Muhammadiyah Tegaskan Spirit Al-Ma'un sebagai Fondasi Gerakan Kesejahteraan Sosial

MUHAMMADIYAHSULSEL.OR.ID - DEPOK, Ketua Pimpinan Pusat Muhammadiyah, Agus Taufiqurrahman, menekankan pentingnya menjadikan nilai-nilai Islam yang mencerahkan dan spirit Surah Al-Ma'un sebagai landasan utama bagi gerakan kesejahteraan sosial Persyarikatan. Menurutnya, kepedulian terhadap kelompok masyarakat rentan merupakan karakteristik esensial dari dakwah Muhammadiyah yang perlu terus diperkuat melalui berbagai amal usaha dan inisiatif sosial yang memberikan dampak nyata.
“Islam mengajarkan untuk memajukan, mencerahkan, membebaskan, dan menghadirkan ketertiban dalam kehidupan. Kepedulian terhadap kaum miskin merupakan ciri khas ajaran Islam yang harus terus diwujudkan dalam gerakan Muhammadiyah,” ujar Agus Taufiqurrahman saat membuka Rapat Koordinasi Regional, Seminar MPKS PP Muhammadiyah Leadership Series, dan Aksi Sosial. Kegiatan yang mengusung tema “Think Bigger, Lead Better: Strategi Membangun Dampak dan Keberlanjutan Gerakan Kesejahteraan Sosial” ini berlangsung di Aula Bromo, Balai Besar Pengembangan Penjaminan Mutu Pendidikan Vokasi (BBPPMPV) Bisnis dan Pariwisata, Depok, pada Jumat (17/7).
Agus juga mengutip pandangan Jusuf Kalla yang pernah disampaikan pada Muktamar Muhammadiyah di Makassar, mengenai paradoks kemiskinan di kalangan umat Islam. Refleksi ini, menurutnya, menjadi pengingat bagi Muhammadiyah untuk senantiasa menghadirkan solusi sosial yang relevan dengan tantangan zaman. Ia menganalogikan Amal Usaha Muhammadiyah (AUM) di sektor pendidikan dan ekonomi sebagai “amal usaha mata air” karena perannya dalam menghasilkan sumber daya manusia yang memajukan umat. Sementara itu, AUM di bidang kesejahteraan sosial disebutnya sebagai “amal usaha air mata” karena fokus pada pelayanan terhadap masyarakat yang membutuhkan.
“Spirit gerakan Muhammadiyah adalah membebaskan, memberdayakan, dan memajukan. Seluruh amal usaha harus menjadi center of excellence bagi Muhammadiyah,” tegasnya.
Pada kesempatan yang sama, Sekretaris Majelis Pelayanan Sosial (MPKS) PP Muhammadiyah, Jasra Putra, menyampaikan bahwa MPKS saat ini memfokuskan upaya pada percepatan implementasi sepuluh program prioritas yang merupakan amanat dari Muktamar Muhammadiyah. Salah satu program yang telah berhasil direalisasikan adalah pembentukan Pusat Santunan Keluarga Muhammadiyah di wilayah Jawa Tengah dan Jawa Timur.
“Selama tiga hari ke depan kita akan bersama-sama membahas strategi percepatan pelaksanaan 10 program prioritas tersebut agar dapat diimplementasikan secara optimal di seluruh wilayah,” jelas Jasra.
Selain itu, Jasra juga menyoroti penguatan tata kelola Amal Usaha Muhammadiyah (AUM) di bidang kesejahteraan sosial sebagai prioritas utama MPKS. Dari sekitar 250 lembaga kesejahteraan sosial Muhammadiyah, sebanyak 157 lembaga telah memperoleh akreditasi. Capaian ini, menurutnya, perlu terus ditingkatkan melalui perbaikan tata kelola serta penguatan kolaborasi dengan berbagai pihak.
Dalam sesi keynote speech, Agus Zainal Arifin mengemukakan data terkait anggaran perlindungan sosial nasional yang mencapai sekitar Rp600 triliun. Ia menyoroti bahwa efektivitas pemanfaatan anggaran tersebut masih menghadapi sejumlah tantangan, terutama terkait akurasi data penerima manfaat. Dijelaskannya, kualitas data yang belum optimal berpotensi menyebabkan ketidaktepatan sasaran bantuan.
Lebih lanjut, kerentanan sistem teknologi informasi dan dampak perubahan iklim juga menjadi tantangan signifikan dalam penyelenggaraan perlindungan sosial. Agus Zainal Arifin berpendapat bahwa apabila data masyarakat dapat dihimpun secara komprehensif hingga tingkat ranting Muhammadiyah, intervensi sosial yang dilakukan akan lebih tepat sasaran dan mampu memberikan dampak yang lebih besar.
Sumber: Muhammadiyah.or.id
Artikel ini dipublikasikan di muhammadiyahsulsel.or.id. Bagikan untuk menyebarkan kebaikan.





