Riwayat Hidup
Haji Quraisy Djailani dilahirkan di Bantaeng pada 22 Februari 1920 sebagai satu-satunya anak laki-laki dari enam bersaudara, putra pasangan Djailani dan Hj Indo Ugi. Ia menempuh Vervolgschool di Bantaeng hingga tamat tahun 1933, lalu melanjutkan ke Diniyah School Muhammadiyah Bantaeng hingga kelas tiga. Pendidikan agamanya kemudian disempurnakan di Sekolah Wal-Fajri Yogyakarta hingga tamat tahun 1942, ditambah kursus Bahasa Inggris selama satu tahun di lembaga yang sama.
Sekembalinya dari Yogyakarta tahun 1942, Quraisy Djailani diangkat menjadi guru bantu pada Madrasah Mu'allimin Muhammadiyah Bantaeng selama tiga tahun. Ia juga menjabat Wakil Ketua Pimpinan Cabang Muhammadiyah Bantaeng, merangkap Ketua Bagian Pengajaran dan pembantu Majelis Tabligh hingga tahun 1949. Pada tahun 1945 sampai 1951 ia bekerja di perusahaan NV Budi sebagai boukhouder, lalu menjadi pegawai negeri pada Departemen Agama mulai 1951 dan berakhir sebagai Kepala Kantor Penerangan Agama Provinsi Sulawesi Selatan hingga akhir hayatnya.
Pada Konferensi Muhammadiyah Sulsel ke-20 di Rappang tahun 1957, dalam usia baru 37 tahun, Quraisy Djailani terpilih menjadi Ketua Pimpinan Muhammadiyah Wilayah Sulawesi Selatan dan Tenggara menggantikan Andi Sewang Daeng Muntu. Ia memimpin selama dua periode hingga akhir hayatnya tahun 1966 dan menjadi ketua pertama yang menggunakan nomenklatur "pimpinan daerah" pasca nomenklatur konsoel.
Bagian akhir kepemimpinannya bertepatan dengan gejolak pasca peristiwa G30S/PKI tanggal 30 September 1965. Sebagai Ketua PMW, ia menjadi koordinator dan penanggung jawab tertinggi KOKAM (Komando Kesiapsiagaan Angkatan Muda Muhammadiyah) Sulsel yang turut menumpas PKI. Hubungannya dengan ABRI sangat erat, sampai Panglima Kodam XIV Hasanuddin Kolonel Solihin GP merasa tidak afdal berkunjung ke daerah tanpa didampingi Quraisy Djailani. Ia juga dikenal sabar, sebagaimana tergambar dalam kisah saat ia hanya diam ketika dimarahi Walikota Makassar Daeng Patompo, sehingga keesokan harinya Patompo justru datang meminta maaf.
Setelah masa kritis kepemimpinan berakhir dengan pembubaran PKI pada 10 Maret 1966, Quraisy Djailani jatuh sakit akibat keletihan dan kurang istirahat selama empat bulan sebelumnya. Ia wafat pada malam 19 Maret 1966 dalam usia 46 tahun, meninggalkan seorang istri, Hj Sitti Maemunah, dan enam orang anak.
Sorotan Kepemimpinan
- Ketua termuda Muhammadiyah Sulsel saat terpilih di Konferensi ke-20 Rappang 1957, usia baru 37 tahun
- Memimpin pembentukan KOKAM Sulsel dalam aksi penumpasan PKI pasca G30S
- Membangun kemitraan erat antara Muhammadiyah dan ABRI bersama Panglima Kodam XIV Kolonel Solihin GP
- Ketua pertama dengan nomenklatur Pimpinan Daerah (bukan lagi konsoel) Muhammadiyah Sulsel-Tenggara
- Wafat pada 19 Maret 1966, hanya sembilan hari setelah pembubaran PKI yang ia perjuangkan



