Riwayat Hidup
KH Djamaluddin Amien lahir di Tekolampe, sebuah desa di selatan Kota Balangnipa, Sinjai, pada tahun 1930 sebagai putra tunggal Muhammad Amin dan St Sukaenah. Namanya diberikan oleh sang kakek yang adalah Imam Masjid Tekolampe. Sejak kecil ia tumbuh dalam keluarga taat ibadah; ayahnya senantiasa adzan setiap waktu salat magrib dan subuh, sementara ibunya membaca wirid sambil memangku putra tunggalnya itu. Pendidikan formalnya dimulai di sekolah dasar desanya, lalu Vervolgschool di Balangnipa (tamat 1942), kemudian terhenti saat Jepang berkuasa. Ia kembali belajar agama di Madrasah KH Husain, kemudian nahwu kepada Ustaz Marzuki Hasan, tafsir Jalalain dan fikih Fathul Mu'in kepada KH Muhammad Thahir, Kali Balangnipa.
Awal tahun 1948, melalui ajakan Ali AT, Djamaluddin remaja bergabung dalam Hizbul Wathan dan resmi masuk lingkungan Muhammadiyah. Pada bulan Ramadan tahun yang sama, ia melanjutkan pelajarannya di Muallimin Muhammadiyah Bantaeng atas ajakan Abdullah Sabda. Di Muallimin, ia bertemu kader Muhammadiyah dari seluruh Sulsel dan belajar kepada Ustaz Madjidi (Islam dan bahasa Arab), Ustaz Abdul Rasyid Faqi (semangat patriotik), serta Ustaz Badaruddin (nilai akhlak mulia). Ketika sekolahnya pindah ke Bulukumba tahun 1950, ia ikut pindah hingga ditamatkan 1952 tanpa ijazah karena masalah dengan Muhammadiyah Cabang Bulukumba.
Awal 1953 ia kembali ke Bantaeng mengajar di Muallimin tempatnya dahulu belajar dan bertindak sebagai kepala sekolah tanpa SK formal. Tahun 1954 ia menikah dengan St Chamsiah, rekan gurunya di Muallimin Muhammadiyah Bantaeng dan dikaruniai sepuluh anak. Setelah Chamsiah wafat tahun 1985, ia menikah lagi dengan Siti Rabihah binti Muhammad Siddik pada 1990 dan dikaruniai dua anak laki-laki, Ahmad Harakam dan Muktashim Billah. Hingga 1962 ia menjadi Ketua PDM Bantaeng, sebelum pindah ke Makassar mengajar di PGAN 6 Tahun. Pada Pemilu 1955, sebagai Ketua GPII Bantaeng, ia menolak tawaran kursi DPRD Bantaeng karena lebih memilih mengajar.
Pada Musyawarah Wilayah Muhammadiyah tahun 1985 di Palopo, Djamaluddin Amien terpilih menjadi Ketua PW Muhammadiyah Sulawesi Selatan, sekaligus diminta PP Muhammadiyah menjadi Rektor Universitas Muhammadiyah Makassar untuk menyelesaikan konflik antara Unismuh dengan PMW pimpinan Sanusi Maggu. Ia menjadi ketua Muhammadiyah pertama yang sekaligus menjadi rektor PTM, dan posisi ini ia jalani selama tiga periode hingga tahun 2000 (1985 sampai 2000), masa kepemimpinan terlama dalam sejarah PW Muhammadiyah Sulsel. Di masanya, Pondok Pesantren Darul Arqam Gombara mencapai klimaks konflik karena keterlibatan pimpinannya KH Djabbar Asyirie pada Jama'ah Tabligh, hingga PWM memberhentikannya pada 6 November 1989.
Salah satu peninggalan monumental kepemimpinannya adalah pembangunan Gedung Pusat Dakwah Muhammadiyah Sulsel di Jalan Perintis Kemerdekaan KM 10 Nomor 38 Tamalanrea, di atas tanah wakaf 1,8 hektar dari Mr H Mustamin Dg Matutu, SH. Peletakan batu pertama dilakukan 14 Oktober 1995 oleh perwakilan Gubernur Sulsel. Gedung berlantai tiga seluas 15x50 meter dengan model arsitektur rumah adat Minangkabau ini sebagai bentuk mengenang jasa ulama Minang yang membawa Islam ke Sulsel. Setelah meletakkan jabatan ketua, ia diangkat menjadi Ketua BPH Unismuh Makassar. Ia juga sempat menjadi Ketua DPW Partai Amanat Nasional Sulsel periode 2000 sampai 2005. KH Djamaluddin Amien wafat pada 16 November 2014 dan dimakamkan di Beloparang, Bantaeng.
Sorotan Kepemimpinan
- Ketua PW Muhammadiyah Sulsel terlama, menjabat tiga periode berturut-turut (1985 sampai 2000)
- Ketua Muhammadiyah pertama yang sekaligus menjabat Rektor Universitas Muhammadiyah Makassar
- Pemrakarsa pembangunan Gedung Pusat Dakwah Muhammadiyah Sulsel di Jalan Perintis Kemerdekaan Tamalanrea, atas tanah wakaf 1,8 hektar dari Mr H Mustamin Dg Matutu
- Menyelesaikan konflik klasik antara Unismuh Makassar dan PWM yang berlarut-larut sejak periode sebelumnya
- Ketua DPW Partai Amanat Nasional Sulsel pertama periode 2000 sampai 2005



