Riwayat Hidup
Drs Muhammad Saleh Hamdani Daeng Nassa lahir di Salaka Polombangkeng, Takalar pada 17 Mei 1934 sebagai putra Haji Binu Daeng Tarra, anggota Muhammadiyah Group Palleko-Takalar pimpinan Makkaraeng Daeng Manjarungi, dan Hj Lu'mu Daeng Ngugi. Ia menyelesaikan sekolah dasar di Salaka tahun 1950 lalu hijrah ke Makassar, di mana ia menempuh SMP pada pagi hari dan Madrasah Wustha Muallimin Muhammadiyah Jongaya pada sore hari hingga tamat 1953. Ia melanjutkan ke SMEA sambil mengikuti Ujian Guru Agama Islam (1954) dan tamat SMEA pada 1956.
Berbekal ijazah SMEA, Saleh Hamdani kuliah di Jurusan Ekonomi Umum Fakultas Ekonomi Universitas Hasanuddin, meraih Sarjana Muda 1961 dan sarjana lengkap 1965. Karier profesionalnya berpindah-pindah antara dunia pendidikan dan perbankan: guru di PGAN Gunungsari dan Muallimin Muhammadiyah Jongaya (1954), pegawai Bank Pembangunan Daerah Sulawesi Selatan, kemudian Kepala Sekolah Kursus Pegawai Administrasi (1965), dan akhirnya Direktur Akademi Administrasi Niaga (1973) hingga akademi tersebut diintegrasikan ke Universitas Hasanuddin pada 1977. Sejak 1977, ia menjadi Dosen Fakultas Ekonomi Unhas hingga wafat. Ia menikah dengan Hj Rahmatiah Dg Parang pada 12 Mei 1967 dan dikaruniai lima orang anak.
Keterlibatannya di Muhammadiyah dimulai sebagai anggota Cabang Mamajang pada 1962, kemudian menjadi pimpinan cabang, lalu Ketua Majelis Ekonomi PMD Sulawesi Selatan (1965 sampai 1975). Pada masa kepemimpinan Ahmad Makkarausu Amansyah, ia menjadi Wakil Ketua I PMW Sulselra. Setelah Makkarausu wafat tahun 1977, Saleh Hamdani menjadi ketua melanjutkan periode tersisa, dan dalam Musyawarah Wilayah Muhammadiyah ke-32 di Bulukumba tahun 1978 ia terpilih menjadi Ketua PW Muhammadiyah Sulawesi Selatan dan Tenggara hingga wafatnya tahun 1980.
Di masa kepemimpinannya, PMW Sulselra mengintensifkan penelitian penerimaan anggota dengan klasifikasi simpatisan, calon anggota, dan anggota inti sesuai pedoman pimpinan pusat. Ia juga menggencarkan pembinaan ranting dan cabang serta penertiban registrasi anggota. Pembinaan Angkatan Muda Muhammadiyah (AMM) dipusatkan pada pengenalan amal usaha, pemosisian AMM dalam kepengurusan, dan forum pengaderan. PMW juga mengajukan 701 nama guru swasta Muhammadiyah kepada Pemprop Sulsel untuk diangkat menjadi PNS, meski usulan tersebut akhirnya ditolak BAKN.
Salah satu peristiwa penting periode ini adalah pemisahan PW Muhammadiyah Sulawesi Tenggara dari PMW Sulsel berdasarkan SK PP Muhammadiyah Nomor 12/PP/V/1980 tanggal 28 Mei 1980. PMW Sulselra juga aktif menyuarakan kritik atas produksi film dan reklame yang menyimpang dari Ketetapan MPR RI Nomor IV/MPR/1978 tentang GBHN, dengan permintaan agar Badan Sensor Film Daerah diaktifkan. Drs Muhammad Saleh Hamdani wafat pada 17 Oktober 1980.
Sorotan Kepemimpinan
- Ketua PMW Sulselra hasil Musyawarah Wilayah ke-32 Bulukumba tahun 1978 hingga wafatnya tahun 1980
- Memimpin pemisahan PW Muhammadiyah Sulawesi Tenggara dari PMW Sulsel pada 28 Mei 1980
- Memprakarsai sistem klasifikasi anggota Muhammadiyah: simpatisan, calon anggota, dan anggota inti
- Mengajukan 701 guru swasta Muhammadiyah ke Pemprop Sulsel untuk diangkat sebagai PNS
- Direktur Akademi Administrasi Niaga (AAN) yang kemudian diintegrasikan ke Universitas Hasanuddin pada 1977



