Ketum PP Muhammadiyah Haedar Nashir: Spirit Hijrah Dorong Kemandirian Umat Islam

MUHAMMADIYAH SULSEL, YOGYAKARTA - Ketua Umum Pimpinan Pusat Muhammadiyah, Haedar Nashir, mengajak umat Islam untuk memaknai Tahun Baru 1 Muharram 1448 Hijriah bukan sekadar dengan seremonial syiar, melainkan sebagai momentum muhasabah dan refleksi mendalam. Menurut Haedar, spirit hijrah yang menjadi inspirasi utama kelahiran tahun baru Islam harus dihidupkan untuk membangun kemandirian dan kekuatan umat di berbagai bidang kehidupan yang masih memerlukan pengembangan.
Esensi utama hijrah, jelas Haedar, adalah perubahan menuju kondisi yang lebih baik, baik secara individual maupun kolektif. Nabi Muhammad SAW berhijrah dari Makkah ke Madinah untuk keluar dari kegelapan era Jahiliah menuju kehidupan yang terang benderang dalam cahaya tauhid, atau “takhrij min al-dhulumat ila al-nur”. Perjuangan tersebut, yang berlangsung sekitar 23 tahun, berhasil mewujudkan “al-Madinah al-Munawwarah” atau kehidupan yang tercerahkan di segala aspek, yang kemudian menyinari dan membangun peradaban dunia berabad-abad lamanya.
Spirit hijrah, kata Haedar, sepadan dengan berjihad, yakni bersungguh-sungguh dalam perjuangan hidup umat Islam. Ia mengutip firman Allah dalam Al-Quran, “Sesungguhnya orang-orang yang beriman, orang-orang yang berhijrah dan berjihad di jalan Allah, mereka itu mengharapkan rahmat Allah, dan Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang” (QS Al-Baqarah: 218). Ayat lain juga menegaskan, “Dan orang-orang yang beriman dan berhijrah serta berjihad pada jalan Allah, dan orang-orang yang memberi tempat kediaman dan memberi pertolongan (kepada orang-orang muhajirin), mereka itulah orang-orang yang benar-benar beriman. Mereka memperoleh ampunan dan rezeki (ni’mat) yang mulia” (QS Al-Anfal: 74), serta “Orang-orang yang beriman dan berhijrah serta berjihad di jalan Allah dengan harta benda dan diri mereka adalah lebih tinggi derajatnya di sisi Allah; dan itulah orang-orang yang mendapat kemenangan” (QS At-Taubah: 20).
Kandungan substansial dari ayat-ayat Al-Quran tentang hijrah tersebut ialah berjihad di jalan Allah dengan harta dan jiwa, serta memberi tempat kediaman dan pertolongan kepada yang memerlukan. Ini mengandung makna agar umat Islam berjuang keras untuk memiliki segala sesuatu sehingga mampu memberi kepada siapapun yang membutuhkan. Pepatah Arab “faaqidu asy-syai la yu’thi” atau “orang yang tidak memiliki sesuatu tidak akan mampu memberi sesuatu” menjadi relevan. Haedar juga mengutip hadis Rasulullah SAW, “Tangan yang di atas lebih baik daripada tangan yang di bawah” (HR Bukhari dan Muslim dari Hakim bin Hizâm r.a.) dan “Seorang mukmin yang kuat lebih baik dan lebih dicintai Allah daripada seorang mukmin yang lemah…” (HR Muslim dari Abu Hurairah r.a.). Hadis ini menekankan pentingnya kemandirian sebagai bagian dari spirit hijrah dan ajaran Islam.
Haedar menyoroti bahwa umat Islam di level dunia, khususnya di Timur Tengah seperti Arab Saudi, Qatar, dan Uni Emirat Arab, relatif kuat secara finansial dan ekonomi. Namun, secara politik belum mandiri karena masih tergantung pada politik global, sehingga tidak mampu melawan Israel yang agresif. Demikian pula umat Islam Indonesia, meskipun mayoritas, masih lemah secara ekonomi dan politik, sehingga tidak memiliki daya tawar tinggi terhadap berbagai pihak yang memiliki kekuatan dominasi. Oleh karena itu, membangun kemandirian menjadi kondisi yang masih memerlukan hijrah, yaitu perubahan dan pengembangan di tubuh umat Islam Indonesia.
