Kesehatan Reproduksi Perempuan: Amanah Ilahi dan Ibadah Sepanjang Hidup

MUHAMMADIYAHSULSEL.OR.ID - YOGYAKARTA, 13 Juli
Guru Besar Kebidanan Universitas 'Aisyiyah Yogyakarta, Musdalifah, mengingatkan bahwa kesehatan reproduksi tidak hanya sebatas fungsi biologis, melainkan sebuah amanah spiritual yang wajib dipelihara sebagai wujud pengabdian kepada Allah SWT. Pernyataan ini disampaikannya dalam program podcast Indahnya Cahaya Islam pada Senin (13/07).
Musdalifah menyoroti berbagai permasalahan kesehatan reproduksi yang kini marak di tengah masyarakat, khususnya peningkatan perilaku berisiko pada kalangan remaja. Kondisi ini seringkali berujung pada kehamilan yang tidak direncanakan dan tindakan aborsi, mengindikasikan bahwa banyak perempuan belum sepenuhnya memahami keistimewaan tubuh yang dianugerahkan Tuhan.
“Secara fisik perempuan itu kadang kala melupakan apa yang menjadi keunikan dan keistimewaan Allah menciptakan secara kodrat, mulai dari siklus menstruasi, kesiapan hamil, menyusui, memilih pasangan, hingga menjalankan hubungan suami istri dalam pola yang sehat,” ujarnya.
Ia menjelaskan bahwa pemeliharaan kesehatan reproduksi merupakan sebuah perjalanan panjang yang bermula sejak masa remaja. Setiap perempuan dituntut untuk memahami perubahan biologis tubuhnya, mempersiapkan diri untuk kehidupan berkeluarga, dan pada akhirnya, mampu mendidik serta mengasuh anak sebagai penerus generasi.
Tanggung jawab ini, lanjut Musdalifah, tidak berhenti setelah seorang perempuan melahirkan. Menyusui anak, misalnya, adalah amanah yang memiliki dimensi keagamaan sekaligus tanggung jawab sosial yang mendalam.
“Seorang ibu punya amanah untuk harus menyusui. Bagaimana tanggung jawab itu diberikan kepada anaknya melalui ASI, itu adalah amanah,” katanya.
Dalam pandangan Islam, seluruh tahapan reproduksi telah diatur dengan panduan yang jelas. Al-Qur’an, termasuk Surah Al-Baqarah ayat 233, menyediakan tuntunan komprehensif mengenai kehamilan, persalinan, hingga proses menyusui, serta tanggung jawab orang tua dalam membesarkan anak.
Musdalifah menegaskan bahwa Islam menganggap seluruh proses ini sebagai bagian dari ibadah. Oleh karena itu, perempuan seharusnya tidak memandang menstruasi, kehamilan, persalinan, atau menyusui hanya sebagai rutinitas biologis, melainkan sebagai bentuk penghambaan kepada Allah.
“Kadang-kadang perempuan lupa bahwa apa yang dilakukan dalam menjalankan kodratnya itu adalah ibadah. Selain sebagai kewajiban dan tanggung jawab, di dalamnya ada nilai ibadah,” tuturnya.
Ia mengidentifikasi tantangan utama saat ini adalah kecenderungan masyarakat yang semakin menjauh dari nilai-nilai agama. Gaya hidup materialistis dan hedonistis menyebabkan banyak individu hanya melihat persoalan reproduksi dari aspek fisik, sementara dimensi spiritualnya terabaikan.
Oleh karena itu, Musdalifah mendorong keluarga, khususnya orang tua, untuk memberikan edukasi reproduksi sejak dini, disesuaikan dengan tahapan perkembangan anak. Pendidikan ini mencakup pemahaman tentang menstruasi pertama, kemudian berlanjut ke kehamilan, persalinan, masa nifas, hingga menyusui.
“Orang tua harus mengajarkan pendidikan tentang menstruasi, kemudian saat seorang ibu mendapatkan amanah hamil, melalui persalinan, masa nifas, hingga menyusui. Semua itu adalah amanah yang harus dipelihara,” jelasnya.
Kesadaran ini, imbuhnya, sangat vital agar setiap perempuan memahami bahwa menjaga kesehatan reproduksi berarti turut menjaga kualitas generasi masa depan.
“Ingat selalu bahwa ketika saya memelihara anak saya, berarti generasi selanjutnya menjadi sebuah harapan,” ujarnya.
Selain itu, Musdalifah juga menyoroti pentingnya kesehatan mental perempuan. Berdasarkan pengalamannya mendampingi masyarakat, persoalan emosional seringkali menjadi rintangan terbesar bagi para ibu dalam menjalankan peran reproduksinya.
“Yang banyak menjadi persoalan adalah tingkat emosional seorang ibu. Kestabilan emosional dalam menghadapi persoalan itu harus ditata. Oleh karena itu, kesehatan mental menjadi pengaruh yang sangat besar,” ungkapnya.
Ia mengapresiasi berbagai inisiatif pemerintah dalam meningkatkan edukasi kesehatan reproduksi melalui fasilitas kesehatan dan media sosial. Namun, ia menekankan bahwa keberhasilan program-program tersebut pada akhirnya sangat bergantung pada kesiapan mental individu dalam membangun kehidupan keluarga yang harmonis.
Sebagai solusi fundamental, Musdalifah mengajak seluruh masyarakat untuk memperkuat ikatan dengan Allah. Baginya, keimanan adalah fondasi utama untuk menjaga kesehatan mental dan menjalankan amanah kehidupan dengan baik.
“Kalau saya kembali kepada siapa yang menciptakan kita. Manusia harus ingat kepada Tuhannya dan meningkatkan keimanannya. Saya kira itu sesuatu yang harus dikuatkan,” katanya.
Mengakhiri diskusinya, Musdalifah berpesan agar setiap keluarga menjadikan iman, takwa, dan rasa syukur sebagai landasan dalam menjalani setiap aspek kehidupan. Seluruh amanah dari Allah, termasuk pemeliharaan tubuh dan kesehatan reproduksi, perlu dilaksanakan dengan penuh tanggung jawab, bukan untuk mengharapkan balasan, melainkan sebagai bentuk pengabdian tulus kepada-Nya.
“Kehidupan ini harus dijalankan dengan nilai-nilai keimanan dan ketakwaan. Apa pun yang terjadi pada diri kita, kita syukuri dan kita jalani sebagai proses menjadi hamba Allah yang berusaha menjalankan tuntunan-Nya dengan sebaik-baiknya,” pungkasnya.
Sumber: Muhammadiyah.or.id
Artikel ini dipublikasikan di muhammadiyahsulsel.or.id. Bagikan untuk menyebarkan kebaikan.





