Sekolah Muhammadiyah Diminta Beralih ke Manajemen Berbasis Data

MUHAMMADIYAHSULSEL.OR.ID - MAKASSAR, 26 Juli 2026 - Ketua Pimpinan Pusat Muhammadiyah Prof. Irwan Akib meminta sekolah-sekolah Muhammadiyah segera meninggalkan pola pengelolaan yang bertumpu pada kebiasaan lama dan beralih ke manajemen yang profesional, akuntabel, berbasis data, serta lebih cepat menyesuaikan diri dengan perkembangan teknologi. Seruan itu disampaikan dalam Rapat Koordinasi Wilayah Majelis Pendidikan Dasar dan Menengah serta Pendidikan Nonformal Pimpinan Wilayah Muhammadiyah Sulawesi Selatan di Pusat Dakwah Muhammadiyah Sulsel, Makassar.
Menurut Irwan, tantangan yang dihadapi sekolah Muhammadiyah kini jauh lebih kompleks dibanding masa lalu. Perubahan teknologi, pergeseran karakter peserta didik, dan kompetisi antarlembaga pendidikan menuntut sekolah bergerak dengan ukuran mutu yang jelas, bukan sekadar mengandalkan nama besar Persyarikatan. Ia menegaskan bahwa citra Muhammadiyah sebagai gerakan modern harus tercermin pula dalam tata kelola sekolah-sekolahnya.
Forum rakorwil tersebut mempertemukan pimpinan Majelis Dikdasmen dan PNF, unsur pimpinan daerah Muhammadiyah, serta kepala sekolah dan madrasah Muhammadiyah dari berbagai kabupaten dan kota di Sulawesi Selatan. Dari forum itu, pembahasan utama diarahkan pada strategi pembenahan mutu, tata kelola, dan peningkatan daya saing sekolah Muhammadiyah.
Irwan menilai perubahan tidak bisa ditunda karena sekolah yang merasa cukup dengan cara kerja lama akan tertinggal. Baginya, profesionalisme bukan hanya urusan administrasi, tetapi berkaitan langsung dengan kepercayaan masyarakat, mutu layanan, dan masa depan lembaga. Sekolah perlu mampu menunjukkan bahwa setiap program, kebijakan, dan layanan pendidikan dapat dipertanggungjawabkan secara terbuka.
Salah satu titik tekan yang disorot Irwan ialah pentingnya manajemen berbasis data. Sekolah, katanya, harus memiliki peta calon peserta didik, asal sekolah, karakter lingkungan sekitar, kebutuhan orangtua, hingga proyeksi penerimaan murid baru. Dengan data tersebut, sekolah dapat menyusun promosi, merancang program unggulan, dan menentukan prioritas pembenahan secara lebih presisi.
Pendekatan serupa juga dianggap penting dalam pengelolaan keuangan, administrasi, evaluasi pembelajaran, dan pengukuran mutu. Irwan mengingatkan bahwa indikator keberhasilan sekolah Muhammadiyah tidak boleh berhenti pada standar nasional dan nilai akreditasi semata. Sekolah perlu memastikan penguatan Al-Islam dan Kemuhammadiyahan atau ISMUBA benar-benar menjadi ruh pembelajaran, budaya sekolah, serta proses pembentukan karakter.
Ia menegaskan bahwa ISMUBA tidak seharusnya diperlakukan hanya sebagai mata pelajaran tambahan atau pembagian jam mengajar. Nilai-nilai keislaman dan kemuhammadiyahan harus hadir dalam etos pelayanan, pola kepemimpinan, pembiasaan harian, dan hubungan sekolah dengan masyarakat. Dengan begitu, keunggulan akademik berjalan seiring dengan pembinaan akhlak dan identitas Persyarikatan.
Irwan juga memberi perhatian pada kesiapan guru. Menurutnya, guru tidak lagi cukup hanya menyampaikan isi buku teks karena murid kini dapat mengakses banyak pengetahuan dasar melalui teknologi digital dan kecerdasan buatan. Karena itu, peningkatan kompetensi guru harus diarahkan pada kemampuan mengelola pembelajaran, memanfaatkan teknologi, mendampingi murid, dan menanamkan karakter.
