Riwayat Hidup
KH Abdullah lahir di Maros sekitar tahun 1895 dari pasangan Abdur Rahman dan Halimah. Sejak kecil, Abdullah diajari mengaji oleh ayahnya sendiri yang menaruh harapan besar agar putranya menjadi ulama. Setelah dasar agamanya dirasa cukup, Abdullah remaja dikirim belajar kepada Petta Kalie di Maros, sebelum berangkat ke Mekkah untuk menunaikan ibadah haji sekaligus memperdalam bahasa Arab dan ilmu agama selama lebih kurang sepuluh tahun.
Di Mekkah, Abdullah menikah dengan Hajjah Fatimah, putri seorang saudagar kaya asal Maros yang sangat mendukung pendalaman ilmu agamanya. Konon, di Mekkah itu pula ia sempat bertemu dengan Darwis yang kelak dikenal sebagai KH Ahmad Dahlan, pendiri Muhammadiyah. Sepulangnya ke tanah air, Abdullah didorong mertuanya pindah ke Makassar dan menempati rumah di Kampung Butung, tempat ia mengajar agama hingga masyarakat menganugerahinya gelar kiai.
Melalui pergaulan dengan para pedagang asal Yogyakarta, Surabaya, dan Pekalongan, KH Abdullah berkenalan dengan paham Muhammadiyah. Atas inisiatif Mansyur Al Yamani, diadakan pertemuan di rumah Haji Muhammad Yusuf Daeng Mattiro pada malam 15 Ramadan yang melahirkan Muhammadiyah Groep Makassar, dengan KH Abdullah sebagai Vice Vorsitter. Setahun kemudian ia menjadi Voorsitter dan memimpin peningkatan status Groep menjadi Cabang Makassar yang sekaligus mengoordinasikan groep di Labbakkang, Pangkajene, Maros, Sengkang, Bantaeng, Belawa, Mandar, Palopo, Bulukumba, dan banyak daerah lain.
Pada Konferensi Muhammadiyah ke-6 di Palopo tahun 1932, KH Abdullah terpilih sebagai Konsoel Muhammadijah Celebes Selatan yang pertama. Ia memimpin sebagai konsoel dari Konferensi ke-7 hingga ke-13, didampingi Mansyur Al Yamani (vice voorsitter), Nurdin Daeng Magassing (sekretaris), serta tokoh seperti Andi Sewang Daeng Muntu sebagai commissaris. Di bawah kepemimpinannya, jaringan Muhammadiyah di Sulawesi Selatan meluas pesat dan menjadi fondasi kelembagaan persyarikatan di kawasan ini.
Setelah Andi Sewang Daeng Muntu menggantikannya pada Konferensi ke-13 di Selayar tahun 1938, KH Abdullah dengan kebesaran jiwanya tetap berkhidmat sebagai commissaris konsoel hingga akhir hayatnya. Ia wafat pada 24 April 1944 menjelang salat Zuhur, bertepatan dengan serangan bom serdadu sekutu terhadap kapal-kapal di pelabuhan Makassar. Pesan-pesannya dalam bahasa Bugis tentang menghormati sesama dan keutamaan salat berjamaah masih dikenang sebagai warisan moralnya.
Sorotan Kepemimpinan
- Konsoel (Ketua) pertama Muhammadiyah Celebes Selatan, terpilih pada Konferensi ke-6 di Palopo tahun 1932
- Memimpin perluasan Muhammadiyah ke puluhan groep di Sulawesi Selatan, dari Labbakkang dan Pangkajene hingga Palopo, Mandar, dan Bulukumba
- Konon pernah bertemu Ahmad Dahlan (dahulu bernama Darwis) saat menuntut ilmu di Mekkah
- Tetap mengabdi sebagai commissaris konsoel setelah tidak terpilih kembali sebagai konsoel pada 1938
- Wafat pada 24 April 1944 saat serangan bom sekutu di pelabuhan Makassar


