Membentuk Generasi Emas: Menjaga Integritas di Tengah Realitas Moral Publik

MUHAMMADIYAHSULSEL.OR.ID - MAKASSAR, 12 Juni 2024 - Cita-cita mewujudkan Indonesia Emas pada tahun 2045 merupakan sebuah visi yang ideal dan realistis, terutama jika bangsa ini mampu memanfaatkan bonus demografi secara optimal. Namun, menurut Ketua Pimpinan Pusat Muhammadiyah, Irwan Akib, terdapat ganjalan serius yang mengancam terwujudnya impian tersebut, yakni kondisi mental generasi muda saat ini. Ia mengamati bahwa fondasi mental generasi penerus sedang terkikis oleh paradoks moral yang akut di ruang publik, menyebabkan ketegangan mental yang berpotensi berdampak buruk pada masa depan mereka.
Di lingkungan rumah dan sekolah, anak-anak secara konsisten diajarkan nilai-nilai moral luhur. Orang tua dan guru berupaya keras menanamkan kejujuran, kerja keras, tenggang rasa, dan kesederhanaan, bahkan menjadi teladan bagi mereka. Institusi privat ini berjuang membangun benteng moralitas yang kokoh. Namun, benteng tersebut kerap runtuh seketika saat anak-anak bersentuhan dengan ruang publik melalui layar televisi dan algoritma media sosial. Di sana, mereka disuguhi realitas yang kontradiktif secara brutal: oknum pejabat negara yang terbukti melakukan mega-korupsi masih bisa tersenyum lebar tanpa rasa bersalah di depan kamera, sementara anak-anak mereka dengan pongah memamerkan gaya hidup mewah, hasil dari penyelewengan uang rakyat.
Dalam situasi demikian, anak-anak berada di persimpangan yang membingungkan, terombang-ambing antara nilai-nilai moral yang mereka serap di rumah dan sekolah, dengan apa yang mereka saksikan di ruang publik. Fenomena ini, menurut Irwan Akib, menciptakan apa yang disebut Leon Festinger sebagai "Disonansi Kognitif", yaitu ketegangan mental hebat akibat bertabrakannya dua keyakinan yang kontradiktif. Anak-anak dipaksa mencerna inkonsistensi: jika kejujuran itu mulia, mengapa orang yang curang justru mendapatkan panggung, kekuasaan, dan kemewahan? Lebih lanjut, Irwan Akib mengutip Albert Bandura, yang menyatakan bahwa ketika perilaku hedonisme para elite politik mendapatkan jutaan likes dan validasi sosial di jagat digital, anak melihatnya sebagai "penguatan pengganti".
Kondisi ini secara berkelanjutan memengaruhi pikiran anak yang sedang berkembang, mendorong mereka menggunakan logika pengamatan sebab-akibat yang pada akhirnya melahirkan krisis psikologis. Krisis ini dimulai dengan runtuhnya kepercayaan pada otoritas, yang berujung pada sindrom keraguan terhadap semua orang dewasa. Mereka mulai berpikir, "Jika orang dewasa yang memimpin negara saja tidak jujur, bisa korupsi (mengambil yang bukan haknya) jangan-jangan orang tua dan guru membohongiku".
Sinisme dan pikiran negatif anak akan terus berlanjut ketika mereka setiap hari, bahkan setiap jam, menyaksikan perilaku amoral tersebut. Sinyal emosi anak mulai meredup, hingga pada akhirnya mereka menjadi mati rasa. Ketidakjujuran, korupsi triliunan atau miliaran, serta manipulasi hukum, tidak lagi menjadi hal yang mengejutkan bagi mereka. Moralitas mulai dikalkulasi secara transaksional; anak-anak berpikir realistis sesuai apa yang mereka lihat. Mereka terpengaruh oleh kemewahan yang kasat mata, menyimpulkan bahwa kejujuran akan membawa kehidupan yang tertatih-tatih, sementara para pelanggar aturan justru menikmati popularitas dan hidup serba mewah.
Untuk mengatasi situasi pelik ini, Irwan Akib menegaskan bahwa menjauhkan anak dari gawai atau melarang mereka menonton televisi bukanlah solusi terbaik, sebab anak-anak juga perlu akses informasi dan kemampuan memanfaatkan teknologi secara cerdas. Di sinilah peran orang tua dan guru harus bertransformasi. Mereka tidak sekadar menyajikan informasi tentang benar dan salah, baik dan buruk, tetapi harus mampu menjadi pemandu dan penerjemah realitas. Orang tua dan guru perlu mengajak anak berpikir kritis terhadap fenomena yang mereka saksikan di layar gawai atau televisi, serta membantu mereka membedakan antara orang yang terkenal karena kejahatan dengan orang yang terkenal karena kehormatan. Penting juga untuk menghadirkan tokoh-tokoh panutan melalui kisah sukses yang dibangun dengan kerja keras, kedisiplinan, dan kejujuran, serta menampilkan figur bersahaja yang jujur dan terhormat, meskipun mereka telah lama tiada.
"Perjuangan terberat adalah melawan bangsa sendiri," kata Bung Karno, sebuah adagium yang relevan dengan kondisi saat ini. Korupsi dan hedonisme yang dipertontonkan di ruang publik adalah bentuk polusi moral yang sedang meracuni anak-anak bangsa. Jika Indonesia Emas 2045 ingin menjadi kenyataan yang adil dan makmur, kita harus membekali anak-anak dengan sebuah jangkar: "berwawasan global, namun tetap bermental lokal". Tugas kita hari ini adalah memastikan bahwa ketika anak-anak memandang ruang publik, mereka tidak melihat sebuah panggung sandiwara yang korup, melainkan sebuah kepastian bahwa kejujuran dan integritas masih memiliki harga diri tertinggi di tanah airnya sendiri.
Sumber: Khittah.co
Artikel ini dipublikasikan di muhammadiyahsulsel.or.id. Bagikan untuk menyebarkan kebaikan.





