Sentakamudya UMY Perkuat Pelestarian Budaya Nusantara, Raih Apresiasi PP Muhammadiyah

MUHAMMADIYAH.OR.ID, YOGYAKARTA - Komitmen generasi muda Muhammadiyah dalam menjaga dan melestarikan budaya bangsa kembali mengemuka melalui Pagelaran Seni Sentakamudya (PSS). Kegiatan ini diselenggarakan oleh Unit Kegiatan Mahasiswa Seni Tari dan Karawitan Universitas Muhammadiyah Yogyakarta (UMY), Sentakamudya, pada Ahad (28/6) di Auditorium Seni SMK Negeri 2 Kasihan Yogyakarta. Pagelaran yang menampilkan berbagai pertunjukan seni tradisional ini mendapat apresiasi dari Ketua Lembaga Seni Budaya Pimpinan Pusat Muhammadiyah, Gunawan Budiyanto.
Gunawan Budiyanto menyatakan bahwa inisiatif mahasiswa dalam menggelar pagelaran seni semacam ini merupakan ruang ekspresi sekaligus sarana kaderisasi budaya bagi generasi muda. Menurutnya, melalui kegiatan tersebut, mahasiswa tidak hanya berperan sebagai pelaku seni, tetapi juga sebagai penjaga warisan budaya bangsa. "Pagelaran ini menampilkan empat sajian seni yang masing-masing memiliki akar budaya yang kuat dan khas. Kegiatan semacam ini penting untuk menumbuhkan kecintaan generasi muda terhadap seni dan budaya nasional," ujar Gunawan.
Berbagai sajian seni tradisional memukau penonton, memadukan nilai estetika, sejarah, dan kearifan budaya Jawa. Pertunjukan diawali dengan Tari Baduk Molan, tarian khas Pacitan yang lazim dipentaskan dalam prosesi ruwatan tolak balak di wilayah Tegalombo. Tarian ini dikenal dengan gerakannya yang jenaka, spontan, dan penuh improvisasi, berpadu harmonis dengan iringan gamelan Jawa yang dinamis.
Selanjutnya, Konser Medley Karawitan membawakan dua karya istimewa. Karya pertama adalah Langgang Ella Elok, sebuah narasi musikal yang menggambarkan dinamika cinta, kerinduan, dan perjalanan batin manusia. Karya kedua adalah komposisi berbentuk teka-teki berbahasa Jawa dari Kijong Romasito (1959), yang sarat dengan pesan kritik sosial dan refleksi kehidupan masyarakat.
Puncak acara ditandai dengan pementasan Sendratari SAS-PA (Sasmita Pati). Karya kolosal ini mengangkat kisah heroik Ki Ageng Mangir Wanabaya, pemimpin tanah perdikan Mangir yang berani mempertahankan kedaulatan wilayahnya dari hegemoni Kerajaan Mataram. Pertunjukan ini menghadirkan perpaduan dramatik antara tari, musik, dan narasi sejarah, menggambarkan perjuangan serta akhir tragis sang tokoh setelah menghadapi strategi politik Panembahan Senopati.
Gunawan Budiyanto juga menyoroti kiprah Sentakamudya UMY dalam pelestarian budaya yang tidak hanya terbatas pada pagelaran tahunan. Sebelumnya, pada 18 Mei 2026, kelompok seni mahasiswa ini berkesempatan tampil dalam agenda budaya Srimanganti di Bangsal Srimanganti, Keraton Yogyakarta. "Dalam kesempatan tersebut, Sentakamudya membawakan pertunjukan uyon-uyon sekaligus mengiringi tari tradisional khas Yogyakarta yang sarat nilai filosofis dan budaya. Keterlibatan mereka di lingkungan Keraton menunjukkan bahwa kemampuan dan dedikasi mahasiswa UMY dalam bidang seni tradisi mendapat pengakuan dari berbagai kalangan," pungkas Gunawan.
Melalui berbagai aktivitas kesenian ini, Sentakamudya UMY terus membuktikan bahwa pelestarian budaya bukan sekadar upaya menjaga warisan masa lalu, melainkan juga ikhtiar membangun identitas dan karakter generasi masa depan. Di tengah derasnya arus globalisasi, kehadiran komunitas seni mahasiswa seperti Sentakamudya menjadi bagian penting dalam memastikan nilai-nilai budaya lokal tetap hidup, berkembang, dan relevan bagi generasi muda Indonesia.
Sumber: Muhammadiyah.or.id
Artikel ini dipublikasikan di muhammadiyahsulsel.or.id. Bagikan untuk menyebarkan kebaikan.





