Penguasaan Bahasa Arab, Kunci Santri Muhammadiyah Berwawasan Global dan Akses Ilmu Keislaman

MUHAMMADIYAH SULSEL, YOGYAKARTA - Pimpinan Pusat Muhammadiyah menegaskan urgensi penguatan pembelajaran bahasa Arab di seluruh pesantren Muhammadiyah sebagai respons terhadap tantangan global dan dinamika pendidikan Islam. Penegasan ini disampaikan oleh Ketua Lembaga Pengembangan Pesantren (LP2) Pimpinan Pusat Muhammadiyah, Maskuri, dalam Seminar Nasional Pembelajaran Bahasa Arab Berkemajuan di Pesantren Muhammadiyah. Acara tersebut berlangsung di Auditorium KH Ahmad Dahlan, Universitas Muhammadiyah Bandung (UM Bandung), pada Sabtu, 20 Juni 2020.
Menurut Maskuri, penguasaan bahasa Arab yang mumpuni merupakan kunci utama untuk membuka akses santri terhadap khazanah keilmuan Islam yang kaya, yang banyak tersimpan dalam kitab-kitab turats. Selain itu, kemampuan ini juga menjadi bekal esensial bagi para santri yang berkeinginan melanjutkan studi ke berbagai perguruan tinggi terkemuka di dunia Islam. "Penguasaan bahasa Arab menjadi salah satu kunci untuk memahami khazanah keilmuan Islam yang tertuang dalam kitab-kitab turats. Selain itu, peluang studi ke luar negeri seperti ke Mesir, Maroko, hingga Libya semakin terbuka luas bagi lulusan pesantren yang menguasai bahasa Arab dengan baik," ujarnya.
Ia menambahkan, saat ini Muhammadiyah mengelola sekitar 448 pesantren di berbagai wilayah Indonesia. Jumlah ini diharapkan terus bertambah seiring peningkatan kualitas pendidikan, termasuk penguatan kompetensi bahasa Arab, baik dalam aspek membaca, menulis, maupun berbicara. Pimpinan Pusat Muhammadiyah juga memberikan dukungan penuh terhadap program kaderisasi melalui berbagai skema beasiswa internasional, salah satunya adalah beasiswa studi ke Universitas Al-Azhar Mesir, hasil kerja sama antara PP Muhammadiyah dan Al-Azhar. "Kesempatan kader Muhammadiyah untuk melanjutkan pendidikan ke luar negeri semakin terbuka. Karena itu, kemampuan bahasa Arab harus terus diperkuat sebagai bekal utama," imbuhnya.
Senada dengan pandangan tersebut, Rektor Universitas Muhammadiyah Bandung, Herry Suhardiyanto, menyoroti signifikansi penguasaan bahasa Arab tidak hanya dalam konteks keagamaan, tetapi juga dalam pergaulan internasional. Ia mengingatkan bahwa bahasa Arab merupakan salah satu bahasa resmi Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB), menjadikannya penting dalam diplomasi dan kerja sama global. "Dengan menguasainya, kita dapat mengakses berbagai sumber ilmu pengetahuan dalam kitab-kitab klasik Islam serta memperluas peluang kerja sama di bidang ekonomi, diplomasi, dan hubungan internasional, khususnya dengan negara-negara Timur Tengah," kata Herry.
Melalui seminar ini, Muhammadiyah berharap pengembangan pembelajaran bahasa Arab di lingkungan pesantren dapat terus ditingkatkan. Tujuannya adalah melahirkan generasi santri yang unggul, memiliki wawasan global, dan siap berkontribusi aktif dalam pengembangan peradaban Islam berkemajuan.





