Abdul Mu'ti: Ulul Albab Kunci Menyaring Informasi di Era Kecerdasan Buatan

MUHAMMADIYAHSULSEL.OR.ID - BLITAR, Ahad, 12 Juli - Sekretaris Umum Pimpinan Pusat (PP) Muhammadiyah, Abdul Mu’ti, mengingatkan masyarakat agar tidak sepenuhnya menggantungkan diri pada kemajuan teknologi informasi, termasuk Akal Imitasi atau Kecerdasan Buatan (AI), meskipun teknologi tersebut sangat memudahkan kehidupan. Pesan ini disampaikannya dalam Tabligh Akbar yang diselenggarakan oleh Pimpinan Daerah Muhammadiyah (PDM) Blitar pada Ahad, 12 Juli.
Menurut Abdul Mu’ti, yang juga menjabat Mendikdasmen RI, meskipun kecerdasan buatan terus mengalami peningkatan kemampuan, akurasi dan kebenaran informasinya belum dapat dipertanggungjawabkan sepenuhnya. Oleh karena itu, ia menekankan pentingnya peran ulul albab bagi manusia untuk memilah antara kebenaran dan kesalahan di tengah gelombang informasi.
“Sehingga ulul albab itu adalah orang yang mau belajar, mau mendengar, mau memikirkan,” ujar Abdul Mu’ti.
Ia menjelaskan bahwa ulul albab merupakan sebuah istilah yang disebutkan sebanyak 16 kali dalam Al-Qur’an. Istilah ini merujuk pada gambaran manusia ideal yang memiliki kecerdasan intelektual, kematangan emosional, serta kekuatan spiritual.
Mu’ti menambahkan, individu yang tergolong ulul albab adalah mereka yang mampu menyaring hal-hal yang benar dan baik di tengah banyaknya keburukan. Kemampuan ini menjadi sangat relevan di era kemudahan informasi, yang ironisnya, seringkali membuat manusia kehilangan kecerdasannya sendiri.
Mengutip buku "World Without Mind" karya Franklin Foer, Abdul Mu’ti menguraikan bahwa dunia kini semakin dipenuhi oleh individu-individu yang kurang cerdas atau jarang menggunakan kapasitas akal mereka.
“Sesungguhnya itu kita bergantung pada namanya makhluk yang bernama gawai. Teknologi itu yang akhirnya kita tidak semakin cerdas. Parahnya lagi adalah kalau kita bergantung pada teknologi itu kadang-kadang menghakimi orang tanpa ilmu,” ungkapnya.
Ia melanjutkan, ketika semakin banyak orang enggan berpikir secara mendalam, kehidupan cenderung menjadi sangat simplistis. Manusia seringkali langsung menarik kesimpulan tanpa melakukan pembacaan yang komprehensif. Meskipun informasi kini melimpah dan mudah diakses, seringkali informasi tersebut kehilangan kedalamannya, terutama di kalangan masyarakat yang cenderung hanya menggulir informasi (scroll society).
“Karena itu maka sebagai ulul albab, orang-orang yang cerdas, kita tidak bisa langsung mengambil kesimpulan sebelum kita tahu dengan ilmu,” pungkas Abdul Mu’ti, menegaskan pentingnya landasan ilmu sebelum mengambil keputusan.
Sumber: Muhammadiyah.or.id
Artikel ini dipublikasikan di muhammadiyahsulsel.or.id. Bagikan untuk menyebarkan kebaikan.