Kemandirian, otonomi, dan independensi, menurut Haedar, merupakan kesanggupan untuk berdiri sendiri dengan keberanian dan tanggung jawab dalam melaksanakan kewajiban guna memenuhi kebutuhan sendiri. Ini berarti umat Islam secara berjamaah harus mampu berdikari dalam memenuhi kewajiban dan kepentingannya di berbagai bidang kehidupan, termasuk pendidikan, kesehatan, sosial, ekonomi, serta penguasaan ilmu dan teknologi.
Di antara aspek strategis yang perlu dilakukan umat Islam saat ini adalah gerakan membangun kemandirian umat, terutama di bidang ekonomi dan penguatan politik kebangsaan. Bersamaan dengan penguatan aspek khusus keagamaan lainnya, seperti keimanan, ibadah, dan akhlak mulia, diperlukan pula penguatan ekonomi, politik kebangsaan, dan budaya luhur umat Islam. Semua ini memerlukan transformasi, yaitu perubahan terencana dan tersistem untuk membangun kekuatan umat Islam agar berdampak positif dan konstruktif terhadap kehidupan bangsa dan umat manusia di ranah nasional dan global.
Pembinaan iman, ibadah, dan akhlak harus terus diperkokoh dengan menarik fungsinya yang bersifat transformatif. Hal ini berarti melahirkan pancaran keagamaan yang mencerahkan kesalehan otentik untuk kehidupan pribadi, keluarga, masyarakat, bangsa, dan kemanusiaan semesta. Penguatan iman, ibadah, dan akhlak mulia niscaya berbanding lurus dengan menebar nilai luhur kejujuran, kebaikan, kedamaian, keadilan, sikap tengahan, dan segala bentuk ihsan dalam kehidupan kaum muslimin. Kekuatan keberagamaan yang kuat justru melahirkan kesalehan utama yang memancarkan nilai-nilai luhur tersebut, bukan sebaliknya melahirkan sikap merasa paling benar dan bersih dalam beragama, sebagaimana Allah melarang sikap beragama yang semuci itu: “Maka, janganlah kamu menganggap dirimu suci. Dia lebih mengetahui siapa yang bertakwa” (QS An-Najm: 32).
Umat Islam dengan kekuatan akidah, ibadah, dan akhlak yang berkarakter transformatif penting membangun kemandirian dalam urusan mu’amalah atau kehidupan keduniaan, seperti ekonomi, politik, dan budaya. Bilamana umat Islam masih lemah secara keduniaan, meskipun mayoritas secara jumlah, maka akan menjadi umat “maf’ulun bihi” atau objek penderita. Mereka akan menjadi objek pemberian yang mengikat, terpinggirkan, dan menghadapi berbagai tindakan pelemahan karena ketidakmandiriannya. Haedar mengamati bahwa masih menjadi pemandangan umum jika umat Islam ingin membangun masjid, sekolah, madrasah, pesantren, dan keperluan berat lainnya, yang sering dilakukan adalah meminta kepada pihak lain dalam beragam bentuk yang menunjukkan ketergantungan. Ia mengingatkan agar tidak hanya mengajak umat independen tetapi tidak berusaha membangun kekuatan dari dalam tubuh umat Islam sendiri dengan usaha-usaha yang terencana, tersistem, dan berkelanjutan.
Di antara prioritas utama yang akan menjadi kekuatan penting dan mampu menjadikan umat Islam mandiri adalah kekuatan ekonomi. Haedar menegaskan agar umat Islam tidak terus berkontroversi tentang aktivitas ekonomi dan bisnis, apalagi menolak bisnis berskala besar dan strategis, hanya karena terdapat praktik-praktik pihak lain yang kotor dan menimbulkan dampak perusakan. Umat Islam mesti berbisnis yang halalan thayyiban didukung profesionalitas yang tinggi. Bisnis mikro, kecil, dan menengah harus terus diberdayakan secara masif. Selain itu, bisnis eksekutif dan strategis dari level menengah sampai tinggi harus mulai digarap oleh umat Islam secara amanah dan profesional, seperti industri, perkebunan, pertambangan, dan teknologi informasi. Jika selama ini bisnis atau ekonomi strategis banyak digarap sekelompok kecil orang atau pihak lain secara tidak bertanggung jawab, merugikan masyarakat, dan merusak lingkungan, maka umat Islam harus menunjukkan contoh yang baik dalam berbisnis, dilakukan dengan rasional, terencana, dan bertahap sehingga bersifat saksama dengan akuntabilitas tinggi.
