Riwayat Hidup
Andi Sewang Daeng Muntu lahir di Kampung Baruwa, Galesong Selatan, Takalar pada tahun 1903. Dalam usia sekitar enam tahun ia ikut orang tuanya pindah ke Labbakkang, Pangkajene Kepulauan. Pendidikan dasarnya ditempuh di Volksschool Labbakkang dan dilanjutkan ke Vervolgschool Pangkajene, sebelum ia terpaksa merantau ke Sumatera Barat karena orang tuanya dibuang Pemerintah Kolonial Belanda atas tuduhan terlibat pemberontakan menentang penjajah. Di Minangkabau, ia melanjutkan pendidikan di Sumatra Thawalib hingga tamat Tsanawiyah dan berkenalan dengan gerakan pembaruan Islam.
Sekembalinya ke Labbakkang pada awal 1927, Daeng Muntu kerap berdiskusi dengan sahabatnya Machmud tentang kemajuan gerakan Islam, sehingga pada 9 Oktober 1927, dalam suatu algemeene vergadering, ia mendirikan Muhammadiyah Groep Labbakkang dengan dirinya sebagai voorsitter. Berbekal pengalaman di Minangkabau, ia berhasil mendatangkan empat guru dari Jawa hingga tahun 1934 dan memfasilitasi terbentuknya groep di Pangkajene, Bonto-bonto, Sigeri, dan Ujungloe.
Pada Konferensi Muhammadiyah Celebes Selatan ke-13 di Selayar tanggal 1 sampai 4 Januari 1938, Daeng Muntu terpilih sebagai Consul Hoofdbestuur Muhammadiyah Celebes Selatan menggantikan KH Abdullah. Berperawakan besar dan berkulit sawo matang, ia dikenal sebagai orator yang menguasai bahasa Indonesia, Makassar, dan Bugis. Ia juga produktif menulis di majalah Suara Muhammadiyah, menerbitkan buku "Langkah dan Oesaha Kita" pada 1941, dan dua novel dengan nama samaran HASDA, yaitu "Dari Makassar ke Sawah Lunto" dan "Si Cincin Stempel".
Pada zaman pendudukan Jepang, ia diangkat menjadi Penasihat Pemerintah Kai-Gun (Angkatan Laut) Jepang di Makassar (San-Yo) dan anggota Syukai-Gin. Setelah kemerdekaan, Daeng Muntu menjadi salah satu anggota Parlemen Negara Indonesia Timur (NIT) yang pro-republik dan berjuang agar Indonesia kembali ke Negara Kesatuan. Ketika Masyumi dibentuk di Sulawesi Selatan awal 1950, ia menjadi pengurus inti DPW Sulsel, dan pada Pemilu 1955 terpilih sebagai Anggota Parlemen Republik Indonesia hingga lembaga itu dibubarkan Soekarno pada 1960.
Selain memimpin Muhammadiyah, Daeng Muntu turut menumpahkan perhatian pada pendidikan tinggi dan bersama pemuka Islam lainnya mendirikan Universitas Muslim Indonesia (UMI). Ia menjadi konsoel terakhir Muhammadiyah dengan nomenklatur tersebut dan memimpin hingga 1957 ketika digantikan oleh Quraisy Djailani. Daeng Muntu wafat di Labbakkang pada 10 Mei 1968 dalam usia 65 tahun, meninggalkan tiga anak, salah satunya dr Andi Sofyan Hasdam yang kelak menjadi Ketua PWM Kalimantan Timur dan Walikota Bontang.
Sorotan Kepemimpinan
- Mendirikan Muhammadiyah Groep Labbakkang pada 9 Oktober 1927, menjadi salah satu pelopor Muhammadiyah di Sulsel
- Konsoel terakhir Muhammadiyah Celebes Selatan (1938 sampai 1957) sebelum nomenklatur diubah menjadi pimpinan daerah
- Salah satu pendiri Universitas Muslim Indonesia (UMI) bersama pemuka Islam lainnya
- Anggota Parlemen Republik Indonesia hasil Pemilu 1955 dari Masyumi
- Penulis aktif Suara Muhammadiyah, buku Langkah dan Oesaha Kita (1941), serta dua novel dengan nama samaran HASDA



