Ketua PP Aisyiyah: Takwa Adalah Proses Sepanjang Hayat yang Berlandaskan Empat Pilar

MUHAMMADIYAHSULSEL.OR.ID - YOGYAKARTA, 12 Juli - Ketua Pimpinan Pusat Aisyiyah, Evi Sofia Inayati, mengajak umat Islam untuk memandang ketakwaan sebagai sebuah proses pembentukan karakter yang harus diupayakan secara terus-menerus sepanjang hidup. Menurutnya, seluruh ibadah yang dikerjakan seorang muslim pada akhirnya bertujuan membentuk pribadi yang bertakwa, yaitu individu yang mampu mengendalikan diri, menjadikan wahyu sebagai pedoman, bersikap qanaah, serta senantiasa mempersiapkan bekal untuk kehidupan akhirat.
Pernyataan tersebut disampaikan Evi dalam acara Pengajian Ahad Pagi Kliwon yang diselenggarakan di Masjid Al-Musannif Tabligh Institute Muhammadiyah Yogyakarta. Ia mengingatkan bahwa seruan untuk bertakwa kerap didengar dalam berbagai kesempatan, termasuk khutbah Jumat. Namun, ia menegaskan bahwa ketakwaan bukanlah pencapaian akhir, melainkan perjuangan yang tak henti hingga akhir hayat.
“Sesungguhnya semua ibadah yang kita jalankan ujung-ujungnya adalah berproses menjadi orang yang bertakwa. Takwa itu proses terus-menerus yang tidak pernah berhenti sampai akhir hayat,” ujar Evi.
Evi kemudian mengutip atsar dari Sayyidina Ali bin Abi Thalib yang menguraikan empat pilar ketakwaan. Ia menekankan bahwa riwayat ini merupakan atsar sahabat, bukan hadis, yang memberikan gambaran komprehensif tentang karakter seorang yang bertakwa.
Empat Pilar Ketakwaan
Pilar pertama adalah al-khauf min al-Jalil, yaitu memiliki rasa takut kepada Allah Swt. Evi menjelaskan bahwa rasa takut yang dimaksud bukanlah ketakutan patologis, melainkan kesadaran mendalam bahwa setiap tindakan manusia senantiasa berada dalam pengawasan Allah. “Takut di sini adalah rasa khawatir yang dilandasi kesadaran. Jangan-jangan apa yang kita lakukan melanggar ketentuan Allah. Kesadaran inilah yang membuat seseorang hidup lebih hati-hati,” jelasnya.
Kesadaran akan pengawasan ilahi ini, lanjut Evi, akan menumbuhkan pengendalian diri (self-control) sehingga seseorang akan berhati-hati dalam bertindak, bahkan saat tidak ada manusia yang melihat. Ia mengibaratkan pengawasan Allah seperti kamera pengawas yang tak pernah berhenti. “Kalau CCTV buatan manusia masih bisa dimatikan atau dipindahkan, pengawasan Allah tidak pernah berhenti. Ketika kita sadar Allah Maha Mengawasi, hidup kita akan lebih hati-hati sehingga tidak mudah tergelincir pada perbuatan yang buruk,” tuturnya. Evi juga mencontohkan hal-hal kecil seperti mengambil makanan sisa tanpa izin di suatu acara sebagai latihan penting dalam membangun kejujuran dan amanah sejak dini di lingkungan keluarga. “Hal-hal kecil seperti itu adalah pendidikan akhlak. Jujur, amanah, dan tidak mengambil sesuatu yang bukan hak kita harus dibiasakan sejak di lingkungan keluarga,” imbuhnya.
Pilar kedua adalah al-‘amal bi at-tanzil, yaitu menjadikan Al-Qur’an dan sunah sebagai pedoman utama dalam kehidupan. Menurut Evi, keluarga memiliki peran krusial dalam menanamkan kecintaan terhadap Al-Qur’an sejak anak usia dini. Orang tua diharapkan tidak meremehkan pertanyaan-pertanyaan kritis anak mengenai agama, melainkan menjadikannya sebagai kesempatan untuk berdialog dan memberikan pemahaman. “Pertanyaan seperti itu jangan dimatikan. Justru harus dijelaskan agar anak memahami bahwa Al-Qur’an bukan sekadar dibaca, tetapi menjadi sumber nilai dan pedoman hidup,” ujarnya.
