Konsistensi Dakwah Kunci Utama, Pelajaran dari Sejarah Nabi hingga KHGT

MUHAMMADIYAHSULSEL.OR.ID - PONOROGO, Dewan Pakar Majelis Pembinaan Kader dan Sumber Daya Insani (MPKSDI) Pimpinan Pusat (PP) Muhammadiyah, Zakiyuddin Baidhawy, menegaskan bahwa konsistensi atau istikamah merupakan tantangan terberat sekaligus kunci keberhasilan bagi para pendakwah. Ia menekankan agar kader Muhammadiyah senantiasa siap dan tidak mudah menyerah dalam menghadapi berbagai rintangan dakwah.
Pesan tersebut disampaikan Prof. Zakiyuddin dalam Pengajian Ahad Pagi Al Manar yang diselenggarakan di Universitas Muhammadiyah (UM) Ponorogo pada 19 Juli. Dalam kesempatan itu, ia mengajak para mubalig dan kader Muhammadiyah untuk merenungi sejarah panjang dakwah Nabi Muhammad SAW. Selama 13 tahun berdakwah di Makkah, Nabi hanya berhasil mengumpulkan sekitar 40 pengikut. Namun, setelah hijrah dan berdakwah selama 13 tahun di Madinah, Islam diterima luas dan jumlah pemeluknya berkembang pesat hingga mencapai lebih dari 100.000 orang. Kisah ini, menurutnya, adalah bukti nyata pentingnya ketekunan.
Selain itu, Prof. Zakiyuddin juga menyoroti pembaruan yang digagas oleh Kiai Haji Ahmad Dahlan, pendiri Muhammadiyah. Ia mengambil contoh upaya Kiai Dahlan dalam meluruskan arah kiblat masjid. "Menegakkan risalah tauhid dibutuhkan jumlah ratusan nabi dan ratusan rasul. Lalu kalau Kiai Ahmad Dahlan dulu meluruskan kiblat ternyata butuh satu abad," ujarnya. Setelah satu abad berlalu, kini umat Islam di Indonesia secara otomatis memulai pembangunan masjid dengan mengukur arah kiblat, sebuah indikasi bahwa dakwah yang konsisten pada akhirnya akan membuahkan hasil.
Merujuk pada pengalaman tersebut, Prof. Zakiyuddin lantas mengaitkannya dengan sosialisasi Kalender Hijriah Global Tunggal (KHGT) yang baru diperkenalkan sekitar setahun lalu. "Apalagi Kalender Hijriah Global Tunggal (KHGT) kan baru setahun yang lalu. Sabar pak. Kalau masih ada pro-kontra biasa gitu, kan mungkin butuh satu abad lagi," kata Prof. Zakiyuddin. Ia menyimpulkan bahwa esensi ujian dalam berdakwah terletak pada sejauh mana kemampuan seseorang untuk tetap konsisten dan istikamah. "Jadi ujiannya berdakwah itu sejauh mana kita bisa konsisten dan bisa istikamah," pungkasnya.
Sumber: Muhammadiyah.or.id
Artikel ini dipublikasikan di muhammadiyahsulsel.or.id. Bagikan untuk menyebarkan kebaikan.





