Rahmadi Wibowo: Surga sebagai Harapan Tertinggi, Motivasi Peningkatan Ilmu, Amal, dan Rezeki

MUHAMMADIYAHSULSEL.OR.ID - YOGYAKARTA, 17 Juli 2020 - Anggota Majelis Tarjih dan Tajdid Pimpinan Pusat Muhammadiyah, Rahmadi Wibowo, menyerukan kepada umat Islam untuk menjadikan surga sebagai puncak harapan dalam menjalani kehidupan. Seruan tersebut disampaikan dalam khutbah Jumat yang dilaksanakan di Masjid Islamic Center Universitas Ahmad Dahlan.
Dalam awal khutbahnya, Rahmadi mengajak jemaah untuk senantiasa mensyukuri berbagai nikmat Allah SWT, khususnya karunia usia yang masih diberikan. Menurutnya, umur merupakan anugerah tak ternilai yang membuka kesempatan bagi setiap individu untuk terus beribadah dan melakukan perbaikan diri. Ia mengingatkan bahwa meskipun secara hitungan angka umur terus bertambah, hakikatnya jatah kehidupan justru semakin berkurang. Oleh karena itu, setiap muslim diimbau untuk memanfaatkan sisa umurnya dengan sebaik-baiknya demi mendekatkan diri kepada Allah SWT.
Lebih lanjut, Rahmadi juga mengajak jemaah untuk memperbanyak selawat kepada Nabi Muhammad saw., sosok teladan utama bagi seluruh umat manusia. Mengikuti tuntunan Rasulullah, tegasnya, adalah jalan menuju keselamatan, serta menjadi bagian dari umat yang berhak mendapatkan syafaat dan meraih surga. Pelaksanaan salat Jumat, menurut Rahmadi, merupakan salah satu wujud nyata dari ketaatan terhadap sunah Rasulullah. Kehadiran kaum muslimin di masjid, oleh karena itu, harus dimaknai sebagai bagian dari upaya berkelanjutan dalam meningkatkan ketakwaan dan kedekatan dengan Sang Pencipta.
Rahmadi menjelaskan bahwa salah satu manifestasi kasih sayang Allah kepada manusia adalah diturunkannya agama Islam. Agama ini tidak hanya mengatur aspek ibadah, tetapi juga menanamkan optimisme dan harapan dalam setiap sendi kehidupan. Ia menekankan bahwa harapan adalah kebutuhan fundamental bagi setiap insan. Ketiadaan harapan dapat menjerumuskan seseorang pada keputusasaan, bahkan mendorong pada tindakan yang merugikan diri sendiri. Sebaliknya, individu yang merasa telah mencapai segala cita-cita duniawi juga berpotensi kehilangan semangat karena menganggap tidak lagi memiliki tujuan.
“Harapan harus selalu hidup dalam diri seorang muslim. Kita berharap hari esok lebih baik daripada hari ini, dan berharap anak-anak kita menjadi generasi yang lebih baik daripada kita,” ujar Rahmadi.
Ia kemudian mengutip perkataan Khalifah Umar bin Abdul Aziz yang menggambarkan semangat untuk terus berkembang. Umar bin Abdul Aziz pernah menyatakan bahwa setiap kali berhasil meraih sesuatu di dunia, ia selalu menginginkan sesuatu yang lebih baik, hingga akhirnya menyadari bahwa tujuan tertinggi yang layak diharapkan adalah surga. Dari kisah ini, Rahmadi menegaskan bahwa seorang muslim boleh memiliki cita-cita duniawi, namun cita-cita tertinggi yang wajib ditanamkan adalah meraih surga Allah.
Untuk memperkuat pesannya, Rahmadi mengulas kisah Nabi Adam dan Iblis yang termaktub dalam Al-Qur’an. Keduanya sama-sama pernah melakukan pelanggaran terhadap perintah Allah, namun memperoleh akhir yang berbeda. Nabi Adam, menurut Rahmadi, mengakui kesalahannya dan memohon ampun kepada Allah melalui doa, “Rabbanā ẓalamnā anfusanā wa illam tagfir lanā wa tarḥamnā lanakūnanna minal khāsirīn.” (Ya Tuhan kami, kami telah menzalimi diri kami sendiri. Jika Engkau tidak mengampuni kami dan memberi rahmat kepada kami, niscaya kami termasuk orang-orang yang merugi.) Berkat taubatnya yang tulus, Nabi Adam memperoleh rahmat Allah. Sebaliknya, Iblis menolak mengakui kesalahannya, bahkan merasa dirinya lebih baik daripada Adam, sehingga ia terusir dan kehilangan kemuliaan.
“Dari kisah itu kita belajar bahwa ketika melakukan kesalahan, seorang mukmin harus berani mengakuinya, meminta maaf kepada sesama manusia jika berkaitan dengan hak mereka, dan memohon ampun kepada Allah,” jelas Rahmadi.
Istigfar, tambah Rahmadi, harus menjadi bagian tak terpisahkan dari kehidupan sehari-hari seorang muslim. Ia mengingatkan berbagai riwayat yang menyebutkan bahwa Rasulullah saw. beristigfar puluhan hingga seratus kali dalam sehari, termasuk dengan membaca Sayyidul Istigfar sebagai doa permohonan ampunan kepada Allah.
Pada khutbah kedua, Rahmadi kembali mengangkat pesan Umar bin Abdul Aziz mengenai urgensi memiliki jiwa yang senantiasa ingin bertumbuh. Menurutnya, terdapat tiga aspek utama yang harus terus ditingkatkan oleh setiap muslim.
Pertama adalah ilmu. Ia menegaskan bahwa seorang muslim adalah pembelajar sepanjang hayat yang tak henti membaca, mendengar, dan menambah pengetahuan, sebagaimana termaktub dalam doa Al-Qur’an, “Rabbi zidnī ‘ilmā.” (Ya Tuhanku, tambahkanlah ilmu kepadaku.)
Kedua adalah amal. Rahmadi mengingatkan bahwa amal tidak hanya terbatas pada ibadah mahdah seperti salat, tetapi juga mencakup seluruh perilaku sehari-hari, termasuk tutur kata kepada pasangan, anak, keluarga, maupun sesama.
Adapun aspek ketiga adalah rezeki. Ia mendorong jemaah untuk meningkatkan rezeki, bukan semata dari sisi kuantitas, melainkan juga kualitasnya, agar menjadi rezeki yang halal, baik, dan membawa keberkahan.
Sebagai penutup khutbahnya, Rahmadi mengajak jemaah untuk memanjatkan doa yang diajarkan Rasulullah saw., “Allāhumma innī as’aluka ‘ilman nāfi’an, wa rizqan ṭayyiban…” (Ya Allah, sungguh aku memohon kepada-Mu ilmu yang bermanfaat, rezeki yang baik...) sebagai ikhtiar memohon ilmu yang bermanfaat, rezeki yang baik, serta keberhasilan hidup di dunia dan akhirat.
Sumber: Muhammadiyah.or.id
Artikel ini dipublikasikan di muhammadiyahsulsel.or.id. Bagikan untuk menyebarkan kebaikan.





