Riwayat Hidup
KH Muhammad Sanusi Maggu lahir pada tahun 1913 di Desa Lise, Kecamatan Panca Lautang, Kabupaten Sidenreng Rappang dari pasangan La Maggu dan I Canname. Orang tuanya memberi nama Sanusi, dan setelah belajar kepada KH Ibrahim di Rappang, sang guru melengkapi namanya menjadi Muhammad Sanusi Maggu. Ia adalah anak kedua dari empat bersaudara. Pengajian Alquran ditempuhnya di rumah Haji Guru (Imam Desa Lise), sebelum pindah ke Rappang dan mengaji pondok kepada KH Ibrahim selama 12 tahun. Bacaan Alqurannya sering dipuji gurunya karena kecepatan memahami pelajaran dan kebagusan bacaannya.
Setelah pendidikan di Rappang, Muhammad Sanusi Maggu sempat mendakwahkan ilmunya di Lise, lalu hijrah ke Parepare dan bergabung dalam Muhammadiyah Cabang Parepare. Mendengar bahwa Haji Abdul Malik Karim Amrullah (Hamka) datang ke Makassar atas penugasan Hoofdbestuur Muhammadiyah, ia hijrah ke Makassar dan belajar di Madrasah Muallimin (Tabligh School) yang dipimpin Hamka. Ketika Hamka kembali ke Sumatera Barat tahun 1935, Sanusi Maggu ikut serta ke Padang Panjang untuk melanjutkan pelajarannya di kulliatul muballighin.
Pada 1938, Muhammad Sanusi Maggu kembali ke Sulawesi Selatan, lalu berangkat ke Mekkah dan tinggal mengaji Al-Islam selama dua kali musim haji. Sepulangnya, ia menikah dengan Hj Kaddase, namun karena tidak dikaruniai anak, ia kembali menikah dengan Hj Bakkennung dan dikaruniai dua orang anak: Dra Hj St Ramlah Sanusi dan Ir Fahmi Sanusi. Sebagai mubalig yang menetap di Parepare, ia melayani dakwah di Aja Tappareng, yaitu Sidenreng, Rappang, Sawito, Mallusetasi, Parepare, Soppeng Riaja, Majene, dan Wajo. Masyarakat memberinya gelar kiai atau anre'gurutta. Ia pernah menjabat Kepala SMP Muhammadiyah Sengkang, Kepala SMA Muhammadiyah Parepare, dan Ketua PD Muhammadiyah Parepare.
Sanusi Maggu menjadi pelaksana tugas Ketua PMW Sulsel setelah Saleh Hamdani wafat tahun 1980, lalu resmi berkhidmat sebagai Ketua PMW Sulsel pada 17 Maret 1981 dengan SK PMW Sulsel Nomor A-2/051/1401. Ia merupakan ketua pertama PMW Sulsel pasca mandirinya PMW Sulawesi Tenggara. Periode kepemimpinannya idealnya berakhir 1983, namun karena kondisi politik, musywil baru bisa dilaksanakan pada tahun 1986 di Palopo. Di masa ini, PMW menerbitkan Pedoman Pengelolaan Organisasi Terpadu dengan Sistem Administrasi Satu Atap (SAMSAT) yang diberlakukan di empat PMD: Ujung Pandang, Parepare, Pinrang, dan Bantaeng.
Di bawah kepemimpinannya, PMW Sulsel berhasil mendirikan empat pondok pesantren: Pesantren Muhammadiyah Salutabang di Larompong Luwu, Pesantren Muhammadiyah Balebo di Masamba (sekarang Luwu Utara), Pesantren Muhammadiyah Marannu di Mattiro Bulu Pinrang, dan Pesantren Muhammadiyah Mattekko di Tinggi Moncong Gowa. Sanusi Maggu juga mendamaikan konflik Unismuh Makassar dengan PMW, mendorong kehadiran kembali Ikatan Mahasiswa Muhammadiyah (IMM) di Sulsel, serta mewajibkan Baitul Arqam bagi seluruh kader. Salah satu legacy materialnya adalah mobil dinas Al-Buraq, jeep Toyota Hartop yang dibeli 23 Mei 1981 sebagian dari sumbangan Drs HM Jusuf Kalla, dan mulai dipakai bertepatan 1 Muharram 1401 H, sebagai simbol kemandirian Muhammadiyah Sulsel dari bantuan pemerintah.
Sorotan Kepemimpinan
- Ketua PMW Sulsel pertama pasca mandirinya PMW Sulawesi Tenggara, periode 1980 sampai 1984 (de facto 1985)
- Pernah berguru langsung kepada Hamka di Tabligh School Makassar dan kulliatul muballighin Padang Panjang
- Memprakarsai Sistem Administrasi Satu Atap (SAMSAT) di empat Pimpinan Daerah Muhammadiyah
- Mendirikan empat pondok pesantren Muhammadiyah di Larompong, Masamba, Mattiro Bulu, dan Tinggi Moncong
- Menggagas mobil dinas Al-Buraq sebagai simbol kemandirian organisasi, sebagian dibiayai Drs HM Jusuf Kalla



