Muhammadiyah Ajak Warga Perkuat Kemandirian Ekonomi dengan Inovasi dan Spiritualitas

MUHAMMADIYAH SULSEL, YOGYAKARTA - Wakil Ketua Majelis Pembinaan Kesejahteraan Sosial (MPKS) Pimpinan Pusat Muhammadiyah, Faozan Amar, menegaskan bahwa masa efisiensi ekonomi harus dimanfaatkan sebagai momentum strategis untuk memperkuat kemandirian finansial warga Muhammadiyah. Penguatan ini, menurut Faozan, perlu diwujudkan melalui kombinasi ikhtiar, inovasi, dan penguatan spiritual.
Pernyataan tersebut disampaikan Faozan dalam kegiatan Malam Bina Iman dan Taqwa (MABIT) yang diselenggarakan Pimpinan Cabang Muhammadiyah (PCM) Kebayoran Baru. Acara tersebut berlangsung di Masjid At-Taqwa, Kompleks Perguruan Muhammadiyah Limau, Jakarta Selatan, pada Jumat (12/6).
Faozan menekankan pentingnya respons proaktif terhadap tantangan ekonomi. “Menghadapi kesulitan ekonomi tidak cukup dengan mengeluh, tetapi harus disikapi dengan ikhtiar, inovasi, dan tawakal. Gaji dari Amal Usaha Muhammadiyah saja tidak cukup jika kita tidak kreatif. Masa efisiensi adalah momentum memperkuat kemandirian ekonomi. Jika keluarga kuat, sekolah kuat, maka Muhammadiyah akan semakin berkemajuan,” ujarnya.
MABIT bulanan ini mengangkat tema “Desain Ekonomi Muhammadiyah di Masa Efisiensi” sebagai respons terhadap berbagai tantangan ekonomi yang dihadapi masyarakat, seperti kenaikan harga kebutuhan pokok, biaya pendidikan, transportasi, hingga dampak kenaikan harga bahan bakar non-subsidi terhadap daya beli warga.
Dalam paparannya, Faozan, yang juga Dosen Fakultas Ekonomi dan Bisnis Universitas Muhammadiyah Prof. Dr. Hamka (UHAMKA), menguraikan empat strategi utama untuk memperkuat kemandirian ekonomi warga Muhammadiyah:
- Pemanfaatan Teknologi Digital: Mendorong warga Muhammadiyah untuk memanfaatkan teknologi kecerdasan buatan (Artificial Intelligence-AI) dan keterampilan digital guna menciptakan sumber pendapatan baru yang halal. Guru dan tenaga kependidikan Muhammadiyah diharapkan bertransformasi menjadi knowledge worker dengan menguasai teknologi digital, pembelajaran daring, serta produksi konten edukatif sebagai potensi penghasilan tambahan.
- Penguatan Dimensi Spiritual: Menguatkan ketakwaan dan budaya sedekah. Merujuk pada Surah Ath-Thalaq ayat 2-3 dan Surah Al-Baqarah ayat 261, Faozan menjelaskan bahwa sedekah tidak mengurangi harta, melainkan menjadi jalan datangnya keberkahan dan kelapangan rezeki. Ia juga mendorong penguatan spirit Al-Ma’un melalui pembentukan dana sosial internal dan budaya infak harian di lingkungan persyarikatan.
- Manajemen Keuangan Disiplin: Menerapkan manajemen keuangan yang disiplin sesuai Pedoman Hidup Islami Warga Muhammadiyah (PHIWM). Warga Muhammadiyah diimbau menghindari perilaku konsumtif, termasuk penggunaan fasilitas paylater dan utang yang tidak produktif. Faozan menawarkan pola pengelolaan keuangan dengan alokasi 60 persen untuk kebutuhan pokok, serta masing-masing 10 persen untuk dana darurat, investasi, pendidikan, dan infak.
- Pembangunan Ekosistem Ekonomi Jamaah: Membangun ekosistem ekonomi jamaah yang mandiri melalui semangat ta’awun atau saling menolong. Upaya ini dapat diwujudkan melalui penguatan koperasi syariah, penyusunan direktori usaha warga, hingga penyelenggaraan bazar yang mendorong transaksi ekonomi antarwarga Muhammadiyah.
Lebih lanjut, Faozan menekankan tiga agenda besar yang perlu menjadi perhatian PCM, yaitu menjaga kesejahteraan warga, memperkuat UMKM jamaah, serta melakukan diversifikasi sumber pendapatan Amal Usaha Muhammadiyah (AUM) agar tidak hanya bergantung pada iuran pendidikan.
Selain kajian ekonomi, kegiatan MABIT tersebut juga dirangkai dengan pelantikan Pimpinan Ranting Muhammadiyah (PRM), penyerahan Surat Keputusan Penjabat Kepala Sekolah, serta penyegaran kepengurusan di lingkungan PCM Kebayoran Baru.
Ketua PCM Kebayoran Baru, M. Said Matondang, menjelaskan bahwa MABIT tidak hanya berfungsi sebagai ruang penguatan spiritual, tetapi juga sebagai sarana konsolidasi dan penyegaran ideologi Al-Islam dan Kemuhammadiyahan bagi para penggerak AUM. “MABIT menjadi sarana penyegaran ideologi Al-Islam dan Kemuhammadiyahan bagi penggerak di Amal Usaha Muhammadiyah. Harapannya, semangat dakwah amar makruf nahi mungkar tetap terjaga di tengah berbagai tantangan ekonomi yang dihadapi warga,” pungkasnya.





