Muhammadiyah: Kecerdasan Buatan Sebagai Instrumen Penunjang, Bukan Pengganti Akal

MUHAMMADIYAHSULSEL.OR.ID - YOGYAKARTA, 20 Juli 2024 - Anggota Majelis Tarjih dan Tajdid Pimpinan Pusat Muhammadiyah, Mukhlis Rahmanto, menegaskan bahwa kecerdasan buatan (AI) harus diposisikan sebagai instrumen pendukung aktivitas manusia, bukan sebagai substitusi bagi akal pikiran atau otoritas keagamaan. Pandangan ini disampaikan Mukhlis dalam acara Pengajian Tarjih yang berlangsung pada Rabu (22/7) lalu.
Dalam kesempatan tersebut, Mukhlis mengajak peserta untuk memahami secara mendalam hakikat AI sebelum membahas implikasi hukum atau penerapannya dalam konteks kehidupan beragama. Menurutnya, tradisi keilmuan Islam selalu mengedepankan pemahaman definisi objek pembahasan sebagai langkah awal dalam setiap kajian. Ia menjelaskan bahwa AI merupakan program komputasi yang dirancang untuk meniru berbagai fungsi kognitif manusia, seperti kemampuan berpikir, menganalisis data, hingga membantu proses pengambilan keputusan. Meskipun demikian, ia menekankan bahwa kemampuan AI tetaplah hasil rekayasa manusia dan tidak akan pernah melampaui kapasitas akal yang dianugerahkan Allah SWT kepada insan.
"AI tidak bisa melampaui akal manusia. Dalam perspektif Islam, posisinya adalah sebagai tools, sebagai instrumen atau teknologi yang membantu manusia," terang Mukhlis. Oleh karena itu, lanjutnya, nilai pemanfaatan AI sangat bergantung pada tujuan penggunanya. Apabila diarahkan untuk kemaslahatan umat, Islam mendukung penuh inovasi teknologi yang mempermudah kehidupan, termasuk dalam mempelajari ajaran agama. Sebaliknya, penggunaan AI yang berpotensi menimbulkan mudarat atau merugikan pihak lain tidak dapat dibenarkan.
Perkembangan pesat AI telah memicu beragam respons dari komunitas agama di seluruh dunia. Berdasarkan berbagai studi terkini, respons ini umumnya terbagi menjadi dua kategori utama: kelompok yang menerima (accept) dan kelompok yang menolak (reject).
Mukhlis menguraikan bahwa kelompok yang menolak AI didasari oleh sejumlah kekhawatiran. Beberapa pihak menganggap AI berpotensi menyesatkan manusia, bahkan ada yang menyamakannya dengan godaan setan. Kekhawatiran lain muncul karena AI dinilai dapat menggeser otoritas manusia, termasuk dalam ranah keagamaan. Ia juga menyoroti pernyataan Elon Musk yang pernah melabeli AI sebagai entitas berbahaya, memicu perdebatan luas di berbagai kalangan. "Yang ditolak bukan semata-mata teknologinya, tetapi karena muncul kekhawatiran bahwa AI akan mengambil alih peran yang semestinya dimiliki manusia, bahkan ada yang mengaitkannya dengan persoalan ketuhanan," jelasnya.
Sebagai contoh, Mukhlis mengangkat fenomena robot humanoid Sophia yang diperkenalkan di Arab Saudi. Robot berbasis AI ini sempat menjadi sorotan global karena kemampuannya menjawab pertanyaan, menyatakan keinginan memiliki anak, hingga memperoleh status kewarganegaraan Arab Saudi. Menurutnya, kejadian ini memicu kritik dari sebagian ulama dan masyarakat Muslim yang menilai pemberian status semacam itu berpotensi bertentangan dengan prinsip-prinsip syariat. Pandangan ini dikaitkan dengan hadis Nabi Muhammad SAW tentang larangan menandingi ciptaan Allah, sehingga sebagian kalangan memandang pengultusan robot sebagai hal yang harus diwaspadai. "Fenomena seperti Sophia membuat sebagian kalangan khawatir jangan sampai manusia memosisikan AI seolah-olah menyamai atau bahkan menandingi ciptaan Allah," imbuhnya.
Di sisi lain, Mukhlis juga menjelaskan bahwa banyak komunitas agama yang justru menyambut kehadiran AI sebagai sarana untuk pelayanan keagamaan. Ia mencontohkan penggunaan robot pendeta bernama Mindar di sebuah kuil Buddha di Jepang, yang bertugas menyampaikan khotbah dan berinteraksi dengan pengunjung. Pemanfaatan teknologi ini, menurutnya, bertujuan untuk mendekatkan generasi muda pada kehidupan beragama melalui medium yang akrab dengan keseharian mereka. "Kalangan yang menerima melihat AI sebagai media untuk mendukung pelayanan keagamaan dan menarik minat generasi muda agar lebih dekat dengan agama," ujarnya.
Dalam konteks Islam, Mukhlis menyebut adanya beberapa peneliti yang mencoba mengaitkan kemajuan teknologi dengan kandungan Surah Al-Hadid ayat 25, yang berbicara tentang besi. Ada interpretasi yang secara implisit menafsirkan bahwa teknologi modern, termasuk AI yang sangat bergantung pada perangkat keras dan pusat data, tidak terlepas dari pemanfaatan besi sebagai material utama. Namun, ia menegaskan bahwa ini adalah salah satu pendekatan interpretatif yang berkembang di kalangan akademisi.
Sebagai penutup, Mukhlis kembali menegaskan bahwa AI harus dipahami sebagai sarana, bukan tujuan akhir. Teknologi ini dapat dimanfaatkan untuk membantu manusia memperoleh berbagai informasi, termasuk informasi keagamaan, asalkan digunakan secara kritis dan tidak menggantikan otoritas keilmuan atau bimbingan para ulama. "AI adalah instrumen yang membantu manusia. Yang menentukan manfaat atau mudaratnya tetap manusia itu sendiri. Karena itu, penggunaannya dalam persoalan agama harus disertai sikap kritis dan pemahaman yang benar," pungkasnya.
Sumber: Muhammadiyah.or.id
Artikel ini dipublikasikan di muhammadiyahsulsel.or.id. Bagikan untuk menyebarkan kebaikan.





