Refleksi Islam: Ikhtiar dan Takdir dalam Kisah Lamine Yamal dan Lionel Messi

MUHAMMADIYAHSULSEL.OR.ID - YOGYAKARTA, 22 Juli 2024 - Sebuah potret yang merekam momen Lionel Messi memandikan seorang bayi berusia lima bulan pada sesi pemotretan amal UNICEF di Barcelona tahun 2007 kini kembali menjadi perbincangan hangat. Bayi dalam foto tersebut, yang tak lain adalah Lamine Yamal, baru-baru ini menorehkan sejarah sebagai juara dunia sepak bola di usia 19 tahun. Kisah ini memicu narasi tentang "takdir yang telah tertulis", namun lebih dari sekadar kebetulan, peristiwa ini sejatinya menghadirkan pelajaran mendalam tentang ikhtiar, takdir Allah, dan sikap tawakal seorang hamba.
Ketika foto itu diambil, Messi, yang kala itu berusia 20 tahun, memang sudah mulai menarik perhatian. Namun, ia belum mencapai status legenda seperti yang dikenal dunia saat ini. Perjalanan kariernya adalah bukti bahwa bakat harus ditempa dengan disiplin, konsistensi, dan kerja keras tanpa henti. Messi pernah menghadapi titik terendah, seperti kekalahan menyakitkan di Final Copa America 2016 yang sempat membuatnya menyatakan pensiun. Namun, ia bangkit, kembali membela Argentina, hingga akhirnya meraih gelar Piala Dunia 2022 dan menjadi runner-up Piala Dunia 2026. Koleksi delapan Ballon d’Or, dua Copa América, serta berbagai trofi klub dan penghargaan individu menegaskan statusnya sebagai salah satu yang terbaik sepanjang masa.
Di sisi lain, Lamine Yamal, bayi dalam foto itu, juga menempuh jalannya sendiri. Tak ada jaminan ia akan menjadi pesepak bola profesional. Namun, Yamal memilih jalur sepak bola, bergabung dengan akademi La Masia, dan mengasah kemampuannya dengan gigih. Konsistensi dan kerja kerasnya membawanya memperkuat Barcelona dan Tim Nasional Spanyol. Puncaknya, pada 19 Juli 2026, di MetLife Stadium Amerika, Yamal yang baru berusia 19 tahun berhasil mewujudkan impian jutaan pemain: menjadi juara dunia bersama Spanyol. Lebih dramatis lagi, ia mengalahkan Tim Nasional Argentina yang diperkuat oleh Lionel Messi, seniornya di Barcelona sekaligus sosok yang pernah memotret bersamanya 19 tahun silam.
Memahami Takdir dan Ikhtiar dalam Islam
Dalam ajaran Islam, konsep takdir dan ikhtiar bukanlah dua hal yang bertentangan. Seorang muslim diwajibkan untuk berikhtiar atau berusaha semaksimal mungkin, sementara hasil akhirnya sepenuhnya berada dalam ketetapan Allah SWT. Sebagaimana firman Allah dalam Surah An-Najm Ayat 39:
وَأَن لَّيْسَ لِلْإِنسَٰنِ إِلَّا مَا سَعَىٰ
"Dan bahwa manusia hanya memperoleh apa yang telah diusahakannya."
Ayat ini secara jelas menegaskan bahwa Islam sangat menghargai usaha. Keberhasilan bukanlah buah dari angan-angan semata, melainkan hasil dari kerja keras, kesungguhan, kesabaran, dan ketekunan yang terus-menerus. Baik Messi maupun Yamal tidak mencapai puncak karier mereka hanya karena sebuah foto atau kebetulan semata. Mereka sampai di sana melalui ribuan jam latihan, pengorbanan, disiplin, kerja sama tim, dan konsistensi yang dijalani selama bertahun-tahun.
Ikhtiar dan Tawakal: Dua Sisi yang Tak Terpisahkan
Dari kisah ini, kita juga belajar bahwa di antara kerja keras dan suratan takdir, terdapat benang merah yang menyatukan keduanya, yaitu tawakal. Tawakal berarti percaya sepenuhnya terhadap hasil akhir hanya kepada kehendak Allah semata, setelah segala upaya maksimal telah dilakukan. Allah berfirman dalam Surah Al-Furqan Ayat 2:
ٱلَّذِى لَهُۥ مُلْكُ ٱلسَّمَٰوَٰتِ وَٱلْأَرْضِ وَلَمْ يَتَّخِذْ وَلَدًا وَلَمْ يَكُن لَّهُۥ شَرِيكٌ فِى ٱلْمُلْكِ وَخَلَقَ كُلَّ شَىْءٍ فَقَدَّرَهُۥ تَقْدِيرًا
"Yang kepunyaan-Nya-lah kerajaan langit dan bumi, dan Dia tidak mempunyai anak, dan tidak ada sekutu bagi-Nya dalam kekuasaan(Nya), dan Dia telah menciptakan segala sesuatu, dan Dia menetapkan ukuran-ukurannya dengan serapi-rapinya."
Ayat ini mengingatkan bahwa segala sesuatu telah ditetapkan dalam ukuran, ilmu, dan ketetapan Allah. Ini mencakup seluruh perjalanan hidup seseorang, rezeki, keberhasilan, bahkan pertemuan-pertemuan kecil yang maknanya baru terungkap bertahun-tahun kemudian. Mungkin pada tahun 2007, tak seorang pun membayangkan bayi dalam pelukan Messi kelak akan berdiri di panggung tertinggi sepak bola dunia bersamanya. Namun, Allah telah mengetahui seluruh perjalanan itu jauh sebelum manusia menyadarinya.
Inilah keseimbangan dalam ajaran Islam. Kita tidak diajarkan untuk menjadi fatalis, menyerah sepenuhnya pada nasib tanpa usaha. Lebih jauh, Islam juga mengajarkan kita untuk tidak menjadi sombong, seolah-olah seluruh keberhasilan adalah murni hasil kerja keras semata.
Oleh karena itu, kisah Messi dan Lamine Yamal bukanlah tentang "sentuhan ajaib" yang mengubah nasib. Foto itu hanyalah sepotong momen. Yang lebih penting adalah bagaimana masing-masing menjalani hidupnya dengan kerja keras, kesungguhan, dan keteguhan untuk terus berkembang. Jika kemudian Allah menghendaki keduanya menjadi juara dunia, maka itulah bagian dari takdir-Nya yang terbaik.
Pada akhirnya, keduanya memiliki "Piala Dunia" masing-masing. Messi meraihnya di tahun 2022, sementara Lamine Yamal menyusul dengan mengalahkan tim nasional Argentina yang dibela Messi pada tahun 2026. Pelajaran terbesar dari kisah ini adalah bahwa setiap impian membutuhkan ikhtiar, setiap hasil adalah ketetapan Allah, dan setiap langkah harus diiringi dengan tawakal. Sebab, manusia hanya diwajibkan berusaha. Adapun hasil akhirnya, Allah-lah sebaik-baik Penentu takdir.
Sumber: Muhammadiyah.or.id
Artikel ini dipublikasikan di muhammadiyahsulsel.or.id. Bagikan untuk menyebarkan kebaikan.