Evi menegaskan bahwa Al-Qur’an mengandung spirit yang relevan sepanjang zaman, mendorong terwujudnya kemakmuran, keadilan, kesetaraan, penghormatan martabat manusia, serta kehidupan yang damai. “Al-Qur’an memberikan spirit kemakmuran, keadilan, kesetaraan, dan memanusiakan manusia. Islam membawa kedamaian. Semua ajarannya diarahkan untuk menghadirkan kemaslahatan bagi kehidupan,” paparnya. Oleh karena itu, ia mengingatkan pentingnya terus menggali spirit Al-Qur’an untuk menjawab persoalan-persoalan kontemporer. “Islam berkemajuan itu memang spirit Al-Qur’an. Bukan sekadar romantisme kejayaan masa lalu, tetapi menggali nilai-nilai Al-Qur’an untuk menjawab tantangan zaman.”
Dalam kesempatan itu, Evi juga menyoroti pentingnya pendidikan keluarga di tengah arus media sosial yang deras. Ia menekankan bahwa orang tua harus hadir mendampingi anak-anak karena informasi kini sangat mudah diakses. Ayah dan ibu, menurutnya, memiliki tanggung jawab yang setara dalam mengasuh dan mendidik anak. Kehadiran ayah tidak hanya sebagai pencari nafkah, tetapi juga secara emosional. “Anak laki-laki sering kali ingin berbicara dengan ayahnya. Jangan sampai terjadi fatherless, yaitu ketidakhadiran ayah dalam pengasuhan. Dalam keluarga sakinah, ayah dan ibu memiliki kewajiban yang sama untuk merawat, mendidik, dan mengasuh anak.” Evi juga mengingatkan pentingnya pendampingan yang tepat terhadap persoalan sosial generasi muda, mengarahkan anak pada akhlak yang baik, dan membangun komunikasi terbuka dalam keluarga.
Pilar ketiga adalah al-qana’ah bi al-qalil, yakni merasa cukup dan rida terhadap rezeki yang diberikan Allah. Namun, Evi menegaskan bahwa qanaah tidak berarti pasrah tanpa usaha. “Qanaah bukan malas. Tetap harus ikhtiar, tetap kreatif, tetap bekerja keras. Yang dikendalikan adalah nafsu agar tidak terus-menerus merasa kurang.” Ia menilai sikap qanaah semakin krusial di tengah budaya konsumtif saat ini, di mana kemudahan berbelanja daring sering mendorong pembelian barang yang tidak dibutuhkan. “Kalau tidak punya qanaah, keinginan itu tidak akan pernah berhenti. Hari ini melihat barang lucu langsung ingin membeli, besok melihat yang lain ingin membeli lagi. Padahal belum tentu dibutuhkan.” Qanaah, menurutnya, mengandung tiga unsur penting: rasa syukur, kesabaran, dan ikhtiar, yang menjadi benteng dari sifat tamak dan rakus.
Pilar terakhir adalah al-isti’dad li yaum ar-rahil, yaitu mempersiapkan bekal untuk hari ketika setiap manusia kembali menghadap Allah Swt. Evi mengingatkan bahwa tidak seorang pun mengetahui kapan ajal akan tiba. Oleh karena itu, setiap amal perbuatan di dunia harus dipandang sebagai bekal yang kelak akan dipertanggungjawabkan di hadapan Allah. “Kita semua pasti akan kembali kepada Allah. Karena itu, setiap perbuatan harus menjadi tanaman kebaikan yang nanti akan kita panen di akhirat.”
Menutup kajiannya, Evi menegaskan bahwa pengamalan keempat pilar ketakwaan ini tidak hanya membentuk kualitas spiritual seseorang, tetapi juga memberikan dampak positif terhadap kesehatan mental dan karakter kepemimpinan. “Kalau empat hal ini kita amalkan, secara psikologis jiwa kita akan sehat. Orang bertakwa adalah orang yang tangguh, kuat, tegar, dan menjadi pemenang. Pemimpin seperti inilah yang dibutuhkan, baik dalam keluarga maupun di tengah masyarakat,” pungkasnya.
Sumber: Muhammadiyah.or.id
Artikel ini dipublikasikan di muhammadiyahsulsel.or.id. Bagikan untuk menyebarkan kebaikan.





