Syafiq A. Mughni: Kepemimpinan Profetik Fondasi Moral dan Integritas Bangsa

MUHAMMADIYAH SULSEL, YOGYAKARTA - Ketua Pimpinan Pusat Muhammadiyah, Syafiq A. Mughni, menekankan urgensi kepemimpinan profetik sebagai benteng moral dan kepercayaan publik. Penegasan ini disampaikan Syafiq saat menjadi narasumber dalam Pelatihan Kepemimpinan Nasional Tingkat II Angkatan XVI yang diselenggarakan oleh Lembaga Administrasi Negara Republik Indonesia (LAN RI) di ASN Corporate University, Jakarta Pusat, pada Rabu, 10 Juni 2026.
Syafiq menggarisbawahi bahwa kepemimpinan adalah amanah sekaligus anugerah yang membawa ujian dan tanggung jawab moral besar. Ia menjelaskan, jabatan harus diraih melalui dedikasi, prestasi, dan kontribusi nyata kepada masyarakat, bukan ambisi pribadi yang menghalalkan segala cara.
Mengutip QS Al-Anβam ayat 165, Syafiq mengingatkan bahwa Allah menjadikan manusia sebagai khalifah di bumi dan meninggikan derajat sebagian di atas yang lain untuk menguji mereka. "Kepemimpinan bukan hanya amanah, tetapi juga anugerah yang di dalamnya terdapat ujian. Karena itu jabatan harus diraih dengan cara-cara yang benar melalui dedikasi dan prestasi, bukan dengan ambisi yang menghalalkan segala cara," tegas Syafiq dalam rilis berita pada Sabtu (13/6).
Dalam pemaparannya, Syafiq menguraikan konsep Prophetic Leadership, model kepemimpinan yang meneladani para nabi. Menurutnya, seorang pemimpin tidak cukup hanya mengikuti keinginan masyarakat, apalagi jika aspirasi tersebut bertentangan dengan nilai moral dan hukum. "Tugas pemimpin bukan sekadar mengikuti arus, melainkan memberikan pencerahan, mendidik, dan menggerakkan masyarakat agar semakin kuat secara moral, intelektual, maupun material," jelasnya.
Syafiq juga menyoroti pentingnya menjaga integritas di tengah berbagai dilema organisasi dan birokrasi. Seringkali, individu yang mempertahankan integritas justru dianggap kurang loyal karena tidak sejalan dengan praktik menyimpang di lingkungannya. Ia menekankan bahwa loyalitas sejati harus berpijak pada nilai kebenaran, bukan kepatuhan membabi buta kepada individu atau kelompok, sebagaimana pesan QS Ali Imran ayat 103 untuk berpegang teguh pada tali Allah dan tidak bercerai-berai.
Perkembangan ilmu pengetahuan bersifat akumulatif dan terus bertambah, lanjut Syafiq, sementara moralitas dapat mengalami pasang surut sehingga perlu senantiasa dipelihara. "Penyair Mesir, Ahmad Shawqi pernah menyatakan bahwa runtuhnya akhlak akan berujung pada runtuhnya suatu bangsa. Mengelabui aturan untuk membenarkan sesuatu yang salah secara moral tetap merupakan kejahatan moral yang berkonsekuensi lipat ganda," ujar Syafiq.
Mempertahankan integritas dalam birokrasi bukanlah perkara mudah. Syafiq mengidentifikasi dua pilihan bagi seorang moralis: pertama, keluar dari sistem demi kenyamanan pribadi; kedua, tetap bertahan di dalam sistem dan secara konsisten melakukan perbaikan secara bertahap. Ia memperingatkan bahaya normalisasi perilaku salah akibat tekanan kerja dan budaya organisasi tidak sehat, yang dapat mengikis kepercayaan publik. Regulasi yang baik tidak akan berarti tanpa keteladanan dan integritas para pemimpin. "pemimpin dan pejabat harus memiliki komitmen untuk membawa masyarakat keluar dari kegelapan moral. Jangan sampai terjadi efek saling menggoda yang akhirnya berujung pada 'penggelapan' massal, bukan pencerahan," tegas Syafiq.
Merujuk kembali pada konsep Prophetic Leadership, Syafiq berpesan agar audiens tidak terjebak dilema birokrasi, tekanan kerja tidak etis, atau pilihan hidup yang abu-abu. "Nabi Muhammad pernah mengatakan, 'Istafti Qalbak'. Tanyalah pada hati nuranimu. Hati nurani yang bersih tidak akan bisa dibohongi oleh teknikalitas hukum atau normalisasi kesalahan di lingkungan sekitar," pungkas Syafiq. Ia menyimpulkan bahwa di tengah tantangan global yang semakin kompleks, kepemimpinan berlandaskan moralitas, integritas, dan nilai profetik adalah fondasi penting untuk menjaga kepercayaan masyarakat sekaligus mewujudkan peradaban yang berkemajuan.





