Unismuh Makassar Dorong Budaya Bersih dan Ekonomi Sampah di Jalan Sehat Milad

MUHAMMADIYAH SULSEL, MAKASSAR - Jalan Sehat Milad ke-63 Universitas Muhammadiyah Makassar tidak hanya diarahkan sebagai kegiatan olahraga dan silaturahmi, tetapi juga sebagai sarana pendidikan publik tentang budaya bersih dan pengelolaan sampah. Dalam kegiatan yang berlangsung di Kampus Unismuh Makassar, Selasa, 16 Juni 2026, pimpinan kampus menekankan bahwa kebersihan lingkungan harus menjadi bagian dari karakter sivitas akademika.
Rektor Unismuh Makassar, Dr. Ir. Abd Rakhim Nanda MT IPU, mengingatkan peserta agar menempatkan sampah pada tempat yang telah disediakan. Ia menegaskan bahwa di lingkungan Unismuh, sampah tidak lagi dipandang sebagai beban semata, melainkan sebagai sumber daya yang dapat diolah dan memiliki nilai ekonomi.
Pesan itu menunjukkan bahwa kampus sedang membangun pendekatan yang lebih sistematis terhadap isu lingkungan. Kegiatan massal seperti jalan sehat tidak dibiarkan sekadar menjadi pertemuan seremonial, tetapi digunakan untuk menanamkan kebiasaan disiplin dalam menjaga kebersihan serta mempraktikkan pengelolaan sampah langsung di lapangan.
Menurut Rakhim Nanda, sistem bank sampah yang telah berjalan di kampus menjadi salah satu fondasi penting dalam gerakan tersebut. Sampah yang dipilah dengan benar tidak berhenti sebagai limbah, tetapi masuk ke proses pengelolaan yang menghasilkan manfaat ekonomi. Dengan cara ini, edukasi lingkungan ditempatkan berdampingan dengan pembelajaran tanggung jawab sosial.
Dalam rangkaian acara itu, kampus juga memberi penghargaan kepada petugas kebersihan dengan tabungan terbesar di Bank Sampah Unismuh. Langkah ini memperlihatkan bahwa gerakan kebersihan tidak hanya mengandalkan imbauan, tetapi juga memberi pengakuan atas kontribusi nyata mereka yang menjaga sistem tetap berjalan.
Komitmen tersebut diperkuat melalui Sustainable Waste Solutions Center (SWSC) Unismuh Makassar. Melalui pusat ini, kampus mengembangkan berbagai program, mulai dari edukasi pemilahan sampah, penguatan bank sampah, pengolahan sampah organik, hingga dukungan terhadap gerakan kampus hijau.
Kepala Pusat SWSC Unismuh Makassar, Dr. Fatmawati A. Mappasere MSi, menjelaskan bahwa pengelolaan sampah harus dimulai dari sumbernya. Ia menilai persoalan sampah tidak bisa dibebankan hanya kepada petugas kebersihan atau pemerintah, sebab limbah lahir dari aktivitas harian setiap individu di lingkungan kampus dan rumah tangga.
Di Unismuh, sampah anorganik seperti botol plastik, gelas plastik, kardus, dan kertas dikumpulkan melalui mekanisme bank sampah. Setelah dipilah, sampah tersebut ditimbang, dicatat, lalu dikonversi menjadi nilai rupiah. Adapun sampah organik seperti sisa makanan dan dedaunan diolah melalui komposter dan maggot sehingga tidak menumpuk sebagai residu.
Model ini memperlihatkan bahwa kampus berupaya menghubungkan kesadaran ekologis dengan praktik ekonomi sirkular. Mahasiswa dan warga kampus tidak hanya diminta menjaga kebersihan, tetapi juga diajak memahami bahwa pengelolaan sampah yang benar dapat menciptakan manfaat material sekaligus mengurangi tekanan terhadap lingkungan.
Pelaksanaan jalan sehat yang bertepatan dengan 1 Muharram 1448 Hijriah itu menjadi bagian dari rangkaian Milad ke-63 Unismuh Makassar. Dengan menggabungkan olahraga, silaturahmi, dan edukasi lingkungan, Unismuh berupaya menegaskan bahwa perayaan institusi harus menghasilkan pesan substantif: kampus yang berkemajuan adalah kampus yang sehat, tertib, dan bertanggung jawab terhadap sampah yang dihasilkannya.



