Ketua Dikdasmen Muhammadiyah Sulsel Pelajari Sekolah Berbasis Talenta dan Industri di Korea Selatan

MUHAMMADIYAHSULSEL.OR.ID - MAKASSAR, 26 Juli 2026 - Ketua Majelis Pendidikan Dasar dan Menengah Pimpinan Wilayah Muhammadiyah Sulawesi Selatan, Prof. Erwin Akib, mengikuti Korea Educational FAM Tour di Korea Selatan sebagai bagian dari delegasi Majelis Pendidikan Dasar, Menengah, dan Pendidikan Nonformal Pimpinan Pusat Muhammadiyah. Kunjungan yang berlangsung pada 6 sampai 11 Juli 2026 itu menjadi ruang belajar langsung mengenai pengembangan sekolah berbasis bakat, penguatan STEM, pendidikan vokasi, hubungan dengan industri, serta pemanfaatan budaya dan ruang publik sebagai sumber pembelajaran.
Erwin menjelaskan bahwa pengalaman di Korea Selatan memperlihatkan bagaimana sekolah tidak berusaha unggul secara serba umum, melainkan berani menetapkan identitas yang tegas. Keunggulan spesifik tersebut lalu ditopang kurikulum, guru, fasilitas, pola latihan, dan jejaring kemitraan yang searah. Model seperti ini, menurutnya, relevan untuk dibaca ulang oleh sekolah-sekolah Muhammadiyah yang ingin bertumbuh dengan karakter khas sesuai potensi daerah masing-masing.
Delegasi mengunjungi empat institusi pendidikan utama, yakni Korea K-POP High School di Hongseong, Gasu Middle School di Osan, Hwadam High School di Hwaseong, dan Seoul Tourism High School di Seoul. Selain itu, rombongan juga mempelajari fungsi sejumlah ruang budaya, industri, literasi, teknologi, dan pengalaman belajar publik yang terintegrasi dengan pendidikan.
Di Korea K-POP High School, delegasi melihat bagaimana pendidikan berbasis talenta seni dikembangkan secara serius dan sistematis. Sekolah tersebut menerima peserta didik sesuai bidang minat seperti vokal, tari, rap, dance vocal, dan musik digital. Semua bidang ditopang ruang latihan individual, studio tari, studio rekaman, pendampingan personal, keterlibatan praktisi, hingga pengalaman tampil dan mengikuti audisi.
Menurut Erwin, poin terpenting dari kunjungan itu bukan semata karena K-pop menjadi tema sekolah, melainkan karena sekolah berhasil memetakan bakat peserta didik dan menempatkannya sebagai jalur pendidikan yang terencana. Ia menilai pendekatan ini dapat menginspirasi sekolah Muhammadiyah untuk mengembangkan keunggulan yang lebih fokus, baik dalam sains, bahasa, olahraga, seni, teknologi, kewirausahaan, pertanian, maupun kemaritiman, tergantung kebutuhan masyarakat setempat.
Kunjungan berikutnya ke Gasu Middle School memberi pelajaran tentang bagaimana sekolah baru dapat dirancang sejak awal dengan ekosistem STEM yang kuat. Sekolah negeri yang mulai beroperasi pada Maret 2025 itu memiliki lebih dari 570 siswa dan dilengkapi laboratorium sains, perpustakaan, ruang teknologi, fasilitas seni, dan ruang pendukung pembelajaran lain yang aktif digunakan.
Erwin menilai perencanaan fasilitas di sekolah tersebut tidak berhenti sebagai pemenuhan standar gedung. Laboratorium, perpustakaan, dan ruang praktik dirancang mengikuti kebutuhan pembelajaran sehingga benar-benar dipakai untuk eksperimen, pemecahan masalah, dan kerja kolaboratif. Ia melihat pendekatan ini penting untuk ditiru agar investasi fasilitas di sekolah Muhammadiyah menghasilkan dampak nyata pada proses belajar.
Di Hwadam High School, delegasi memperoleh gambaran mengenai integrasi pembelajaran akademik dengan kewirausahaan, pembentukan profesi, pendidikan lingkungan, olahraga, dan pendampingan karier. Sekolah itu memperlihatkan bahwa orientasi masa depan siswa dapat dibangun lebih awal melalui pengalaman belajar yang terhubung dengan kehidupan nyata, bukan hanya capaian nilai semata.
