Muhammadiyah dan Maroko Perkuat Kolaborasi Pendidikan Tinggi dan Keagamaan

MUHAMMADIYAHSULSEL.OR.ID - JAKARTA, Rabu, 22 Juli 2020.
Pimpinan Pusat (PP) Muhammadiyah menyambut kunjungan Duta Besar Kerajaan Maroko untuk Indonesia, Redouane Houssaini, dalam sebuah pertemuan yang berfokus pada penguatan kemitraan strategis di bidang pendidikan tinggi, kelembagaan, dan pendidikan keagamaan. Pertemuan ini berlangsung di Kantor PP Muhammadiyah, Jakarta, dan turut membahas tindak lanjut implementasi nota kesepahaman (MoU) yang telah disepakati.
Ketua PP Muhammadiyah, Syafiq A. Mughni, memimpin delegasi Muhammadiyah. Ia didampingi oleh Maskuri, Ketua Tim Beasiswa Luar Negeri PP Muhammadiyah; Teguh Santosa dari Lembaga Hubungan dan Kerja Sama Internasional (LHKI) PP Muhammadiyah; serta Armei dari Majelis Pendidikan Tinggi, Penelitian, dan Pengembangan (Diktilitbang) PP Muhammadiyah. Sementara itu, Duta Besar Redouane Houssaini hadir bersama Counselor Kedutaan Besar Maroko, Youssra El Badmoussi.
Dalam sambutannya, Duta Besar Redouane Houssaini menyampaikan apresiasi tinggi atas penerimaan dari PP Muhammadiyah. Ia menggarisbawahi peran Muhammadiyah sebagai salah satu organisasi Islam terbesar yang memiliki rekam jejak panjang dalam pengembangan pendidikan, pelayanan sosial, dan pemberdayaan masyarakat. Kondisi ini menjadikan Muhammadiyah sebagai mitra strategis bagi Kerajaan Maroko. “Merupakan suatu kehormatan bagi kami dapat bertemu dengan pimpinan Muhammadiyah. Kami melihat Muhammadiyah sebagai organisasi Islam yang memiliki pengalaman besar dalam pengembangan pendidikan dan kehidupan umat,” ujar Redouane Houssaini.
Lebih lanjut, Redouane Houssaini menegaskan kesiapan Kedutaan Besar Maroko untuk memfasilitasi berbagai bentuk kerja sama antara Muhammadiyah dan institusi di negaranya. Tiga bidang prioritas diidentifikasi untuk pengembangan segera, meliputi kemitraan antara perguruan tinggi di Maroko dengan Perguruan Tinggi Muhammadiyah-'Aisyiyah (PTMA), kolaborasi antarlembaga keislaman, serta kerja sama dengan lembaga pendidikan agama di Maroko. Ia juga mengusulkan penyelenggaraan seminar atau simposium yang mengangkat tema Islam toleran dan moderat, dengan menghadirkan akademisi dari Maroko. Forum semacam ini diharapkan menjadi wadah berbagi pengalaman tentang praktik Islam wasathiyah yang berkembang di kedua negara.
Di sektor pendidikan, Pemerintah Maroko secara rutin menyediakan sekitar 50 kuota beasiswa setiap tahun bagi mahasiswa Indonesia melalui Kementerian Agama RI. Duta Besar Maroko berharap semakin banyak kader Muhammadiyah yang dapat memanfaatkan kesempatan ini untuk melanjutkan studi di berbagai perguruan tinggi di Maroko. Pertemuan juga menyoroti implementasi MoU antara Muhammadiyah dan Ma’had Mohammed VI Lil Qira’at wa Ad-Dirasat Al-Qur’aniyyah. Redouane Houssaini menyatakan bahwa Kedutaan Besar Maroko telah berkoordinasi dengan Kementerian Wakaf dan Urusan Islam Maroko guna mempercepat realisasi kerja sama tersebut. “Kami siap membantu mengawal implementasi MoU ini. Jika masih terdapat kendala dalam pelaksanaannya, Muhammadiyah dapat menyampaikannya kepada Kedutaan agar kami teruskan kepada kementerian terkait di Maroko,” tegasnya.
Redouane Houssaini menambahkan bahwa kemampuan berbahasa Arab masih menjadi tantangan bagi mahasiswa Indonesia yang berminat studi di Maroko. Oleh karena itu, Kedutaan Besar Maroko membuka peluang penyelenggaraan daurah intensif bahasa Arab dengan mendatangkan pengajar dari Maroko. Selain itu, pihaknya berkomitmen untuk mengupayakan kemudahan proses administrasi bagi mahasiswa Indonesia serta mendorong partisipasi Muhammadiyah dalam forum keilmuan Durus Hassania.
Menanggapi berbagai tawaran tersebut, Ketua PP Muhammadiyah Syafiq A. Mughni menyambut baik komitmen Pemerintah Maroko untuk mempererat hubungan dengan Muhammadiyah. Menurutnya, kerja sama yang telah terjalin perlu ditindaklanjuti dengan komunikasi yang lebih intensif dan program-program yang terukur. “Kami menyambut baik berbagai peluang kerja sama ini. Muhammadiyah siap memperkuat kolaborasi dengan berbagai institusi di Maroko, baik di bidang pendidikan tinggi, pengembangan sumber daya manusia, maupun pendidikan keagamaan,” tutur Syafiq.
Syafiq A. Mughni berharap implementasi MoU dapat segera terwujud melalui program-program konkret seperti pertukaran dosen dan mahasiswa, riset kolaboratif, penguatan program beasiswa, serta kunjungan timbal balik antara Muhammadiyah dan berbagai institusi pendidikan di Maroko. Ia meyakini bahwa penguatan hubungan antara Muhammadiyah dan Maroko akan membawa manfaat signifikan, tidak hanya bagi pengembangan pendidikan tinggi dan kajian keislaman, tetapi juga bagi peningkatan kualitas sumber daya manusia serta perluasan jejaring internasional Persyarikatan.
Sumber: Muhammadiyah.or.id
Artikel ini dipublikasikan di muhammadiyahsulsel.or.id. Bagikan untuk menyebarkan kebaikan.





