Piala Dunia dan Renungan Waktu: Memaknai Usia di Tengah Perputaran Generasi

MUHAMMADIYAHSULSEL.OR.ID - YOGYAKARTA, 10 Juni 2024 - Sepak bola, dengan daya tariknya yang universal, telah lama menjadi fenomena global yang melampaui sekadar olahraga. Nama-nama besar seperti Lionel Messi, Cristiano Ronaldo, Neymar Jr., Luka Modrić, dan Manuel Neuer, adalah ikon yang tak terpisahkan dari panggung Piala Dunia, memukau jutaan pasang mata di seluruh dunia. Lebih dari sekadar tontonan, sepak bola kerap menjadi jembatan kenangan antar generasi. Dari mendampingi ayah menyaksikan laga hingga mendengar kisah kakek tentang legenda masa lalu, euforia gol yang dirayakan bersama di depan layar televisi menjadi bagian tak terpisahkan dari memori banyak keluarga.
Namun, di balik gemerlap kompetisi dan sorotan dunia, ada sebuah pesan tersirat tentang waktu yang terus berputar. Menjelang perhelatan akbar seperti Piala Dunia, kita disadarkan bahwa turnamen ini bukan hanya ajang persaingan, melainkan juga panggung perpisahan bagi banyak legenda yang telah mewarnai masa lalu kita. Satu per satu, para bintang lapangan hijau ini mulai menutup lembaran karier mereka. Messi, yang nyaris menuntaskan seluruh impiannya; Ronaldo, dengan selebrasi "Siuuu" yang ikonik; atau Neymar Jr., dengan gaya jogo bonito yang memikat. Mereka, yang dahulu adalah anak-anak penuh mimpi, kini telah menjadi pesepak bola senior yang perlahan mengakhiri perjalanan bersama tim nasionalnya.
Fenomena ini bukan sekadar menandai berakhirnya sebuah era dalam dunia sepak bola. Lebih dari itu, momen tersebut secara halus mengingatkan kita bahwa waktu juga terus berjalan bagi setiap individu. Tanpa disadari, sebagian dari kita kini telah memasuki fase kehidupan yang berbeda, mulai dari bekerja, berkeluarga, hingga memiliki anak yang mulai mengidolakan pemain generasi baru. Dunia terus bergerak, prestasi berganti, popularitas berpindah, dan generasi silih berganti. Dari sini, kita diajak untuk memahami bahwa setiap pertambahan usia seharusnya diiringi dengan pertumbuhan diri yang lebih baik. Jika dahulu semangat kita begitu besar dalam mengikuti perjalanan karier para pesepak bola dunia, maka kini seharusnya kita lebih bersemangat untuk memperbaiki perjalanan hidup pribadi. Ini mencakup bekerja lebih sungguh-sungguh, berupaya menjadi pribadi yang lebih bermanfaat, dan yang terpenting, senantiasa memperbaiki hubungan dengan Allah Swt.
Allah Swt. telah memberikan pengingat yang mendalam melalui Surah Al-Asr ayat 1-3:
وَالْعَصْرِ إِنَّ الْإِنسَانَ لَفِي خُسْرٍ إِلَّا الَّذِينَ آمَنُوا وَعَمِلُوا الصَّالِحَاتِ وَتَوَاصَوْا بِالْحَقِّ وَتَوَاصَوْا بِالصَّبْرِ
"Demi masa. Sesungguhnya manusia benar-benar berada dalam kerugian, kecuali orang-orang yang beriman dan mengerjakan kebajikan serta saling menasihati untuk kebenaran dan saling menasihati untuk kesabaran."
Surah yang singkat namun sarat makna ini menegaskan bahwa waktu adalah modal kehidupan yang paling berharga. Allah bersumpah "Demi Masa" untuk menunjukkan betapa esensialnya waktu. Manusia pada hakikatnya berada dalam kerugian karena umur terus berkurang, kecuali mereka yang mengisinya dengan empat bekal utama: iman, amal saleh, saling menasihati dalam kebenaran, dan saling menasihati dalam kesabaran.
Oleh karena itu, pertanyaan yang relevan bukanlah berapa usia kita saat ini, melainkan apa yang telah berubah dan membaik dalam diri kita seiring bertambahnya usia tersebut? Sudahkah salat kita semakin terjaga? Sudahkah doa kita semakin khusyuk? Sudahkah amal kebajikan kita semakin banyak? Sudahkah kita bertransformasi menjadi pribadi yang lebih sabar, lebih jujur, dan lebih bermanfaat bagi sesama?
Euforia Piala Dunia memang memikat dan selalu dinanti oleh masyarakat dunia. Namun, jangan sampai kita terlena dan terjebak dalam gemerlapnya. Sepak bola akan terus melahirkan generasi baru, akan muncul "Messi-Messi" berikutnya, "Ronaldo-Ronaldo" berikutnya, dan bintang-bintang baru yang akan memenuhi panggung dunia. Akan tetapi, kehidupan kita masing-masing juga sedang bergerak menuju garis akhirnya. Maka, nikmatilah setiap fase kehidupan dengan penuh syukur. Simpanlah kenangan masa muda sebagai cerita yang indah, tetapi jangan biarkan hati terlalu terpaut pada gemerlap dunia yang fana. Sebab, ketika peluit panjang kehidupan akhirnya ditiup, yang akan menentukan kemenangan sejati bukanlah seberapa banyak pertandingan yang kita saksikan, melainkan seberapa baik kita telah memanfaatkan waktu yang Allah titipkan. Itulah kemenangan yang sesungguhnya.
Penulis: Bhisma Rahaditya Handoko
Sumber: Muhammadiyah.or.id
Artikel ini dipublikasikan di muhammadiyahsulsel.or.id. Bagikan untuk menyebarkan kebaikan.





