Riwayat Hidup
KH Abdul Djabbar Ashiry Thalib, semasa kecil dikenal sebagai Andu Lolo (Pemuda Harapan), lahir di Rappang pada 27 Agustus 1916. Ayahnya H Muhammad Ashiry bergelar Araie Rilaotang Salo karena lama mukim di Mekkah, sementara ibunya Hj Halijah. Ia adalah anak sulung dari lima bersaudara dan menerima pendidikan pertama dari ayahnya melalui pelajaran Al Qur'an. Pendidikan formalnya ditempuh di Madrasah Ibtidaiyah Muhammadiyah Rappang (1928 sampai 1933), kemudian dikirim orang tuanya ke Siwa, Sengkang untuk belajar di Madrasah Muhammadiyah serta nyantri kepada Husain Thaha. Pada 1947 ia berangkat ke Mekkah untuk menunaikan haji sekaligus memperdalam ilmu agama.
Di Rappang, bersama Gazali Thalib, Bustaman Tamrin, dan ulama lainnya, Djabbar Ashiry membuka Madrasah Mu'allimin Muhammadiyah Rappang yang menerima murid pertama tahun pelajaran 1950 sampai 1951. Perkembangan sekolah ini sangat pesat, hingga ia membeli tanah baru dan membangun gedung Mu'allimin yang digunakan mulai 1951 sampai 1952. Pada tahun pelajaran 1953, ia hijrah ke Makassar, membuka pendidikan mubalig Muhammadiyah di Jalan Bandang samping Masjid Raya, dan menjadi salah satu imam rawatib Masjid Raya. Ia menikah tiga kali (Amirah binti Musa, Hj Salmiah binti Haji Taju, dan Hj Marhamah binti KH Hasyim Hasan) dengan 12 orang anak.
Djabbar Ashiry menjadi Ketua Pimpinan Muhammadiyah Wilayah Sulawesi Selatan periode 1971 sampai 1975. Setelahnya ia masih menerima amanah sebagai Ketua Majelis Tarjih PW Muhammadiyah Sulsel-Tenggara periode 1975 sampai 1980. Pesannya yang terkenal: "Kalau engkau menerima suatu jabatan, pastikan engkau ikhlas, jujur, dan berani berbuat." Bersama Dr S Madjidi, KH Marzuki Hasan, dan KH Fathul Muin Daeng Maggading, ia dikenal sebagai bagian dari "Imam Empat" yang berhasil mendirikan Pondok Pesantren Darul Arqam Gombara pada 1971. Pesantren ini bermula dari santri angkatan pertama hanya sepuluh orang, namun pada 1980-an telah membina lebih dari seribu santri putra dan putri.
Sebagai Direktur Pondok Pesantren Darul Arqam Muhammadiyah Gombara, Djabbar Ashiry mendapat undangan dari Jama'ah Tabligh untuk menghadiri pertemuan di Pakistan. Sepulang dari sana ia mulai menjalankan misi dakwah Jama'ah Tabligh dengan jalan khuruj, yaitu bermalam dan berdakwah di masjid-masjid. Keterlibatan ini berbuntut pada pemecatannya oleh PW Muhammadiyah Sulsel dari jabatannya sebagai direktur. Konflik pun pecah di Gombara dan menelan korban jiwa dua santri, salah satunya putra Ustaz Abdul Khalik Rabasang. Untuk menghindari korban lebih banyak, kedua belah pihak saling mengalah. Djabbar Ashiry menerima pemecatannya, sementara sebagian tanah dan bangunan diserahkan untuk ditempati Pondok Pesantren Darul Aman Gombara di bawah Yayasan Buk'atun Mubarakah pimpinannya bersama Abdul Jalil Thahir.
Sebagai ulama zuhud, KH Djabbar Ashiry meninggalkan jejak melalui karya tulis "Penuntun Hidup Bahagia" yang diterbitkan 18 November 1987. Keteladanannya, mulai dari keikhlasan, ketekunan menjalankan syariat, kesederhanaan berpakaian, hingga tidak pernah meninggalkan iktikaf sepuluh hari terakhir Ramadan, diakui banyak orang. Ia wafat pada 13 April 1990 setelah dirawat 13 hari di Rumah Sakit Islam Faisal dan dimakamkan di Pekuburan Baqi di kawasan Pondok Pesantren Darul Aman Gombara. Walikota Makassar Daeng Patompo hadir melepas jenazahnya.
Sorotan Kepemimpinan
- Pendiri Madrasah Mu'allimin Muhammadiyah Rappang (1950) dan pendidikan mubalig Muhammadiyah di Jalan Bandang Makassar
- Salah satu pendiri Pondok Pesantren Darul Arqam Muhammadiyah Gombara (1971) bersama Imam Empat
- Imam rawatib Masjid Raya Makassar dan pendiri Masjid Mawaddatullah
- Penulis buku Penuntun Hidup Bahagia (1987), berdakwah dengan pena tentang pedoman keluarga dan kehidupan
- Dipecat dari Pondok Darul Arqam Gombara karena keterlibatannya dalam Jama'ah Tabligh, kemudian mendirikan Pondok Pesantren Darul Aman Gombara



