Agung Danarto di Darul Arqam Unismuh Makassar: Ideologi Muhammadiyah Wujudkan Rahmat dan Keadilan Sosial

MUHAMMADIYAH SULSEL, MAKASSAR - MAKASSAR: Dr. Agung Danarto, Ketua Pimpinan Pusat Muhammadiyah, menegaskan bahwa ideologi Muhammadiyah tidak boleh berhenti pada pemahaman tekstual semata. Ideologi ini, menurutnya, harus bertransformasi menjadi kekuatan pendorong bagi seluruh warga persyarikatan dalam membangun kehidupan beragama, bermasyarakat, dan berbangsa. Pesan penting ini disampaikan Agung saat menjadi narasumber dalam acara Darul Arqam Universitas Muhammadiyah (Unismuh) Makassar pada Jumat, 22 Mei 2026. Kegiatan penguatan ideologi dan organisasi bagi sivitas akademika Unismuh ini berlangsung di Balai Sidang Muktamar, Kampus Unismuh Makassar.
Dalam pemaparannya, Agung menguraikan ideologi Muhammadiyah melalui tiga lapis pemahaman, yaitu teks, konteks, dan kontekstualisasi. Ia menjelaskan bahwa pemahaman teks ideologi sangat penting, namun tidak akan cukup jika tidak diaktualisasikan dalam realitas sosial yang terus berkembang. Tauhid ditempatkan sebagai dasar utama gerakan Muhammadiyah, yang darinya kemudian lahir kesadaran akan kesetaraan manusia, etos kerja keras, penghargaan terhadap waktu, serta dorongan untuk terus melakukan pembaruan. "Kesetaraan ini juga basis dari tauhid. Kemudian kerja keras, menghormati waktu, dan lain sebagainya juga basis dari bertauhid ini," ujar Agung.
Agung juga mengulas sejarah kehadiran Muhammadiyah pada awal abad ke-20. Ia menyebutkan bahwa berdirinya persyarikatan tidak terlepas dari kondisi umat Islam saat itu yang terbelakang akibat kebodohan, minimnya literasi keilmuan, penjajahan, dan praktik kemusyrikan. Oleh karena itu, tajdid Muhammadiyah sejak awal berfokus pada pemurnian tauhid dan pencerahan akal budi.
Lebih lanjut, Ketua PP Muhammadiyah itu menekankan bahwa manusia dalam pandangan Muhammadiyah adalah makhluk sosial. Kesalehan individu tidak boleh berhenti pada diri sendiri, melainkan harus meluas menjadi upaya kolektif untuk menyelamatkan keluarga, lingkungan, kampus, dan masyarakat luas. "Kalau mau masuk surga jangan sendirian. Masuk surga usahakan bersama dengan keluarga, usahakan bersama dengan lingkungan sekitar," pesannya.
Dalam konteks ini, Agung membedakan konsep insan kamil Muhammadiyah dengan pandangan sufistik yang cenderung menjauhi dunia. Bagi Muhammadiyah, manusia utama bukanlah mereka yang mengasingkan diri dari kehidupan sosial, melainkan mereka yang tetap berinteraksi di tengah masyarakat dengan berpedoman pada nilai-nilai tauhid. Warga Muhammadiyah, kata Agung, diperbolehkan memiliki keluarga, harta, dan cita-cita duniawi. Namun, semua itu harus diarahkan untuk kemuliaan Islam dan kemaslahatan umat, seperti mendirikan sekolah, membangun masjid, memberi makan anak yatim, dan menolong kaum miskin.
Mengenai posisi Muhammadiyah dalam kehidupan berbangsa, Agung Danarto menjelaskan bahwa Muhammadiyah telah menerima Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI) sebagai Darul Ahdi wa Syahadah. Ini adalah negara hasil kesepakatan bersama yang wajib diisi dengan kesaksian dan kerja nyata. "Muhammadiyah mengakui bahwasannya NKRI itu sebagai hasil kesepakatan seluruh elemen bangsa. Dan ini bisa dipakai sebagai alat untuk memperjuangkan keadilan, kesejahteraan, persamaan," ungkapnya. Meski demikian, penerimaan ini tidak berarti sikap pasif. Agung menegaskan bahwa Muhammadiyah memiliki kewajiban untuk memperbaiki hal-hal yang tidak selaras dengan cita-cita keadilan dan kesejahteraan. Oleh karena itu, kader Muhammadiyah perlu aktif terlibat dalam berbagai ruang strategis guna menjaga arah kehidupan berbangsa.
Pada sesi lain, Agung mengingatkan tentang pentingnya organisasi sebagai sarana perjuangan terbaik. Muhammadiyah, menurutnya, tidak hanya memiliki paham keagamaan, tetapi juga sistem, aturan, kepemimpinan, dan mekanisme pengambilan keputusan yang harus ditaati bersama. "Organisasi adalah alat atau cara perjuangan yang sebaik-baiknya," tegas Agung. Ia menambahkan bahwa keputusan organisasi yang lahir melalui Muktamar, Tanwir, atau Munas Tarjih merupakan hasil ijtihad kolektif yang harus dikawal pelaksanaannya. Dengan demikian, ketaatan berorganisasi menjadi elemen krusial dari ideologi Muhammadiyah. Warga dan pimpinan persyarikatan tidak cukup hanya merasa cocok dengan paham agama Muhammadiyah, tetapi juga harus mampu mengamankan setiap keputusan organisasi.
Di hadapan para peserta Darul Arqam, Agung juga mengulas Kepribadian Muhammadiyah. Ia menyoroti watak gerakan yang beramal dan berjuang untuk perdamaian serta kesejahteraan, memperbanyak kawan, mengamalkan ukhuwah Islamiyah, dan senantiasa lapang dada tanpa mengorbankan prinsip. Pesan Agung ini menjadi pengingat bagi warga Muhammadiyah bahwa ideologi bukanlah sekadar hafalan. Ideologi adalah kompas tindakan yang membimbing mereka untuk bertauhid, berilmu, tertib berorganisasi, hadir di tengah masyarakat, membangun bangsa, serta menjaga sikap adil dan korektif dengan bijaksana.