Organisasi kemasyarakatan (ormas) keagamaan di lingkungan umat Islam memang hadir untuk memperkokoh pembinaan aspek keimanan, ketakwaan, ritual ibadah, dan akhlak mulia. Namun, bersamaan dengan itu, ormas keagamaan juga memiliki panggilan ibadah yang sifatnya mu’amalah di berbagai aspek kehidupan. Hal itu sejalan dengan perintah Islam agar umat Islam menjadi “khalifat fil-ardh” untuk membangun berbagai dimensi kehidupan keduniaan atau al-umur al-dunyawiyah. Umat Islam harus mengurus dunia sebagai bekal untuk akhirat, sebagaimana firman Allah dalam Al-Quran: “Dan carilah pada apa yang telah dianugerahkan Allah kepadamu (kebahagiaan) negeri akhirat, dan janganlah kamu melupakan bahagianmu dari (kenikmatan) duniawi dan berbuat baiklah (kepada orang lain) sebagaimana Allah telah berbuat baik, kepadamu, dan janganlah kamu berbuat kerusakan di (muka) bumi. Sesungguhnya Allah tidak menyukai orang-orang yang berbuat kerusakan” (QS Al-Qashas: 77).
Umat Islam jangan antipati dalam bergerak di sektor ekonomi, bisnis, dan wirausaha, baik yang berskala mikro, kecil, dan menengah maupun yang berskala besar, eksekutif, dan strategis. Mengikuti pandangan sufi besar, Jalaluddin Rumi, “Jika orang-orang saleh pasif di dunia, jangan salahkan manakala orang-orang zalim berkuasa.” Umat Islam harus tampil sebagai kekuatan “khalifat fil-ardh” yang memiliki watak membangun (ishlah) dan tidak merusak (fasad fil-ardh). Haedar mengingatkan firman Allah dalam Al-Quran: “Dialah (Allah) yang menciptakan segala apa yang ada di bumi untuk kalian, kemudian Dia menuju ke langit, lalu Dia menyempurnakannya menjadi tujuh langit. Dan Dia Maha Mengetahui segala sesuatu” (QS Al-Baqarah: 29).
Kemandirian dengan menunjukkan otonomi dan independensi tidak berarti hidup eksklusif, menyendiri, dan serba konfrontasi. Sebaliknya, kemandirian meniscayakan kolaborasi, relasi, dan kerja sama dengan umat dan golongan lain yang memiliki semangat yang sama membangun tatanan kehidupan yang baik. Allah mengajarkan umat Islam, “Dan tolong-menolonglah kamu dalam (mengerjakan) kebajikan dan takwa, dan jangan tolong-menolong dalam berbuat dosa dan pelanggaran” (QS Al-Maidah: 2). Umat Islam sebagai mayoritas di negeri ini penting menunjukkan uswah hasanah dalam membangun persatuan, kebersamaan, toleransi, dan kebaikan lintas agama, suku bangsa, dan golongan dalam menebar misi kebaikan untuk semua.
Karenanya, melalui momentum hijrah di tahun baru Hijriah, Haedar Nashir berharap umat Islam di Indonesia maupun di ranah dunia semakin menemukan kekuatan kemandirian dalam berbagai aspek kehidupan menuju kualitas sebagai “khaira ummah” atau umat terbaik sebagaimana diidealisasikan dalam Al-Quran Surat Ali-Imran ayat ke-110. Kehadiran Tahun Baru Hijriah 1448 menjadi momentum penting dalam membangun kemandirian yang membawa pada kehidupan yang terbaik menuju terwujudnya umat dan peradaban yang utama dalam menyebarkan misi Islam rahmatan lil-‘alamin di semesta raya. Semoga Allah SWT melimpahkan ridha dan karunia-Nya kepada umat Islam, bangsa Indonesia, dan umat manusia keseluruhan dalam membangun kehidupan bersama di muka bumi yang “Baldatun thayyibatun wa Rabbun ghafur”, yakni kehidupan negara dan bangsa-bangsa yang serba-baik serta memperoleh ampunan Allah Subhanahu Wata’ala. Nasrun min Allah wa fathun qarib.





