Haedar Nashir Paparkan Lima Fondasi Penting bagi Kemajuan PTMA di Tengah Persaingan Global

MUHAMMADIYAHSULSEL.OR.ID - YOGYAKARTA, 28 Mei 2024 - Ketua Umum Pimpinan Pusat Muhammadiyah, Haedar Nashir, menggarisbawahi urgensi visi strategis yang tajam dan selaras bagi para pemimpin Perguruan Tinggi Muhammadiyah 'Aisyiyah (PTMA). Hal ini disampaikan dalam Leadership Training (LT) Angkatan XII yang diikuti oleh para rektor dan wakil rektor PTMA pada Senin malam, 13 Juli.
Haedar menekankan bahwa seorang pemimpin kampus harus mampu memilah prioritas secara cermat antara agenda operasional sehari-hari dengan agenda strategis yang berorientasi jangka panjang. Ketepatan dalam penetapan prioritas ini, menurutnya, merupakan kunci akselerasi kemajuan PTMA di tengah lanskap persaingan global yang semakin kompetitif. Dalam konteks visi strategis tersebut, Haedar menguraikan lima pilar utama yang perlu diinternalisasi oleh seluruh jajaran pimpinan PTMA.
Pilar pertama adalah penguatan konsep dan norma gerakan. Haedar menegaskan bahwa pembangunan perguruan tinggi harus didasarkan pada fondasi konseptual yang kokoh, termasuk upaya untuk menghadirkan branding khas yang berbasis pada nilai-nilai Risalah Islam Berkemajuan. “Bukan Al-Islam dan Kemuhammadiyahan yang semata hanya sebagai knowledge, tapi juga sebagai value yang melahirkan sikap dan orientasi tindakan,” ujar Haedar.
Pilar kedua berfokus pada pembenahan organisasi dan kepemimpinan. Dalam hal ini, Haedar mendorong adanya transformasi etos kerja dari pola birokratis menuju etos swasta yang bercirikan kemandirian dan daya juang tinggi. Ia menjelaskan, “Apa etos swasta itu? Mandiri, hemat, standar for life-nya tinggi.”
Selanjutnya, pilar ketiga adalah perluasan jaringan (networking). Haedar menilai bahwa kolaborasi merupakan kekuatan fundamental dalam menghadapi kompleksitas tantangan modern. Ia juga mengingatkan pentingnya membangun sinergi yang erat antara PTMA dengan struktur persyarikatan. “Kunci networking adalah kolaborasi, networking yang kuat juga akan melahirkan hegemoni. Jadi silahkan nanti networking-nya antara yang besar dengan yang kecil,” jelas Haedar. Ia menambahkan, “Yang besar enggak bisa hidup sendirian. Begitupun yang kecil juga tidak bisa dengan melestarikan kekecilannya terus.”
Pilar keempat berkaitan dengan sumber daya. Dalam poin ini, Haedar mendorong pengembangan sumber daya melalui berbagai upaya, termasuk peningkatan kualitas dosen dengan dukungan program belajar. Ia menegaskan bahwa pimpinan kampus harus senantiasa menjadi motor penggerak peningkatan kualitas dosen, sekaligus mengembangkan unit bisnis yang profesional.
Terakhir, pilar kelima adalah komitmen terhadap keunggulan kampus. Haedar menegaskan bahwa keunggulan merupakan komitmen kolektif yang harus diwujudkan dalam kualitas lulusan yang siap bersaing di dunia kerja. “Jadi harus membangun keunggulan, karena Muhammadiyah ini pertaruhannya di situ. Universitas kita harus unggul agar menjadi daya saing sekaligus diminati masyarakat,” tekannya. Ia melanjutkan, “Kan sekarang ini masyarakat itu berharap kalau kuliah bisa langsung bekerja. Nah ini bisa diulik dengan keras bagaimana PTMA bisa menyiapkan lulusannya untuk siap kerja. Itu hal yang bagus.”
Di akhir paparannya, Haedar mengajak seluruh pimpinan PTMA untuk menjadi pemimpin yang memiliki visi jauh ke depan, mampu membaca perubahan zaman, serta berani mengambil keputusan strategis demi kemajuan institusi. Menurutnya, kepemimpinan yang visioner tidak hanya mengelola keadaan yang ada, tetapi juga menghadirkan arah baru (Show the way) yang membawa perubahan dan kemajuan signifikan. Ia berharap Leadership Training ini dapat menjadi wadah konsolidasi bagi para pimpinan PTMA untuk memperkuat kapasitas kepemimpinan, memperluas kolaborasi, serta menyatukan langkah dalam mewujudkan PTMA yang unggul, berdaya saing global, dan tetap berakar kuat pada nilai-nilai Islam Berkemajuan.
Sumber: Muhammadiyah.or.id
Artikel ini dipublikasikan di muhammadiyahsulsel.or.id. Bagikan untuk menyebarkan kebaikan.





