Wakil Ketua PWM DIY: Tahun Baru 1448 H Momentum Perkuat Semangat Hijrah Menuju Hidup Lebih Baik

MUHAMMADIYAH SULSEL, YOGYAKARTA - Wakil Ketua Pimpinan Wilayah Muhammadiyah Daerah Istimewa Yogyakarta (DIY), Izman Latif, menyerukan kepada umat Islam untuk menjadikan Tahun Baru 1448 Hijriah sebagai titik tolak penguatan semangat hijrah. Momentum ini diharapkan dapat mendorong perubahan menuju kehidupan yang lebih baik dan berkualitas. Seruan tersebut disampaikan Izman dalam khutbah Jumat di Masjid Islamic Center Universitas Ahmad Dahlan pada Jumat (19/6).
Dalam khutbahnya, Izman Latif mengingatkan jamaah akan ketetapan Allah mengenai jumlah bulan, sebagaimana termaktub dalam Surah At-Taubah ayat 36. Ayat tersebut menjelaskan bahwa jumlah bulan di sisi Allah adalah dua belas, dengan empat di antaranya merupakan bulan haram yang memiliki kemuliaan khusus. Menurutnya, penetapan waktu ini merupakan bagian dari sunnatullah sejak penciptaan langit dan bumi, yang kemudian melahirkan dua sistem kalender utama: syamsiah dan qamariah.
Ia menjelaskan, kalender syamsiah yang mendasarkan perhitungannya pada peredaran bumi mengelilingi matahari, dikenal luas sebagai kalender Masehi. Sementara itu, kalender qamariah, yang berlandaskan peredaran bulan, menjadi dasar penanggalan Hijriah yang dimulai dari Muharram hingga Zulhijah. "Keduanya dalam satu tahun berjumlah dua belas bulan sebagaimana firman Allah," tegas Izman. Ia menambahkan bahwa penyebutan kalender Hijriah sebagai kalender Islam tidak lantas menafikan kalender Masehi sebagai kalender non-Islam, sebab keduanya berlandaskan keteraturan benda-benda langit yang tunduk pada hukum Allah.
Keteraturan kosmis ini, lanjut Izman, juga dijelaskan dalam Surah Yasin ayat 40, yang menyatakan bahwa matahari dan bulan bergerak pada garis edar masing-masing tanpa saling mendahului. Fenomena ini menjadi dasar perhitungan waktu bagi manusia dalam berbagai aktivitas, termasuk ibadah. Sebagai contoh, jadwal salat sehari-hari lebih banyak mengikuti perhitungan syamsiah, sedangkan pelaksanaan puasa Ramadan dan hari-hari besar Islam mengikuti kalender qamariah. "Karena itu kedua sistem kalender tersebut tetap kita gunakan secara bersama-sama," ujarnya.
Pada bagian inti khutbah, Izman mengajak jamaah merenungkan alasan penetapan peristiwa hijrah Nabi Muhammad SAW sebagai titik awal kalender Islam. Ia memaparkan, dari sekian banyak peristiwa besar dalam sejarah Rasulullah, seperti kelahiran, pengangkatan kenabian, atau kemenangan Perang Badar, para sahabat memilih hijrah karena peristiwa tersebut merupakan titik strategis bagi perkembangan dakwah dan peradaban Islam. "Hijrah dianggap sebagai titik awal perkembangan Islam," katanya.
Kedudukan hijrah yang penting ini juga ditunjukkan dalam Surah Al-Baqarah ayat 218, yang menempatkan hijrah sejajar dengan iman dan jihad sebagai syarat untuk mengharapkan rahmat Allah. Lebih lanjut, Izman mengutip hadis Rasulullah SAW yang menjelaskan bahwa seorang muhajir adalah individu yang meninggalkan segala larangan Allah. Ia juga menekankan pentingnya niat dalam setiap hijrah, sebagaimana hadis masyhur yang diriwayatkan Imam Bukhari: "Barang siapa berhijrah karena Allah dan Rasul-Nya, maka hijrahnya untuk Allah dan Rasul-Nya. Namun siapa yang berhijrah karena urusan dunia, maka ia mendapatkan sesuai dengan apa yang diniatkannya."
Dari pemaknaan tersebut, Izman Latif mengajak seluruh jamaah untuk menjadikan pergantian tahun Hijriah sebagai sarana evaluasi diri. Hijrah, menurutnya, bukan sekadar perpindahan tempat, melainkan perubahan fundamental menuju kualitas hidup yang lebih baik. "Hijrah dari yang tidak baik menjadi baik. Hijrah dari yang baik menjadi lebih baik," tegasnya. Makna hijrah yang paling sederhana adalah menjadi pribadi yang senantiasa memperbaiki diri dengan menjauhi larangan Allah, sejalan dengan harapan bagi jamaah haji yang baru kembali agar memperoleh predikat haji mabrur.
Menutup khutbahnya, Izman mengajak jamaah bersyukur atas kembalinya sebagian besar jamaah haji Indonesia dengan selamat, seraya mendoakan kemabruran haji mereka. Ia juga mengingatkan ungkapan populer di kalangan umat Islam: orang yang hari ini lebih baik dari kemarin adalah beruntung, yang sama adalah merugi, dan yang lebih buruk adalah celaka. Oleh karena itu, memasuki Tahun Baru 1448 Hijriah, umat Islam diajak untuk terus memelihara semangat perubahan dan perbaikan diri. "Semoga dengan masuk tahun baru Hijriah ini kita benar-benar dapat berhijrah menjadi lebih baik dibandingkan tahun-tahun yang lalu," pungkasnya.





