Muhammadiyah Sulsel Desak Penanganan Irigasi Sawah Pinrang yang Terancam Gagal Panen

MUHAMMADIYAHSULSEL.OR.ID, PINRANG - Ancaman gagal panen di Kelurahan Tatae, Kecamatan Duampanua, Kabupaten Pinrang, mendapat respons langsung dari Pimpinan Wilayah Muhammadiyah Sulawesi Selatan bersama Jaringan Tani Muhammadiyah. Pada Kamis, 3 September 2026, jajaran Muhammadiyah turun ke lokasi untuk meninjau area persawahan yang mengalami krisis air setelah saluran irigasi sekunder dan tersier di wilayah itu tidak lagi mendapat pasokan.
Kunjungan lapangan ini penting karena masalah yang dihadapi petani bukan sekadar kekhawatiran abstrak. Menurut keterangan dari lokasi, sebagian tanaman padi sudah memasuki fase penting menjelang panen, sehingga keterlambatan penanganan dapat langsung berubah menjadi kerugian ekonomi bagi petani. Dengan kata lain, yang dipertaruhkan bukan hanya produksi pertanian, tetapi juga keberlangsungan penghidupan warga yang bergantung pada sawah tersebut.
Wakil Ketua PWM Sulsel Prof. Arifuddin Ahmad mengatakan pihaknya melihat perbedaan kondisi air yang cukup tajam di sejumlah titik persawahan Pinrang. "Tadi kami ikut menyaksikan panen di Kecamatan Patampanua. Debit air di saluran primer dan sekunder masih cukup memadai. Sementara di Kelurahan Tatae, Kecamatan Duampanua, sudah tidak ada debit air di saluran sekunder dan tersier," ujarnya saat dikonfirmasi dari lokasi.
Arifuddin menegaskan bahwa ancaman terhadap lahan yang terdampak tidak kecil. "Ada ribuan hektar sawah yang terancam gagal panen kalau kondisi ini tidak segera tertangani. Karena itu, kami berharap persoalan ini bisa dicarikan jalan keluar bersama," katanya. Pernyataan ini menunjukkan bahwa kunjungan PWM Sulsel bukan acara seremonial, tetapi bagian dari upaya membawa kondisi petani ke ruang perhatian publik dan pemerintah.
PWM Sulsel menyatakan siap membuka komunikasi dan kolaborasi dengan pemerintah daerah serta instansi terkait agar pasokan air dapat segera dipulihkan. "Kami siap berkomunikasi dan berkolaborasi dengan pemerintah. Informasi dari lapangan ini kami sampaikan sebagai bagian dari ikhtiar bersama menjaga agar petani tidak mengalami kerugian yang lebih besar," kata Arifuddin. Posisi ini memberi bobot pada pemberitaan karena ada tindakan nyata berupa peninjauan, penyampaian kondisi lapangan, dan komitmen advokasi kelembagaan.
Keterlibatan Jaringan Tani Muhammadiyah dan Majelis Pemberdayaan Masyarakat juga membuat isu ini relevan dengan agenda pemberdayaan Persyarikatan. Ancaman gagal panen di Pinrang tidak diperlakukan sebagai masalah teknis semata, melainkan sebagai persoalan yang menyangkut ketahanan ekonomi warga desa dan keberlanjutan usaha tani. Dalam konteks Sulawesi Selatan yang masih sangat ditopang sektor pertanian, respons seperti ini layak dicatat sebagai bentuk keberpihakan Muhammadiyah terhadap persoalan riil masyarakat.
Karena itu, kasus di Tatae layak dipublikasikan sebagai berita yang memenuhi unsur dampak publik. Ada situasi lapangan yang terverifikasi, ada potensi kerugian dalam skala besar, ada peninjauan langsung oleh pimpinan Muhammadiyah Sulsel, dan ada seruan terbuka untuk penanganan bersama. Elemen-elemen ini membedakannya dari sekadar agenda internal tanpa outcome yang jelas.
Sumber: Khittah.co
Artikel ini dipublikasikan di muhammadiyahsulsel.or.id. Bagikan untuk menyebarkan kebaikan.





