Memaknai Wasiat Kiai Dahlan: Abdur Rozak Fachruddin Jelaskan Spirit Ber-Muhammadiyah

MUHAMMADIYAHSULSEL.OR.ID - YOGYAKARTA, 15 Mei 2024 - Slogan legendaris "Hidup-hidupilah Muhammadiyah, Jangan Cari Hidup di Muhammadiyah" yang dicetuskan oleh pendiri Muhammadiyah, Kiai Ahmad Dahlan, telah menjadi napas penggerak organisasi ini selama lebih dari satu abad. Semangat tersebut diyakini sebagai kunci keberlangsungan dan kemanfaatan Muhammadiyah hingga mencapai usia 114 tahun pada 2026 mendatang. Tidak hanya populer di lingkungan internal, semboyan ini juga kerap diadaptasi oleh berbagai kelompok lain.
Abdur Rozak Fachruddin, atau yang akrab disapa Pak AR, mantan Ketua Umum Pimpinan Pusat Muhammadiyah, memberikan penafsiran mendalam mengenai wasiat Kiai Ahmad Dahlan tersebut. Menurut Pak AR, melalui semboyan itu, Kiai Dahlan berpesan agar setiap individu yang memimpin dan berkiprah di Muhammadiyah senantiasa berlandaskan niat ikhlas karena Allah Swt. Spirit ini menegaskan bahwa perjuangan di Muhammadiyah bukan untuk mencari kedudukan, keuntungan duniawi, kekayaan, atau kepentingan pribadi lainnya.
Apakah Karyawan di Muhammadiyah Tidak Digaji?
Pak AR meluruskan kesalahpahaman yang mungkin muncul dari semboyan tersebut, yaitu anggapan bahwa para pengabdi di Muhammadiyah tidak berhak menerima imbalan. Ia menegaskan bahwa hal itu tidak benar. Guru, dokter, karyawan di Amal Usaha Muhammadiyah (AUM), hingga rektor Perguruan Tinggi Muhammadiyah-'Aisyiyah (PTMA) berhak menerima gaji yang layak. Bahkan, para mubalig Muhammadiyah pun dibenarkan untuk diberikan ongkos perjuangan atas dakwah yang mereka lakukan.
Dalam bukunya, "Pesan dan Warisan, Pak AR" yang diterbitkan oleh PT. BP Kedaulatan Rakyat pada tahun 1995, Pak AR mengisahkan penuturan Kiai Soedja'. Menurut Kiai Soedja', sejak era Kiai Ahmad Dahlan, para mubalig Muhammadiyah yang diutus ke berbagai daerah di luar Yogyakarta telah diberikan ongkos perjalanan. Hal ini menunjukkan bahwa prinsip "jangan cari hidup dalam Muhammadiyah" tidak berarti meniadakan hak-hak dasar bagi mereka yang berkhidmat.
"Dengan demikian jelas bahwa, jangan cari hidup dalam Muhammadiyah bukan dimaksudkan untuk serba gratis-gratisan. Namun yang jelas, jangan sampai warga Muhammadiyah secara gegabah menggunakan harta milik Muhammadiyah yang pada umumnya hasil dari wakaf atau infak dari para warga Muhammadiyah," tegas Pak AR, menjelaskan inti dari wasiat tersebut adalah menjaga amanah harta persyarikatan.
Warga Muhammadiyah Diusahakan Meneladani Keikhlasan Kiai Dahlan
Meneladani tingkat keikhlasan Kiai Dahlan dalam ber-Muhammadiyah memang merupakan tantangan besar. Kiai Dahlan bahkan pernah melelang seluruh hartanya demi menggaji guru-guru Muhammadiyah yang tertunggak gajinya akibat kas organisasi yang kosong. Oleh karena itu, jika keikhlasan setinggi Kiai Dahlan sulit dicapai, warga Muhammadiyah diharapkan untuk setidaknya berupaya meneladani keprihatinan dan semangat pengorbanan beliau.
Pengorbanan ini tidak harus berarti menyerahkan seluruh harta kekayaan, melainkan bisa dimulai dengan mengurbankan sebagian harta untuk mendukung gerak dan jalannya Muhammadiyah. "Kiai Dahlan mengajak warga Muhammadiyah mengurbankan sebagian harta uangnya untuk membiayai gerak dan jalannya Muhammadiyah. Dan yang demikian itu oleh Kiai dijelaskan, asal ikhlas, termasuk ibadat kepada Allah," kutip Pak AR. Menurutnya, berjuang di Muhammadiyah sama artinya dengan memperjuangkan agama Allah Swt., yaitu agama Islam, yang bersumber pada Al-Qur'an dan Sunnah.
Sumber: Muhammadiyah.or.id
Artikel ini dipublikasikan di muhammadiyahsulsel.or.id. Bagikan untuk menyebarkan kebaikan.





