Riwayat Hidup
Haji Abdul Wahab Radjab lahir di Dusun Balla Tabbua, Desa Mandalle, Kecamatan Bajeng, Kabupaten Gowa pada tahun 1928. Orang tuanya memberi nama Abdul Wahab Radjab karena ia lahir pada 27 Radjab, bersamaan dengan peringatan peristiwa Isra Mikraj Nabi Muhammad saw. Perjalanan pendidikannya berliku karena gejolak zaman, mulai dari Vervolgschool Limbung yang tamat 1939, Madrasah Wustha Muhammadiyah Jongaya yang ditutup ketika Jepang masuk, hingga Sekolah Jam'iyah Islamiyah Watampone, Sekolah Guru Islam Menengah Atas Makassar, dan kuliah di UMI yang semuanya tak selesai karena dinamika politik.
Setelah Indonesia merdeka, Wahab Radjab bergabung dalam Kelaskaran Pemuda-pemuda Pejuang Kemerdekaan di Watampone (1945), kemudian dalam Kelaskaran BUKA-Limbung pimpinan Sultan Daeng Mile sebagai kepala staf, yang menjadi bagian dari LAPRIS (Laskar Pemberontak Rakyat Indonesia Sulawesi). Dalam perjuangan inilah ia ditangkap dan dipenjarakan Belanda selama tujuh bulan (Februari sampai Agustus 1947).
Karier organisatorisnya di Muhammadiyah dimulai sebagai Sekretaris Muhammadiyah Groep Bone-Limbung (1949 sampai 1951), lalu Sekretaris PMD Sulsel dan Tenggara merangkap Ketua Majelis Dakwah (1961 sampai 1964), dan Wakil Ketua PMD merangkap Ketua Majelis Tabligh (1964 sampai 1966). Setelah Quraisy Djailani wafat, ia ditunjuk sebagai Pejabat Ketua Pimpinan Daerah Muhammadiyah Sulawesi Selatan dan Tenggara periode 1966 sampai 1968. Selama menjabat sebagai ketua, ia mengiringi masa transisi orde lama ke orde baru dan mendukung berdirinya Partai Muslimin Indonesia (Parmusi) pada 1968 dengan dirinya sebagai Ketua DPW Parmusi Sulsel.
Wahab Radjab memiliki pengalaman politik yang sangat lengkap, mulai dari Sekretaris Cabang Masyumi Makassar (1950), Sekretaris Masyumi Wilayah Sulsel (1951 sampai 1960), anggota DPRD Kotapraja Makassar (1955 sampai 1960), anggota DPR-GR RI (1968 sampai 1971) sebagai Wakil Ketua Komisi X, anggota DPRD Sulsel dari Parmusi sebagai Ketua Komisi D (1971), hingga anggota DPR/MPR-RI pada Pemilu 1977. Selain itu, ia pernah menjadi Pembantu Rektor IV Unismuh Makassar (1982 sampai 1985) dan Direktur Apotek Rumah Bersalin St Khadijah I.
Setelah masa baktinya di DPR/MPR berakhir tahun 1982, Wahab Radjab kembali ke Makassar dan menulis dua buku: "Iman Dasar Hidup Sejahtera" dan "Lintasan Perkembangan dan Sumbangan Muhammadiyah di Sulawesi Selatan". Ia wafat pada tahun 2004 dengan meninggalkan dua orang istri dan 13 orang anak. Khidmatnya di Muhammadiyah berlanjut sampai 1995 sebagai Penasihat PW Muhammadiyah Sulsel.
Sorotan Kepemimpinan
- Pejabat Ketua Pimpinan Daerah Muhammadiyah Sulsel-Tenggara (1966 sampai 1968) menggantikan Quraisy Djailani yang wafat
- Pejuang kemerdekaan dalam Kelaskaran BUKA-Limbung dan LAPRIS, sempat dipenjara Belanda tujuh bulan pada 1947
- Karier politik lengkap di semua tingkatan legislatif: DPRD Kotapraja Makassar, DPR-GR, DPRD Sulsel, hingga DPR/MPR-RI
- Ketua DPW Parmusi Sulsel sekaligus Ketua DPW Partai Persatuan Pembangunan setelah fusi partai Islam
- Penulis buku Lintasan Perkembangan dan Sumbangan Muhammadiyah di Sulawesi Selatan