Majelis Dikdasmen dan PNF di berbagai tingkatan diminta aktif menyusun pelatihan dan pendampingan bagi guru serta kepala sekolah. Langkah tersebut dinilai mendesak agar transformasi sekolah Muhammadiyah tidak berhenti pada slogan, melainkan menjelma menjadi perubahan kapasitas sumber daya manusia di lapangan.
Selain mutu pembelajaran, Irwan mengaitkan profesionalisme dengan kesejahteraan guru. Ia menilai kejelasan sistem penggajian dan jaminan masa depan guru akan berpengaruh pada fokus kerja dan stabilitas sekolah. Namun, perbaikan kesejahteraan memerlukan sistem pembiayaan yang sehat sehingga sekolah tidak bisa terus-menerus dibebani tuntutan layanan tinggi tanpa dukungan biaya yang realistis.
Untuk menjawab persoalan itu, ia menawarkan semangat subsidi silang. Keluarga yang memiliki kemampuan ekonomi lebih baik dapat didorong memberi kontribusi lebih besar agar sekolah tetap bisa melayani murid dari keluarga kurang mampu. Dengan model tersebut, akses pendidikan bermutu tetap terbuka tanpa mengorbankan kualitas tata kelola.
Ketua Panitia Rakorwil Dr. Aliem Bahri melaporkan kegiatan itu diikuti sekitar 130 peserta yang terdiri atas ketua dan sekretaris Majelis Dikdasmen dan PNF Pimpinan Daerah Muhammadiyah serta kepala SMA, MA, dan SMK Muhammadiyah se-Sulawesi Selatan. Selain sambutan, rakorwil diisi diskusi panel, sidang komisi, dan pelantikan tujuh kepala sekolah.
Aliem berharap forum tersebut melahirkan rekomendasi yang benar-benar bisa dipakai sekolah untuk memperkuat mutu dan meningkatkan penerimaan murid baru. Salah satu perhatian yang mengemuka ialah perlunya strategi yang lebih agresif dan terukur dalam Sistem Penerimaan Murid Baru agar sekolah Muhammadiyah mampu berkembang secara sehat.
Ketua Majelis Dikdasmen dan PNF PWM Sulawesi Selatan Prof. Erwin Akib mengungkapkan bahwa sekitar 310 sekolah Muhammadiyah dari tingkat dasar hingga menengah telah dipetakan di Sulawesi Selatan. Perkembangannya belum merata. Ada sekolah yang tumbuh sangat cepat, tetapi ada pula yang stagnan atau menurun sehingga membutuhkan pembinaan lebih intensif, regenerasi kepemimpinan, dan strategi promosi yang lebih baik.
Erwin juga mendorong keterlibatan perguruan tinggi Muhammadiyah di daerah untuk ikut membina sekolah-sekolah Muhammadiyah di wilayah masing-masing. Menurutnya, sinergi antarlembaga pendidikan dalam satu ekosistem Persyarikatan penting untuk membangun jalur kaderisasi dan peningkatan mutu yang berkelanjutan.
Sementara itu, Ketua PWM Sulawesi Selatan Prof. Ambo Asse menambahkan bahwa kepala sekolah Muhammadiyah tidak boleh berada di zona nyaman. Mengelola sekolah, menurutnya, adalah amanah yang menuntut pikiran, komitmen, dan keberanian mencari terobosan. Ia juga mengingatkan agar persoalan internal tidak dibiarkan menghambat kemajuan sekolah.
Ambo meminta semua unsur pimpinan, majelis, kepala sekolah, dan guru membangun sinergi untuk menghidupkan sekolah yang melemah dan menyelesaikan konflik melalui musyawarah. Sekolah Muhammadiyah, katanya, harus dipromosikan melalui prestasi dan layanan yang baik, bukan dibebani citra buruk akibat pertentangan internal yang diumbar ke ruang publik.
Menutup arahannya, Irwan berharap rakorwil menghasilkan langkah jangka pendek, menengah, dan panjang yang dapat segera diterapkan oleh setiap sekolah. Ukuran keberhasilan tidak berhenti pada rekomendasi di atas kertas, tetapi pada kesanggupan sekolah Muhammadiyah di Sulawesi Selatan mengubah tata kelola, memperbaiki mutu, dan membangun kepercayaan masyarakat secara nyata.
Sumber: Khittah.co
Artikel ini dipublikasikan di muhammadiyahsulsel.or.id. Bagikan untuk menyebarkan kebaikan.





