Spirit Hijrah Nabi: Fondasi Kepemimpinan Amanah dan Melindungi Umat

MUHAMMADIYAHSULSEL.OR.ID - YOGYAKARTA, Jumat, 3 Juli 2020 - Anggota Majelis Tabligh Pimpinan Pusat Muhammadiyah, Fajar Rachmadani, mengajak seluruh umat Islam untuk menjadikan peristiwa hijrah Nabi Muhammad Saw sebagai inspirasi utama dalam membangun fondasi kepemimpinan. Menurutnya, kepemimpinan yang ideal harus berlandaskan pada amanah, kasih sayang, dan kesediaan berkorban demi kesejahteraan bersama.
Pesan penting ini disampaikan Fajar Rachmadani saat menyampaikan Khutbah Jumat di Masjid KH Ahmad Dahlan, Universitas Muhammadiyah Yogyakarta (UMY). Ia menggarisbawahi bahwa setiap tahapan perjalanan Rasulullah dalam peristiwa hijrah sarat dengan hikmah yang tetap relevan hingga kini. Salah satu teladan krusial adalah keputusan Nabi Saw untuk berhijrah paling akhir, setelah memastikan seluruh sahabatnya tiba di Madinah dengan selamat.
โRasulullah tidak ingin meninggalkan para sahabat sebelum memastikan mereka telah sampai di Madinah dengan aman. Beliau baru berhijrah ketika Allah memberikan izin kepadanya,โ terang Fajar.
Fajar Rachmadani, mengutip Syekh Ali Ath-Thanthawi dalam karyanya Rijalun min at-Tarikh, menyoroti bahwa tindakan Rasulullah tersebut merupakan manifestasi karakter kepemimpinan yang luar biasa. Ia menganalogikan Rasulullah dengan seorang nahkoda kapal yang bertanggung jawab penuh. Di tengah badai yang mengancam, nahkoda sejati akan memastikan semua penumpangnya selamat terlebih dahulu sebelum memikirkan keselamatannya sendiri.
Analogi lain yang disampaikannya adalah seorang penggembala yang memegang teguh amanah. Ketika harus menyeberangi lembah berbahaya, penggembala tidak akan mendahului kawanannya, melainkan memastikan seluruh ternaknya berhasil melewati rintangan dengan aman. โDi sinilah kita melihat kemuliaan akhlak kepemimpinan Rasulullah. Beliau tidak bertanya bagaimana dirinya selamat, tetapi bagaimana umatnya bisa selamat,โ tegas Fajar.
Fajar melanjutkan, Rasulullah Saw tidak pernah memanfaatkan umat sebagai sarana untuk meraih kehormatan pribadi. Sebaliknya, beliau justru menempatkan dirinya sebagai perisai, pelindung bagi keselamatan umatnya. Karakter mulia ini, imbuhnya, ditegaskan oleh Allah SWT dalam firman-Nya, Surah At-Taubah ayat 128:
ููููุฏู ุฌูุงุกูููู ู ุฑูุณูููู ู ูููู ุฃููููุณูููู ู ุนูุฒููุฒู ุนููููููู ู ูุง ุนูููุชููู ู ุญูุฑููุตู ุนูููููููู ุจูุงููู ูุคูู ูููููู ุฑูุกูููู ุฑููุญููู ู
"Sungguh, telah datang kepadamu seorang rasul dari kaummu sendiri, berat terasa olehnya penderitaan yang kamu alami, (dia) sangat menginginkan (keimanan dan keselamatan) bagimu, penyantun dan penyayang terhadap orang-orang mukmin."
Ayat tersebut, menurut Fajar, menjadi landasan spiritual utama bagi kepemimpinan dalam Islam. Seorang pemimpin tidak boleh kehilangan kepekaan terhadap kesulitan yang dihadapi oleh mereka yang dipimpinnya. โKetika rakyat mengalami kesulitan, pemimpin tidak boleh sibuk menjaga citra. Ketika umat terluka, pemimpin tidak cukup hanya menyusun kata-kata. Pemimpin sejati hadir sebagai pelindung, penenang, sekaligus pemberi arah,โ paparnya.
