PP Muhammadiyah Dorong Lulusan PTMA Mandiri di Tengah Tantangan Ekonomi Global

MUHAMMADIYAH SULSEL, YOGYAKARTA - Ketua Majelis Pendidikan Tinggi, Penelitian, dan Pengembangan (Diktilitbang) Pimpinan Pusat (PP) Muhammadiyah, Bambang Setiadji, mengajak lulusan Perguruan Tinggi Muhammadiyah-Áisyiyah (PTMA) untuk membangun kemandirian ekonomi. Dorongan ini disampaikan di tengah proyeksi dunia kerja yang semakin sulit diprediksi dan rekrutmen tenaga kerja yang cenderung lesu.
Ajakan tersebut disampaikan Bambang Setiadji pada Sabtu (13/6) dalam acara Wisuda Universitas Muhammadiyah (UM) Indonesia di Bekasi. Ia mengawali sambutannya dengan menyoroti kondisi ekonomi Indonesia dan global yang sedang tidak stabil, ditandai dengan melemahnya nilai tukar rupiah terhadap dolar.
“Kalau dalam ekonomi yang memanas mungkin pengusaha industri akan mengerem untuk perekrutan tenaga kerja,” ujar Bambang, menggambarkan dampak situasi ekonomi terhadap ketersediaan lapangan kerja. Namun, ia menekankan bahwa sebagai seorang muslim, tidak sepatutnya berputus asa atau pasif menghadapi kesulitan ini.
Oleh karena itu, Bambang secara tegas mendorong para lulusan PTMA agar berani memulai usaha sendiri. Ia menyarankan agar jenis usaha tidak melulu berbentuk konvensional, melainkan dapat mengintegrasikan aspek konvensional dengan digital. Menurutnya, era digital telah melipat jarak dan membuka peluang baru.
“Buatlah usaha, sekarang itu era toko-toko online dengan sangat mudah itu dibuat. Pokoknya eranya itu era kemandirian - namanya gauge economy,” jelas Bambang. Ia menyarankan agar lulusan tidak lagi menggantungkan harapan pekerjaan pada institusi-institusi konvensional, melainkan harus lebih kreatif dalam menciptakan lapangan pekerjaan yang relevan dengan perkembangan zaman.
“Buatlah usahamu sendiri, sesuai impianmu sendiri. Wujudkanlah ekonomi kemandirian,” imbuhnya.
Senada dengan pandangan Bambang Setiadji, Wakil Menteri Ketenagakerjaan RI, Afriansyah Noor, yang juga hadir dalam kesempatan tersebut, turut menyampaikan persetujuannya. Afriansyah menyoroti realitas kecerdasan buatan (AI) yang kini menjadi bagian tak terpisahkan dari dunia kerja. Ia menekankan pentingnya bagi tenaga kerja produktif untuk menyadari dan mampu memanfaatkan teknologi ini.
“Dunia industri tidak lagi hanya mencari individu yang memegang selembar ijazah, melainkan mencari sarjana yang cakap, mereka yang memiliki kompetensi nyata, adaptif, dan siap langsung berkontribusi,” ungkap Afriansyah.
Untuk itu, ia meminta Muhammadiyah untuk mengambil peran aktif dalam membantu pemerintah mencetak generasi yang siap maju, mampu mengembangkan diri, dan membangun kemandirian ekonomi yang kuat.





