Riwayat Hidup
Drs KH Baharuddin Pagim lahir di Belawa, Wajo, pada 31 Agustus 1940. Pendidikan formalnya dimulai di SD Muhammadiyah Cabang Belawa selama enam tahun dan tamat tahun 1956, lalu hijrah ke Makassar untuk melanjutkan ke MTS Muallimin Cabang Makassar (1956 sampai 1959), kemudian Muallimin Uliyah hingga tamat 1961. Selepas itu, sebagai bentuk pengabdian alumni, ia ditugaskan mengajar di Muallimin Tanete, Kabupaten Barru selama tiga tahun. Pada 1963 ia melanjutkan kuliah di Universitas Muslim Indonesia (UMI) yang berintegrasi dengan IAIN Fakultas Tarbiyah, meraih Sarjana Muda 1966 dan Doktorandus 1977. Tahun 1964 ia menikah dengan Siti Marhaban Ahmad dan dikaruniai sebelas orang anak.
Karier mengajarnya beralih dari Muallimin ke Muallimat pada 1971, hingga diangkat menjadi pegawai negeri di Departemen Agama Kota Makassar pada 1974. Melalui Depag, ia ditugaskan mengajar di Pondok Pesantren Darul Arqam Gombara bersama tiga kader Muhammadiyah lainnya, yakni Salmiah Jabbar, Muchtar Waka, dan Muh Dahlan Yusuf. Tahun 1977 ia ditarik kembali ke Muallimat sebagai direktur atas permintaan PW Aisyiyah Sulsel selama dua periode hingga 1984. Setelahnya ia pindah ke Kanwil Depag Sulsel sebagai Kepala Seksi Lembaga Dakwah dan Penerangan Agama, lalu Kepala Seksi PHBI dan MTQ, sebelum kembali menjadi Direktur Muallimat pada 1994 atas permintaan Abdullah Renre dan menjadi Kepala Sekolah Aliyah Muallimat hingga pensiun pada 2000.
Karier organisatoris di Muhammadiyah dirintis sebagai Ketua Ranting Marro Cabang Ujung Tanah (1976 sampai 1981), Ketua Cabang Muhammadiyah Ujung Tanah (1981 sampai 1985), Ketua Majelis Tarjih PDM Kota Makassar (1985 sampai 1990), Ketua PDM Kota Makassar (1990 sampai 1995), Anggota Majelis Tarjih PWM Sulsel (1995 sampai 2000), dan Ketua Majelis Tarjih PWM (2000 sampai 2005). Pada Musyawarah Wilayah ke-37 di Parepare, ia terpilih menjadi Ketua PW Muhammadiyah Sulawesi Selatan periode 2005 sampai 2010. Setelahnya ia menjadi Wakil Ketua PWM Sulsel 2010 sampai 2015, anggota MUI Sulsel, dan Wakil Ketua Forum Kerukunan Umat Beragama (FKUB) Sulsel.
Sebagai pimpinan, Baharuddin Pagim mengedepankan model kepemimpinan kolektif kolegial dengan tidak terlalu menonjolkan diri secara teknis. Ia mengakui dirinya hanya mengontrol kinerja dua belas unsur pimpinan lainnya, sehingga membuka ruang bagi pimpinan lain memaksimalkan potensi. PWM aktif melakukan kunjungan kerja ke daerah dan cabang, mendirikan Sekolah Kader Ulama dan Mubaligh, meningkatkan pembinaan Pondok Pesantren Darul Arqam Gombara, membuka Program Pendidikan Ulama Muhammadiyah bersama FAI Unismuh, dan mengirim kader untuk Pendidikan Ulama Tarjih Muhammadiyah di Yogyakarta dan Pondok Hajjah Nuriyah Sabron Universitas Muhammadiyah Surakarta. Periode ini juga menggulirkan regulasi setoran 2,5 persen total anggaran pendapatan amal usaha (khususnya PTM) untuk kegiatan organisasi, dengan slogan "Amal Usaha Maju bersama Persyarikatan".
Peristiwa monumental periodenya adalah pemekaran PW Muhammadiyah Sulawesi Barat dari PWM Sulsel, seiring berdirinya Provinsi Sulawesi Barat. Berdasarkan SK PP Muhammadiyah Nomor 114/KEP/I.0/B/2006 dan Nomor 115/KEP/I.0/D/2006 tanggal 16 Agustus 2006, PWM Sulbar resmi berdiri dengan kedudukan di Polewali Mandar. Peresmian dilakukan 18 Februari 2007 saat Milad ke-97 Muhammadiyah di Kota Polewali, dipimpin langsung Ketua Umum PP Muhammadiyah Prof Dr Din Syamsuddin, dengan ketua pertama Drs H Muh Yusuf Tuali. Tiga PDM (Mamuju, Majene, dan Polewali Mandar/Mamasa) beserta seluruh aset diserahkan ke PWM Sulbar. Setelah jabatan ketua berakhir, Baharuddin diminta menjadi Direktur Pondok Pesantren Darul Arqam Gombara periode 2010 sampai 2015. Dalam keseharian ia dikenal sebagai sosok bersahaja yang tinggal di rumah berukuran 8x5 meter di gang sempit Jalan Satando sejak 1959 dan kerap berkendara dengan motor tuanya, hingga PWM memfasilitasinya dengan Toyota Kijang.
Sorotan Kepemimpinan
- Ketua PWM Sulsel hasil Musywil ke-37 di Parepare untuk periode 2005 sampai 2010
- Memimpin pemekaran PW Muhammadiyah Sulawesi Barat dari PWM Sulsel pada 16 Agustus 2006
- Pendiri Sekolah Kader Ulama dan Mubaligh sebagai jawaban atas krisis kader ulama Muhammadiyah
- Menggulirkan regulasi setoran 2,5 persen anggaran amal usaha untuk kegiatan organisasi, slogan Amal Usaha Maju Bersama Persyarikatan
- Pribadi bersahaja yang dua periode menjadi Direktur Muallimat (1977 sampai 1984 dan 1994 sampai 2000) dan Direktur Pondok Pesantren Darul Arqam Gombara 2010 sampai 2015



