Riwayat Hidup
KH Muhammad Akib lahir di Parepare pada bulan Januari 1910. Setelah menyelesaikan pendidikan dasarnya di kota kelahirannya, ia merantau ke Batavia (Jakarta) untuk melanjutkan pendidikan di Perguruan Al-Irsyad dan menyelesaikannya pada tahun 1930. Almamater Al-Irsyad inilah yang membentuk dasar pemikiran keislaman dan pembaruannya.
Sekembali dari Jakarta, KH Muhammad Akib mengabdikan diri di Muhammadiyah dan ditugaskan mengajar di Perguruan Muhammadiyah Groep Takkalasi, Barru. Dua tahun kemudian ia dipindahkan ke Madrasah Muhammadiyah Bulukumba hingga 1935, lalu ditarik ke Makassar menjadi guru di Mu'allimin Muhammadiyah. Berkat kemampuan dan daya tarik pribadinya, sejak 1936 ia terpilih menjadi Ketua Muhammadiyah Cabang Makassar. Pada Konferensi Muhammadiyah di Sengkang tahun 1938, ia menjadi salah seorang commissaris Konsoelat Muhammadiyah Celebes Selatan mendampingi Andi Sewang Daeng Muntu, dan namanya selalu tercantum dalam pengurus Konsul Muhammadiyah hingga 1954.
Pada 1951, Kementerian Agama menugasinya membentuk Kantor Urusan Pendidikan Agama Propinsi Sulawesi sekaligus mengangkatnya sebagai kepala kantor. Setahun berikutnya ia dipindahtugaskan menjadi Kepala Kantor Urusan Penerangan Agama Provinsi Sulawesi. Pada Pemilu 1955, Partai Masyumi mencalonkannya dan ia terpilih sebagai Anggota Parlemen Republik Indonesia hingga lembaga itu dibubarkan Soekarno tahun 1960. Selama berdomisili di Jakarta, ia tetap aktif di salah satu majelis Pimpinan Pusat Muhammadiyah.
Pada Konferensi PD Muhammadiyah Sulsel ke-28 di Makassar tahun 1968, KH Muhammad Akib terpilih sebagai Ketua Pimpinan Daerah Muhammadiyah Sulawesi Selatan dan Tenggara periode 1968 sampai 1971. Ia dibantu tiga wakil ketua (Ahmad Makkarausu Amansyah, Abdul Watif Masri, A Tadjuddin Baso Rum), tiga sekretaris, dua bendahara, dan sejumlah ketua majelis, di antaranya KH Abdul Djabbar Ashiry sebagai Ketua Majelis Tarjih dan Sitti Ramlah Azis sebagai Ketua Aisyiyah. Bersama Mukhtar Lutfi, ia memprakarsai pendirian Masjid Raya Makassar dan sepanjang hidupnya selalu menjadi pengurus Yayasan Masjid Raya, bahkan pernah menjabat sebagai ketuanya.
Sekembali ke Makassar setelah masa parlemennya, KH Muhammad Akib mengabdi sebagai dosen di Fakultas Sastra Universitas Hasanuddin hingga akhir hayatnya. Ia dikenal memiliki retorika dan gaya bahasa yang memukau, tinggi pribadi dan dalam ilmunya, tetapi tetap berpenampilan sederhana dengan senyum yang selalu tampak di bibir.
Sorotan Kepemimpinan
- Lulusan Perguruan Al-Irsyad Batavia (Jakarta) tahun 1930, dengan corak pembaruan Islam yang kental
- Ketua PMD Muhammadiyah Sulsel-Tenggara 1968 sampai 1971 hasil Konferensi ke-28 di Makassar
- Pemrakarsa pendirian Masjid Raya Makassar bersama Mukhtar Lutfi, lama menjadi pengurus dan ketua Yayasan Masjid Raya
- Anggota Parlemen RI hasil Pemilu 1955 dari Masyumi hingga lembaga dibubarkan Soekarno tahun 1960
- Dosen Fakultas Sastra Universitas Hasanuddin hingga akhir hayatnya



