Satu Abad Majelis Tarjih, Muhammadiyah Dorong Fikih Menjawab Persoalan Zaman

MUHAMMADIYAHSULSEL.OR.ID, SURABAYA – Muhammadiyah memperkuat pengembangan pemikiran fikih agar tetap relevan dengan dinamika kehidupan umat dan tantangan zaman. Upaya tersebut menjadi salah satu fokus Musyawarah Nasional (Munas) Tarjih XXXIII yang digelar Majelis Tarjih dan Tajdid Pimpinan Pusat Muhammadiyah di Universitas Muhammadiyah Surabaya, Kamis (5/11/2026).
Munas yang menjadi bagian dari momentum satu abad Majelis Tarjih ini mengusung tema “Meneguhkan Akidah, Memperindah Akhlak, Menguatkan Ibadah, dan Memberdayakan Umat untuk Peradaban Berkemajuan”.
Forum tersebut membahas lima agenda utama, yakni Fikih Lanjut Usia, Fikih Kedaulatan Pangan, Risalah Akidah Islam Muhammadiyah, Risalah Akhlak Islam Praktis, serta pengembangan tuntunan ibadah terkait persoalan tatswib.
Ketua Umum Pimpinan Pusat Muhammadiyah, Haedar Nashir, berharap pembahasan yang melibatkan ulama tarjih dari berbagai daerah itu berlangsung mendalam dan menyeluruh. Ia menekankan bahwa hasil Munas diharapkan memberi manfaat bagi umat, bangsa, dan kemanusiaan.
“Sebagai manifestasi dari pandangan Islam berkemajuan,” ujar Haedar.
Dalam pembahasan Fikih Lanjut Usia, Haedar mengingatkan agar rumusan yang disusun tidak hanya berfokus pada kelompok lansia dengan kondisi ekonomi mapan. Menurutnya, kebutuhan warga lanjut usia dari berbagai lapisan sosial perlu menjadi perhatian.
“Hati-hati, jangan hanya berpikir lansia elite. Banyak lansia menengah ke bawah yang harus masuk dalam Fikih Lansia itu. Tolong ini diperhatikan supaya desain model untuk pengembangan lansia itu tidak elitis,” tegas Haedar.
Ia menilai panduan keagamaan mengenai lansia perlu mempertimbangkan realitas sosial yang beragam. Dengan begitu, rumusan yang dihasilkan dapat menjangkau masyarakat secara luas dan menjawab kebutuhan mereka dalam kehidupan sehari-hari.
Ketua Majelis Tarjih dan Tajdid PP Muhammadiyah, Ustadi Hamsah, menyampaikan bahwa sekitar 320 ulama tarjih mengikuti Munas dan terbagi dalam sejumlah komisi. Ia berharap para peserta dapat menyumbangkan pemikiran yang bermanfaat bagi umat Islam, bangsa, dan Persyarikatan.
“Semoga Munas Tarjih ke-33 ini menghasilkan sesuatu yang luar biasa,” kata Ustadi.
Selain sidang komisi, rangkaian Munas juga mencakup seminar tentang kedaulatan pangan serta pembahasan legasi KH Mas Mansur dalam bidang tarjih dan kebangsaan. Peserta juga dijadwalkan mengikuti napak tilas perjuangan KH Mas Mansur di Surabaya.
Ketua Pimpinan Wilayah Muhammadiyah Jawa Timur, Sukadiono, menyampaikan apresiasi atas kepercayaan PP Muhammadiyah yang menunjuk Jawa Timur sebagai tuan rumah. Ia juga mengapresiasi dukungan Universitas Muhammadiyah Surabaya dalam penyelenggaraan agenda nasional tersebut.
Rektor Universitas Muhammadiyah Surabaya, Mundakir, menyampaikan bahwa pihak kampus telah menyiapkan kebutuhan peserta, termasuk fasilitas transportasi dan akomodasi. Persiapan itu dilakukan untuk memastikan kegiatan berlangsung dengan baik.
Melalui Munas Tarjih XXXIII, Muhammadiyah berupaya menjaga kesinambungan tradisi keilmuan sekaligus memperluas jangkauan pemikiran fikih. Hasil pembahasan diharapkan menjadi panduan yang relevan bagi kehidupan umat dan mendorong terwujudnya peradaban yang berkemajuan.
Sumber: Muhammadiyah.or.id
Artikel ini dipublikasikan di muhammadiyahsulsel.or.id. Bagikan untuk menyebarkan kebaikan.





