Rais sedikit mengisahkan tentang kakeknya, Kiai Wiriosoedarmo. Beliau menyebut bahwa Kiai Wiriosoedarmo lahir di Karangmojo dan memiliki peran penting sebagai salah satu pendiri Muhammadiyah, sekaligus pengembang persyarikatan di wilayah Gombong pada masanya. "Tentu ini selalu menjadi kebanggaan bagi kami," ungkapnya.
Tidak hanya Ahmad Dahlan Rais, Kiai Tafsir juga menyebut Ketua Pimpinan Cabang Muhammadiyah (PCM) Gombong, Mohammad Yahya Fuad, sebagai "Gus Fuad". Gelar ini diberikan karena Mohammad Yahya Fuad merupakan putra dari Kiai Abu Dardiri. Kiai Abu Dardiri sendiri dikenal sebagai ulama pejuang yang berjasa besar sebagai salah satu pengusul utama lahirnya Kementerian Agama Republik Indonesia. Selain itu, beliau juga memimpin Muhammadiyah Banyumas selama 33 tahun, dari tahun 1930 hingga 1963, dan dikenal sebagai seorang dermawan.
Sumber: Muhammadiyah.or.id
Artikel ini dipublikasikan di muhammadiyahsulsel.or.id. Bagikan untuk menyebarkan kebaikan.





