Peneliti Unismuh Kembangkan Pupuk Granul dari Limbah Kulit Kopi

MUHAMMADIYAHSULSEL.OR.ID, MAKASSAR - Tim peneliti Unismuh Makassar mengembangkan prototipe pupuk organik granul berbahan limbah kulit kopi dengan mekanisme slow-release dan inokulum cendawan endofit. Inovasi ini penting karena tidak berhenti pada gagasan pemanfaatan limbah, tetapi sudah bergerak ke tahap pengujian laboratorium dan pengamatan pada bibit kopi di greenhouse serta pembibitan mitra.
Riset tersebut berjalan melalui program hilirisasi Kementerian Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi tahun 2026 dengan judul pengembangan dan validasi prototipe pupuk granul slow-release kulit kopi berinokulum cendawan endofit untuk kopi organik. Tim dipimpin Prof Dr Syamsia bersama Dr Andi Rahayu Anwar dan Dr Irwan Mado, serta melibatkan mahasiswa dalam proses pengembangan produk.
Nilai kebaruan riset ini terletak pada penggabungan tiga unsur sekaligus, yakni limbah kulit kopi sebagai bahan organik lokal, teknologi granul pelepasan bertahap, dan komponen biologis berupa cendawan endofit. Dengan pendekatan ini, kulit kopi yang biasanya menjadi residu pengolahan diarahkan menjadi input pertanian yang memiliki nilai guna dan nilai ekonomi.
Prof Syamsia menegaskan tujuan pengembangan tersebut tidak sekadar mengurangi sampah organik dari proses pengolahan kopi. "Pengolahan kopi menghasilkan produk samping berupa limbah kulit kopi yang sebenarnya masih memiliki potensi besar untuk dimanfaatkan. Melalui pengolahan lebih lanjut, limbah tersebut dapat dikembangkan menjadi pupuk organik granul sehingga memberikan nilai tambah sekaligus mendukung penerapan ekonomi sirkular pada komoditas kopi," ujarnya.
Yang membuat berita ini memenuhi ambang outcome adalah posisi riset yang sudah melewati tahap perumusan. Tim telah melakukan pengujian karakteristik fisik, kimia, dan mekanisme pelepasan hara di laboratorium. Produk yang dihasilkan juga sudah dibawa ke fase pengamatan pada bibit kopi di lingkungan yang lebih relevan melalui greenhouse dan pembibitan milik mitra.
Syamsia menjelaskan bahwa langkah tersebut dibutuhkan untuk membuktikan kinerja prototipe secara nyata. "Pengujian laboratorium terhadap karakteristik fisik, kimia, dan pelepasan hara telah kami lakukan. Produk yang dikembangkan tidak cukup hanya berhasil dibuat dalam bentuk granul, tetapi karakteristik dan kinerjanya juga harus dibuktikan melalui pengujian," katanya.
Tim menargetkan teknologi ini mencapai Tingkat Kesiapterapan Teknologi 6 pada 2026. Target itu berarti produk harus menunjukkan bukti kinerja yang lebih kuat sebagai dasar menuju hilirisasi. Jika tercapai, manfaatnya bukan hanya bagi kampus sebagai penghasil riset, tetapi juga bagi petani kopi, kelompok tani, koperasi, unit pembibitan, dan UMKM pupuk organik yang dapat memanfaatkan teknologi tersebut.
Bagi Unismuh Makassar, riset ini memperlihatkan jalur yang lebih jelas dari publikasi menuju penerapan. Kulit kopi yang sebelumnya dipandang limbah dapat dikonversi menjadi pupuk bernilai tambah, sementara proses validasi yang sedang berjalan memberi dasar agar inovasi kampus tidak berhenti sebagai konsep, melainkan bergerak menuju penggunaan yang lebih dekat dengan kebutuhan petani.
Sumber: Khittah.co
Artikel ini dipublikasikan di muhammadiyahsulsel.or.id. Bagikan untuk menyebarkan kebaikan.