Pelajaran yang lebih kuat terkait hubungan pendidikan dan dunia kerja diperoleh di Seoul Tourism High School. Sekolah khusus ini memiliki bidang kuliner, manajemen kafe, pelayanan pariwisata, bahasa asing, analisis data, pelayanan hotel, barista, pelayanan penerbangan, dan manajemen perjalanan. Para siswa tidak berhenti pada teori, tetapi dibimbing dalam lingkungan yang menyerupai tempat kerja serta diarahkan pada jalur sertifikasi dan karier.
Bagi Erwin, pengalaman tersebut menegaskan bahwa kemitraan industri tidak cukup diwujudkan lewat penandatanganan nota kesepahaman. Dunia usaha perlu benar-benar masuk ke dalam ekosistem sekolah, mulai dari penyusunan kurikulum, penyediaan guru tamu, praktik kerja, sertifikasi kompetensi, hingga evaluasi lulusan. Prinsip itu dinilainya sangat penting bagi pengembangan sekolah kejuruan Muhammadiyah.
Selain mengunjungi sekolah, delegasi mendatangi Oeam Folk Village di Asan yang telah berkembang selama lebih dari lima abad. Di lokasi itu, delegasi melihat bagaimana rumah tradisional, tata kehidupan agraris, kuliner, permainan, dan warisan masyarakat Joseon dipertahankan sebagai ruang belajar hidup. Erwin menilai pengalaman tersebut menunjukkan bahwa pendidikan sejarah dan budaya menjadi lebih kuat ketika peserta didik dapat berinteraksi langsung dengan objek dan praktik kebudayaan.
Pelajaran serupa hadir dalam kunjungan ke Benteng Hwaseong dan Yeonmudae di Suwon, kawasan warisan dunia UNESCO yang juga menghadirkan pembelajaran sejarah melalui praktik seperti memanah tradisional. Delegasi juga melihat Gyeongbokgung, istana utama Dinasti Joseon, yang memperlihatkan bagaimana identitas nasional, sejarah, dan kebudayaan dapat dirawat bersamaan dengan kemajuan teknologi modern.
Erwin menilai Korea Selatan memberi contoh bahwa negara maju tidak meninggalkan akar budayanya. Bagi pendidikan Muhammadiyah, pelajaran itu penting karena modernisasi sekolah harus tetap berjalan seiring dengan penguatan nilai, karakter, dan identitas Islam Berkemajuan.
Aspek pembelajaran berbasis pengalaman juga terlihat di Samsung Fire Mobility Museum, Everland, MBC Academy, Hyundai Motorstudio Goyang, dan Byeolmadang Library di Starfield Suwon. Tempat-tempat ini menunjukkan bahwa museum, perpustakaan terbuka, ruang hiburan, pusat teknologi, dan industri dapat diolah menjadi laboratorium pembelajaran yang kaya, terstruktur, dan dekat dengan minat peserta didik.
Menurut Erwin, kekuatan model pendidikan yang dipelajari selama kunjungan itu terletak pada keterhubungan antara ruang kelas, bakat siswa, budaya, teknologi, dan dunia profesi. Ia menegaskan bahwa yang perlu dibawa pulang bukan bangunan fisiknya, melainkan cara berpikirnya: sekolah harus memahami potensi murid, menetapkan keunggulan yang jelas, membuka ruang praktik, dan membangun hubungan nyata dengan masyarakat serta dunia kerja.
Ia mengingatkan bahwa sekolah Muhammadiyah di Sulawesi Selatan tidak perlu meniru model Korea secara mentah. Setiap praktik harus disesuaikan dengan kondisi daerah, kebutuhan peserta didik, potensi sosial-ekonomi setempat, dan nilai Islam Berkemajuan yang menjadi dasar gerakan pendidikan Muhammadiyah.
Sebagai tindak lanjut, Erwin mendorong penguatan pemetaan bakat siswa, pengembangan sekolah dengan keunggulan khas, pembelajaran STEM berbasis proyek, peningkatan kerja sama internasional, pelibatan praktisi, penguatan sekolah vokasi, serta pemanfaatan museum, situs budaya, perusahaan, dan ruang publik sebagai media belajar.
Arah tersebut, menurutnya, sejalan dengan agenda Muhammadiyah yang kini sedang memperkuat budaya mutu, internasionalisasi, pembelajaran bilingual, program MIPA, dan pendidikan karakter berbasis Al-Islam dan Kemuhammadiyahan. Dengan pengelolaan yang lebih terarah, kunjungan belajar ini diharapkan tidak berhenti sebagai catatan perjalanan, tetapi menjadi referensi konkret bagi pembaruan sekolah Muhammadiyah di Sulawesi Selatan.
Sumber: Khittah.co
Artikel ini dipublikasikan di muhammadiyahsulsel.or.id. Bagikan untuk menyebarkan kebaikan.





