Kiai Saad Ibrahim: Bahasa Arab Harus Jadi Bahasa Ilmu Pengetahuan Global

MUHAMMADIYAH SULSEL, YOGYAKARTA - Ketua Pimpinan Pusat (PP) Muhammadiyah, Kiai Saad Ibrahim, menyerukan agar Bahasa Arab tidak hanya dipahami sebagai bahasa agama dan ibadah, melainkan juga sebagai bahasa akademik dan sains global. Penekanan ini disampaikan Kiai Saad dalam sambutannya pada seminar yang diselenggarakan oleh Lembaga Pengembangan Pesantren Muhammadiyah (LP2M) PP Muhammadiyah di UM Bandung, Sabtu (20/6).
Kiai Saad menyoroti bahwa saat ini terdapat lebih dari 460 juta penutur Bahasa Arab di 26 negara, menjadikannya salah satu bahasa dengan penggunaan harian terbesar di dunia. Namun, ia menyayangkan kondisi kontemporer di mana karya ilmiah global yang ditulis dalam Bahasa Arab masih sangat minim, sebuah realitas yang kontras dengan jumlah penuturnya yang terus bertambah.
"Masyarakat ilmiah bukan hanya produsen ilmu pengetahuan, melainkan juga konsumennya. Di masa keemasan Islam abad ke-9 di Baghdad, Bahasa Arab berjaya karena digunakan sebagai bahasa ilmu pengetahuan," ujar Kiai Saad, menggarisbawahi peran historis Bahasa Arab sebagai medium keilmuan.
Oleh karena itu, Kiai Saad mendorong Pesantren Muhammadiyah untuk memainkan peran strategis dalam penguatan Bahasa Arab sebagai bahasa ilmiah akademik. Penguasaan Bahasa Arab yang mumpuni oleh para santri tidak hanya akan memperkaya khazanah keilmuan, tetapi juga membuka peluang beasiswa studi di luar negeri.
Melalui seminar ini, LP2M PP Muhammadiyah berharap lembaga pendidikan pesantren dapat merevitalisasi metode pembelajaran Bahasa Arab. Harapannya, dari lingkungan pesantren Muhammadiyah akan lahir generasi pendidik, ulama, dan ilmuwan yang kompeten di masa depan, yang mampu mengembalikan kejayaan Bahasa Arab sebagai bahasa ilmu pengetahuan.





