Muhammadiyah Dorong Dakwah Pemberdayaan Berkelanjutan dengan Perencanaan Sistematis

MUHAMMADIYAHSULSEL.OR.ID - YOGYAKARTA, 18 Juli 2020 - Muhammadiyah memandang dakwah pemberdayaan masyarakat bukan sekadar aksi karitatif, melainkan sebuah upaya yang menuntut keberlanjutan dan visi jangka panjang. Pendekatan ini memerlukan perencanaan yang matang dan sistematis.
Pernyataan tersebut disampaikan oleh M. Nurul Yamin, Ketua Majelis Pemberdayaan Masyarakat (MPM) Pimpinan Pusat (PP) Muhammadiyah, saat berbicara di Gedoeng Moehammadijah, Kota Yogyakarta, pada Sabtu lalu. Yamin menjelaskan bahwa strategi Muhammadiyah dalam pemberdayaan komunitas tidak berhenti pada bantuan sesaat, tetapi melibatkan perencanaan yang terstruktur dan berorientasi masa depan.
"Tetapi harus dilakukan dengan perencanaan yang sistematis, jangka panjang, dengan output-output yang bisa diukur," tegas Yamin.
Sebagai sebuah gerakan dakwah, Muhammadiyah mengemban misi fundamental untuk membawa transformasi positif dalam kehidupan masyarakat, mengarahkan mereka dari kondisi yang kurang berdaya menuju pencerahan. Dalam konteks ini, dakwah pemberdayaan masyarakat tidak hanya mengedepankan hasil akhir, melainkan juga menekankan pentingnya setiap tahapan proses yang dilalui.
Sebagai ilustrasi, Yamin menyebutkan program pemberdayaan yang dijalankan Muhammadiyah bagi masyarakat Suku Kokoda di Distrik Aimas, Sorong, Papua Barat Daya. Dari awalnya sebagai masyarakat yang berpindah-pindah dan seringkali mengalami penolakan, Muhammadiyah memulai upaya transformasi. Yamin menjelaskan, "Dengan proses yang cukup panjang, mampu mentransformasi, saya menyebutnya sebagai sebuah transformasi kebudayaan dari masyarakat nomaden menjadi masyarakat kampung yang berkemajuan."
Di lokasi tersebut, Suku Kokoda kini membangun kehidupan yang lebih baik, dengan anak-anak mereka memperoleh akses pendidikan dari Muhammadiyah, mulai dari tingkat sekolah dasar hingga menengah atas.
Selain di Sorong, inisiatif dakwah pemberdayaan serupa juga diterapkan Muhammadiyah kepada komunitas pemulung di Tempat Pengolahan Sampah Terpadu (TPST) Piyungan, Kabupaten Bantul. Melalui proses dakwah yang berjangka panjang dan terencana secara sistematis, Muhammadiyah sukses mengubah kelompok pemulung menjadi para pengelola sampah.
"Pemberdayaan adalah sebuah transformasi dari pemulung menjadi pengelola sampah. Yang tadinya pemulung, memulung, mereka sekarang menjadi pengelola," jelasnya.
"Yang tadinya menjadi objek dari sebuah sistem, dia sekarang menjadi subjek dari sebuah sistem yang meski terbatas, tetapi otonomi dan kemandiriannya itu bisa diwujudkan," sambung Yamin.
Yamin turut menekankan bahwa keberhasilan dakwah pemberdayaan masyarakat tidak hanya bergantung pada perencanaan yang sistematis, tetapi juga pada ketersediaan sumber daya manusia yang kompeten.
Sumber: Muhammadiyah.or.id
Artikel ini dipublikasikan di muhammadiyahsulsel.or.id. Bagikan untuk menyebarkan kebaikan.





