Majelis Diktilitbang PP Muhammadiyah Dorong PTMA Cetak Lulusan Adaptif di Tengah Ketatnya

MUHAMMADIYAHSULSEL.OR.ID - YOGYAKARTA, 20 Mei 2024 - Dunia kerja di Indonesia menghadapi tantangan serius seiring dengan fenomena deindustrialisasi yang mengakibatkan terbatasnya penyerapan tenaga kerja. Situasi ini kian mengancam kelompok sarjana, terutama mengingat peningkatan signifikan jumlah lulusan perguruan tinggi dalam beberapa tahun terakhir. Ketua Majelis Pendidikan Tinggi, Penelitian, dan Pengembangan (Diktilitbang) Pimpinan Pusat (PP) Muhammadiyah, Bambang Setiaji, menyoroti bahwa jumlah sarjana di Indonesia telah melonjak dari sekitar enam juta menjadi sepuluh juta dalam lima tahun terakhir, menambah tiga hingga empat juta sarjana baru.
"Bisa dibayangkan SDM yang lulus itu meningkat, kotak penampungnya menurun," ujar Bambang Setiaji, seorang Guru Besar di Bidang Tenaga Kerja, dalam acara Leadership Training (LT) Angkatan XII yang dihadiri oleh Rektor dan Wakil Rektor Perguruan Tinggi Muhammadiyah-'Aisyiyah (PTMA) pada Selasa (14/7) di Universitas Muhammadiyah Yogyakarta (UMY).
Bambang menjelaskan bahwa perbedaan fundamental antara negara maju dan berkembang terletak pada tumpuan ekonominya; negara maju mengandalkan industri jasa, sementara negara berkembang, termasuk Indonesia, masih didominasi oleh sektor manufaktur. Namun, sektor manufaktur di Indonesia telah mengalami deindustrialisasi selama satu dekade terakhir, diperparah oleh masuknya produk-produk murah dari Tiongkok. Akibatnya, banyak industri lokal terancam gulung tikar, mempersempit lapangan kerja.
Fenomena ini menuntut PTMA untuk berperan aktif dalam mencari solusi dan membekali mahasiswanya agar siap menghadapi realitas pasar kerja yang dinamis. PTMA diharapkan dapat memastikan lulusannya memiliki prospek kerja yang jelas atau bahkan mampu menciptakan peluang kerja baru, sesuai dengan harapan orang tua dan masyarakat.
Tuntutan Menjamin Mutu Lulusan Siap Kerja dan Keluhuran Sikap Mahasiswa
Mencetak lulusan yang adaptif dan mampu terserap di pasar kerja atau berinovasi menciptakan lapangan kerja memang menjadi prioritas mendesak bagi PTMA. Namun, Bambang Setiaji mengingatkan bahwa visi besar PTMA juga mencakup pembentukan karakter mahasiswa yang berbudi pekerti luhur, beriman, dan bertakwa. "Keadaan ini tidak mudah bapak dan ibu sebagai pendidik yang bertanggung jawab tidak hanya meluluskan," katanya.
Dalam konteks ini, pendidikan Al Islam Kemuhammadiyahan (AIK) di PTMA tetap relevan dan krusial. AIK perlu diterapkan tidak hanya pada aspek kognitif, tetapi juga motorik, sehingga mampu beradaptasi dengan perubahan sosial, ekonomi, dan teknologi yang terus berkembang.
Bambang Setiaji menekankan pentingnya PTMA untuk menginspirasi kemandirian di tengah masyarakat. Dengan kondisi industri nasional yang lesu dan lapangan kerja yang semakin terbatas, pembekalan mahasiswa dengan semangat inovasi menjadi esensial. Meskipun kurikulum memiliki peran penting, proporsi inovasi dalam pendidikan harus ditingkatkan secara signifikan.
Sumber: Muhammadiyah.or.id
Artikel ini dipublikasikan di muhammadiyahsulsel.or.id. Bagikan untuk menyebarkan kebaikan.





