Masykur Azahri: Muharam, Bulan Kemuliaan dan Spirit Hijrah untuk Umat

MUHAMMADIYAH SULSEL, YOGYAKARTA - Anggota Majelis Tabligh Pimpinan Daerah Muhammadiyah Kota Yogyakarta, Masykur Azahri, menyerukan kepada umat Islam untuk menjadikan bulan Muharam sebagai momentum memperbanyak amal saleh. Seruan ini disampaikan dalam pengajian Ahad pagi di Masjid Islamic Center Universitas Ahmad Dahlan pada Ahad, 21 Juni, bertepatan dengan momentum memasuki Tahun Baru 1448 Hijriah.
Dalam ceramahnya, Masykur Azahri mengawali dengan ucapan selamat Tahun Baru Hijriah, seraya mendoakan agar umat Islam senantiasa memperoleh kesehatan, kesuksesan, ketenteraman, dan istiqamah dalam beribadah. Ia menegaskan bahwa Muharam merupakan salah satu dari empat bulan mulia yang mendapatkan keistimewaan khusus dari Allah Swt. Pada bulan ini, nilai pahala amal kebaikan dilipatgandakan, sementara dosa akibat kemaksiatan juga lebih besar dibandingkan bulan-bulan lainnya.
"Kalau seseorang berbuat maksiat pada bulan-bulan mulia, dosanya lebih besar. Sebaliknya, jika melakukan kebaikan dan ketaatan, pahalanya juga lebih banyak," ujar Masykur. Ia menambahkan, umat Islam saat ini berada pada sepuluh hari pertama Muharam yang memiliki keutamaan tersendiri. Oleh karena itu, kesempatan ini hendaknya dimanfaatkan untuk memperbanyak ibadah, menghadiri majelis ilmu, memperbanyak sedekah, dan amal-amal kebajikan lainnya.
Masykur juga menyoroti Hari Asyura, tanggal 10 Muharam, yang sarat dengan jejak sejarah para nabi. Banyak peristiwa penting terjadi pada hari tersebut, seperti diterimanya tobat Nabi Adam a.s., diselamatkannya Nabi Yunus a.s. dari perut ikan, selamatnya Nabi Nuh a.s. dari banjir besar, terbebasnya Nabi Ibrahim a.s. dari api Raja Namrud, hingga kemenangan Nabi Musa a.s. atas Firaun. Menurutnya, Muharam adalah bulan yang penuh kenangan akan pertolongan Allah kepada hamba-hamba-Nya yang beriman.
Ia mengkritik anggapan yang berkembang di masyarakat, khususnya di Jawa, yang menganggap Muharam atau Suro sebagai bulan yang angker sehingga tidak baik untuk menikah, mengadakan hajatan, atau kegiatan penting lainnya. "Bulan Muharam itu bulan yang dimuliakan Allah, bukan bulan wingit," tegasnya, meluruskan pandangan keliru tersebut.
Lebih lanjut, Masykur mengaitkan tradisi ritual tertentu pada bulan Suro dengan kebutuhan membangun "benteng kehidupan" yang sesungguhnya. Ia menekankan bahwa keselamatan hidup tidak diperoleh melalui ritual simbolik, melainkan dengan memperkuat benteng spiritual dan sosial. Benteng pertama adalah menjaga lisan, mengutip ungkapan, "Salāmatul insān fī hifzhil lisān" yang berarti keselamatan seseorang sangat bergantung pada kemampuannya menjaga ucapan.
Benteng berikutnya adalah sedekah, yang menurut hadis populer, dapat menolak bala. Selain itu, silaturahmi dan doa juga menjadi benteng penting yang menjaga seseorang dari berbagai keburukan. "Kalau ingin hidup tenteram dan selamat, bangunlah benteng kehidupan dengan menjaga lisan, memperbanyak sedekah, mempererat silaturahmi, serta memperbanyak doa dan zikir kepada Allah," pesannya.