Oleh karena itu, Fajar menekankan bahwa wujud cinta kepada Rasulullah Saw tidak cukup hanya dengan memperbanyak selawat. Cinta tersebut harus dibuktikan melalui peneladanan keberpihakan beliau terhadap keselamatan dan kemaslahatan umat. Dalam pandangan Islam, pemimpin bukanlah sekadar figur yang berada di depan untuk memberi instruksi atau menerima penghormatan. Seorang pemimpin adalah individu yang paling besar rasa takutnya kepada Allah, paling berat dalam memikul tanggung jawab, dan paling luas kasih sayangnya kepada orang-orang yang dipimpinnya.
Fajar Rachmadani juga mengingatkan hadis Nabi Saw yang menyatakan bahwa setiap insan adalah pemimpin, dan setiap pemimpin akan dimintai pertanggungjawaban atas amanah yang diembannya. Hadis ini, jelasnya, menegaskan bahwa kepemimpinan tidak terbatas pada pejabat negara atau tokoh masyarakat semata. Seorang ayah adalah pemimpin bagi keluarganya, seorang ibu memimpin rumah tangganya, guru memimpin murid-muridnya, dosen memimpin mahasiswanya. Demikian pula setiap pengurus organisasi, direktur, kepala lembaga, hingga imam masyarakat, semuanya mengemban amanah yang kelak akan dipertanggungjawabkan di hadapan Allah Swt.
Dengan demikian, ukuran keberhasilan seorang pemimpin bukanlah besarnya jabatan, banyaknya penghormatan, atau jumlah pengikut. โPertanyaan terbesar bagi seorang pemimpin bukan berapa banyak orang menghormatinya atau berapa banyak pengikutnya, melainkan berapa banyak orang yang merasa aman karena kehadirannya,โ ujarnya. Ia menambahkan, pemimpin sejati tidak bertanya apa yang bisa diperoleh dari rakyat, melainkan apa yang dapat dikorbankan demi kemaslahatan umat.
Fajar mengibaratkan pemimpin sebagai sebuah perisai. Perisai tidak dibuat untuk dipajang, melainkan untuk menahan benturan demi melindungi pihak lain. Begitu pula seorang pemimpin yang meneladani jejak Rasulullah Saw, harus berani berada di garis depan untuk menghadapi risiko, bukan justru membiarkan orang lain menanggung beban sementara dirinya menikmati kenyamanan. Semangat kepemimpinan seperti inilah yang sangat vital dibutuhkan umat saat ini, baik dalam lingkup keluarga, lembaga, maupun masyarakat.
Seorang ayah, misalnya, jangan hanya menuntut penghormatan, tetapi melupakan kewajiban melindungi keluarganya. Pemimpin lembaga tidak cukup hanya pandai memberi perintah, tetapi juga harus bersedia mendengarkan aspirasi bawahannya. Sementara pemimpin masyarakat tidak boleh hanya muncul saat seremoni, lalu menghilang ketika rakyat membutuhkan solusi konkret.
Mengakhiri khutbahnya, Fajar Rachmadani mengingatkan bahwa jabatan adalah amanah, bukan sekadar hiasan. Kekuasaan merupakan ujian, bukan kebanggaan, dan pengaruh adalah tanggung jawab yang harus dipertanggungjawabkan di hadapan Allah Swt. โSemoga Allah menjadikan kita semua pemimpin yang amanah, baik dalam memimpin diri sendiri, keluarga, lembaga, masyarakat, maupun umat. Semoga Allah menganugerahkan kepada kita hati yang penuh kasih sayang, kepemimpinan yang adil, serta akhlak yang mulia sebagaimana akhlak Rasulullah Saw,โ pungkasnya.
Sumber: Muhammadiyah.or.id
Artikel ini dipublikasikan di muhammadiyahsulsel.or.id. Bagikan untuk menyebarkan kebaikan.





