Waspadai FOMO, Penyakit Hati yang Mengancam Kualitas Diri Generasi Muda

MUHAMMADIYAH SULSEL, YOGYAKARTA - Wakil Ketua Majelis Tarjih dan Tajdid Pimpinan Wilayah Muhammadiyah DKI Jakarta, Nur Fajri Romadhon, mengajak generasi muda untuk mewaspadai fenomena Fear of Missing Out (FOMO). Menurutnya, FOMO bukan sekadar tren psikologis, melainkan berpotensi menjadi penyakit hati yang dapat menggerus kualitas diri serta berdampak pada kesehatan mental dan fisik jika tidak dikelola dengan baik.
Peringatan tersebut disampaikan Nur Fajri dalam sebuah kajian interaktif yang berlangsung di Masjid KH Ahmad Dahlan Universitas Muhammadiyah Yogyakarta (UMY) pada Sabtu (20/6). Dengan gaya penyampaian yang santai dan humoris, ia mengupas fenomena FOMO dari berbagai sudut pandang, meliputi psikologi, sosiologi, dan ajaran Islam.
Nur Fajri mengakui pernah merasakan sendiri kecemasan akibat takut tertinggal informasi, seperti saat menunggu kepastian penjemputan. Pengalaman personal ini, katanya, membantunya memahami kegelisahan yang kerap dialami banyak anak muda ketika merasa tertinggal dari orang lain. "Perasaan takut ketinggalan itu memang tidak nyaman. Kita terus mengecek pesan, menunggu kabar, dan merasa gelisah ketika tidak mendapat informasi yang kita harapkan," ujarnya.
Fenomena FOMO, jelas Nur Fajri, banyak menjangkiti kelompok usia 18 hingga 34 tahun. Fase kehidupan ini ditandai oleh ketidakpastian, seperti dalam hal pendidikan, pekerjaan, atau jodoh. Dalam situasi demikian, seseorang lebih mudah membandingkan dirinya dengan orang lain. Kecenderungan ini juga berkaitan dengan hakikat manusia sebagai makhluk sosial, yang secara naluriah ingin menjadi bagian dari komunitasnya. Ketika melihat orang lain menikmati sesuatu yang sedang tren, dorongan untuk ikut serta muncul agar tidak merasa tertinggal.
Namun, tidak semua FOMO bersifat negatif. Keinginan untuk tetap terhubung dengan lingkungan sosial adalah hal yang wajar dalam kadar tertentu. Permasalahan timbul ketika FOMO berkembang menjadi rasa iri, rendah diri, dan ketidakpuasan terhadap diri sendiri.
Untuk menggambarkan hal ini, Nur Fajri mengutip kisah Qarun dalam Surah Al-Qashash. Qarun digambarkan sebagai sosok yang gemar memamerkan kekayaan dan menganggap keberhasilannya murni hasil kecerdasannya. Saat Qarun tampil dengan segala kemewahannya, sebagian masyarakat terpesona dan berkata, "Aduhai, seandainya kita mempunyai seperti apa yang telah diberikan kepada Qarun. Sungguh ia benar-benar mempunyai keberuntungan yang besar." (QS. Al-Qashash: 79). Respons ini, menurut Nur Fajri, mencerminkan gejala FOMO masa kini, di mana orang merasa hidupnya kurang berarti setelah melihat kesuksesan orang lain.
FOMO yang berlebihan dapat memicu berbagai gangguan psikologis, mulai dari overthinking, gangguan tidur, kecanduan hiburan digital, hingga perilaku yang menjauhkan seseorang dari nilai-nilai agama. Dalam perspektif Islam, FOMO ekstrem dapat dikategorikan sebagai penyakit hati, serupa dengan konsep hasad atau dengki. Meskipun tidak semua FOMO identik dengan hasad, banyak penderitanya justru melampiaskan FOMO dengan merendahkan dan menyalahkan diri sendiri. Padahal, Islam melarang sikap pesimis dan merasa rendah diri, sebagaimana firman Allah dalam Surah Al-Hujurat ayat 11: "Janganlah kalian mencela diri kalian sendiri."
Islam mengajarkan optimisme dan harapan, bahkan saat menghadapi kegagalan. Nur Fajri mencontohkan bagaimana Allah menghibur kaum Muslimin setelah Perang Uhud melalui firman-Nya: "Janganlah kamu merasa lemah dan jangan pula bersedih hati, padahal kamulah orang-orang yang paling tinggi derajatnya jika kamu beriman." (QS. Ali Imran: 139). Ayat ini menunjukkan bahwa umat Islam tidak dihendaki tenggelam dalam kesedihan berkepanjangan.
Untuk mengendalikan FOMO, Nur Fajri menawarkan tiga langkah utama. Pertama, membangun lingkungan pertemanan yang sehat dan suportif. Ia mencontohkan dukungan Khadijah binti Khuwailid kepada Nabi Muhammad saw. saat pertama kali menerima wahyu, yang menghadirkan optimisme alih-alih menjatuhkan.
Kedua, memperbaiki orientasi hidup dengan menjadikan akhirat sebagai tujuan utama. Ia mengutip hadis Nabi Muhammad saw.: "Barang siapa menjadikan dunia sebagai tujuan utamanya, Allah akan mencerai-beraikan urusannya dan menjadikan kemiskinan selalu tampak di depan matanya." Sebaliknya, orientasi akhirat akan membawa ketenangan batin dan rasa cukup.
Ketiga, mengubah FOMO menjadi motivasi positif, atau "FOMO yang sehat". Ini berarti menjadikan keberhasilan orang lain sebagai inspirasi untuk melakukan kebaikan, bukan alasan untuk bersedih. "Kalau teman-teman sudah sidang skripsi, kita ikut semangat menyelesaikan skripsi. Kalau teman-teman aktif dalam kegiatan positif, kita ikut termotivasi," jelasnya.
Di akhir kajian, Nur Fajri juga menganjurkan praktik digital fasting atau puasa digital. Terlalu sering melihat pencapaian dan kemewahan orang lain di media sosial dapat memperparah FOMO. Ia mengutip Surah Thaha ayat 131: "Janganlah engkau tujukan pandanganmu kepada kenikmatan yang telah Kami berikan kepada beberapa golongan di antara mereka sebagai bunga kehidupan dunia."
Oleh karena itu, ia mengajak generasi muda untuk lebih banyak mensyukuri nikmat yang dimiliki daripada terus membandingkan diri dengan kehidupan orang lain. "Jangan sampai FOMO membuat kita kehilangan ketenangan. Jadikan keberhasilan orang lain sebagai inspirasi, bukan sumber kegelisahan. Dengan begitu kita bisa tumbuh menjadi generasi Muslim yang berkualitas," pungkasnya.