Dalam bagian lain ceramahnya, Masykur mengulas keteladanan Rasulullah saw. dalam kesabaran dan kasih sayang. Ia mencontohkan kisah seorang Yahudi yang setiap hari meludahi Nabi Muhammad saw. Ketika orang tersebut sakit, Rasulullah justru menjenguknya dengan membawa makanan. Sikap mulia ini menyentuh hati orang tersebut hingga akhirnya memeluk Islam. Menurut Masykur, dakwah Rasulullah dibangun di atas kesabaran, kasih sayang, dan kemampuan memaafkan.
Ia juga mengingatkan hadis Nabi tentang tiga golongan yang memperoleh derajat tinggi karena rahmat Allah, yaitu orang yang memberi kepada mereka yang tidak pernah memberi, menyambung hubungan dengan orang yang memutuskan silaturahmi, dan memaafkan orang yang berbuat zalim kepadanya. "Rasulullah tidak hanya mengajarkan itu, tetapi beliau sendiri yang pertama kali mempraktikkannya," imbuhnya.
Masykur turut menyinggung peristiwa wafatnya Abu Thalib, paman Nabi yang sangat mencintai dan melindungi Rasulullah, tetapi tidak beriman hingga akhir hayatnya. Peristiwa ini menjadi pelajaran bahwa hidayah merupakan hak prerogatif Allah. Ia mengutip firman Allah, "Sesungguhnya engkau tidak dapat memberi petunjuk kepada orang yang engkau cintai, tetapi Allah memberi petunjuk kepada siapa yang Dia kehendaki." (QS. al-Qashash: 56). Oleh karena itu, ia mengajak jamaah untuk terus mendoakan keluarga dan orang-orang yang dicintai agar mendapatkan hidayah dari Allah Swt.
Menjelang akhir ceramah, Masykur menjelaskan makna hijrah yang lebih luas daripada sekadar perpindahan fisik dari Makkah ke Madinah. Menurutnya, hijrah berarti berpindah dari kondisi yang menakutkan menuju kehidupan yang aman, dari lingkungan yang jauh dari nilai-nilai iman menuju kehidupan yang lebih dekat kepada Allah.
Dalam konteks keluarga, hijrah berarti mengubah rumah menjadi tempat yang menenangkan seluruh anggota keluarga. Suami dan istri harus belajar saling menghormati, mengendalikan emosi, dan membangun suasana penuh kasih sayang. Ia mencontohkan keteladanan Umar bin Khattab yang tetap sabar terhadap istrinya karena menyadari besarnya jasa seorang istri dalam kehidupan keluarga. "Rumah adalah tempat latihan kesabaran yang paling nyata. Orang-orang di rumah menerima kita apa adanya. Karena itu mereka berhak mendapatkan kesabaran dan kasih sayang kita," katanya.
Masykur menegaskan bahwa perjalanan hijrah Rasulullah dari Makkah ke Madinah mengandung tiga pesan besar yang tetap relevan hingga sekarang. Pertama, hijrah merupakan perjuangan mempertahankan akidah dan keimanan. Kedua, hijrah adalah perjalanan ibadah, tercermin dari langkah pertama Rasulullah yang membangun Masjid Quba dan kemudian Masjid Nabawi sebagai pusat kehidupan umat. Ketiga, hijrah adalah upaya membangun ukhuwah dan persaudaraan, di mana Rasulullah mempersaudarakan kaum Muhajirin dan Ansar serta membangun masyarakat yang harmonis.
"Ketika keluar dari rumah, anggaplah kita sedang berhijrah. Niatkan untuk menjaga akidah, menjadikan setiap perjalanan bernilai ibadah, dan membangun persaudaraan, bukan mencari permusuhan," pesannya. Ia menutup ceramah dengan mengajak umat Islam menjadikan Tahun Baru 1448 Hijriah sebagai momentum memperbaiki diri, memperkuat hubungan dengan Allah, serta mempererat hubungan antarsesama demi terwujudnya kehidupan yang damai dan penuh keberkahan.





