Membangun Generasi Emas: Refleksi Kedaulatan, Keadilan, dan Kemakmuran Anak Indonesia

MUHAMMADIYAHSULSEL.OR.ID - MAKASSAR, 20 Juli 2024 - Ketua Pimpinan Pusat Muhammadiyah, Irwan Akib, menyoroti peran krusial anak-anak Indonesia dalam mewujudkan cita-cita bangsa menuju Indonesia Emas 2045. Dalam rangka Hari Anak Nasional, ia mengajak seluruh elemen masyarakat untuk merenungkan kembali makna kedaulatan, keadilan sosial, dan kemakmuran bagi generasi penerus, yang merupakan pilar utama masa depan bangsa.
Akib mengingatkan kembali pandangan para pendiri bangsa mengenai esensi kemerdekaan. Bung Karno pernah menegaskan, “Apakah kita mau Indonesia merdeka, yang kaum kapitalisnya merajalela ataukah yang seluruh rakyatnya makmur? Kita harus memilih yang kedua: kesejahteraan sosial!” Senada dengan itu, Bung Hatta menyatakan, “Kemerdekaan nasional bukan tujuan akhir kita. Kemerdekaan hanyalah syarat untuk bisa menyelenggarakan keadilan sosial dan kemakmuran bagi rakyat.” Kemerdekaan, sebagaimana diibaratkan Bung Karno sebagai “jembatan emas,” adalah jalan untuk mencapai kemakmuran dan keadilan. Namun, ia menilai bahwa cita-cita kemakmuran tersebut masih menghadapi berbagai tantangan berat.
Indonesia memiliki ambisi besar untuk mencapai status Indonesia Emas pada tahun 2045, menandai satu abad kemerdekaan, dengan visi menjadi negara yang berdaulat, adil, dan makmur, di mana kesejahteraan rakyat tidak didominasi oleh kekuatan kapitalis. Untuk mencapai impian ini, dibutuhkan sumber daya manusia (SDM) yang tidak hanya cerdas, tetapi juga berintegritas tinggi. SDM yang diharapkan akan memimpin dan merawat Indonesia di masa mendatang bukanlah generasi saat ini, melainkan anak-anak yang sedang tumbuh dan belajar.
Oleh karena itu, memperjuangkan hak-hak anak adalah bentuk investasi kedaulatan yang paling fundamental. Kedaulatan anak dalam konteks kekinian dapat dimaknai sebagai ketahanan berpikir kritis, kebebasan dari penjajahan mental dan eksploitasi digital, serta perlindungan dari tren global yang dangkal dan predator siber. Realitasnya, banyak anak saat ini terenggut kemerdekaannya oleh algoritma media sosial, kecanduan gawai, dan jerat judi daring, yang berujung pada kerusakan kesehatan mental.
Selain kedaulatan, keadilan sosial bagi anak juga menjadi sorotan. Keadilan ini mencakup pemerataan fasilitas kesehatan, standardisasi kualitas guru, dan pemenuhan hak nutrisi yang setara dari Sabang hingga Merauke. Ini juga berarti membebaskan anak jalanan dari lingkaran eksploitasi. Tanpa keadilan distributif sejak dalam kandungan hingga masa tumbuh kembang, kompetisi menuju masa depan hanya akan menguntungkan mereka yang sudah mapan sejak lahir. Ironisnya, di tengah kemewahan sekolah internasional, banyak anak jalanan terpaksa bekerja, dieksploitasi kemiskinan struktural, dan rentan terhadap kekerasan fisik maupun seksual.
Apabila kedaulatan dan keadilan sosial belum terwujud, sulit bagi anak-anak untuk menikmati kemakmuran. Kemakmuran bagi anak-anak berarti mendapatkan rasa aman dan ruang kebahagiaan, bebas dari trauma kekerasan dalam rumah tangga, eksploitasi ekonomi orang tua, dan perundungan di sekolah. Mereka juga harus memiliki akses luas untuk mengeksplorasi sains, teknologi, dan seni.
Irwan Akib menggarisbawahi bahwa meskipun Indonesia kaya akan sumber daya alam-minyak bumi, nikel, emas, kekayaan laut, dan budaya-potensi ini akan sia-sia jika kesehatan mental dan kualitas SDM anak-anak terabaikan. Jika kedaulatan, keadilan sosial, dan kemakmuran anak masih jauh dari harapan, maka cita-cita Indonesia Emas 2045 akan sulit tercapai. Momentum Hari Anak Nasional ini menjadi panggilan untuk melakukan refleksi mendalam guna mewujudkan harapan para pendahulu bangsa agar kemerdekaan sebagai “jembatan emas” dapat benar-benar dinikmati oleh seluruh anak negeri.
Sumber: Khittah.co
Artikel ini dipublikasikan di muhammadiyahsulsel.or.id. Bagikan untuk menyebarkan kebaikan.





